Pfizer dan GSK sepakat menggabungkan unit usaha OTC mereka

Dua perusahaan farmasi raksasa dunia, Pfizer dan GSK (GlaxoSmithKline) dikabarkan sepakat untuk menggabungkan unit usaha mereka dibidang consumer health care untuk produk-produk OTC (over-the-counter). GSK akan memegang 68% saham, sedangkan sisanya sebesar 32% dipegang oleh Pfizer. Berdasarkan hasil penjualan tahun lalu (2017), jika digabungkan maka total hasil penjualan mereka di seluruh dunia mencapai sekira 12,7 miliar dollar.

Menurut CEO Pfizer, Ian Read, pihaknya sangat senang dengan kerjasama ini dan dengan melihat kerjasama sebelumnya yang sudah pernah terjadi, pihaknya optimis untuk meraih kesuksesan di tahun-tahun mendatang. Keputusan Pfizer untuk bekerja sama dengan GSK kemungkinan menjadi strategi besar yang dilakukan oleh CEO mereka, Ian Read, setelah empat tahun sebelumnya gagal mengakuisisi AstraZeneca.

Pfizer diketahui menjadi salah satu pesaing utama GSK di pasar produk OTC dunia. Dengan adanya kerja sama patungan ini maka GSK akan memperkuat eksistensi produk mereka dalam satu unit usaha bersama. Produk-produk yang masuk dalam jajaran OTC antara lain pereda nyeri ringan, pasta gigi, obat-obat demam dan flu, vitamin, suplemen makanan, dan produk-produk lain yang intinya bisa dibeli dan digunakan tanpa resep dokter. Beberapa merek terkenal dari produk-produk OTC Pfizer seperti Advil, Centrum, Caltrate akan bergabung dalam lini usaha produk-produk OTC GSK seperti Sensodyne, Nicorette, Excedrin, dan lain-lain.

CEO GSK, Emma Walmsley yang mulai menjabat sejak April 2017, mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan tingkat penjualan perusahaan yang dianggap kurang memuaskan oleh investor besarnya. Dan apa yang dilakukan oleh Walmsley sejauh ini cukup baik, terlebih dengan adanya usaha patungan dengan Pfizer ini. Sebelumnya pada bulan Maret lalu, GSK sudah mengambil alih kendali perusahaan patungan dengan Novartis senilai 13 miliar dollar. GSK juga mengakuisisi Tesaro, suatu perusahaan farmasi dan bioteknologi yang berfokus pada obat-obatan kanker. Salah satu trategi Walmsley adalah mengembalikan fokus perusahaan pada pengembangan dan komersialisasi produk-produk obat baru yang menguntungkan.

Dengan pembagian saham yang disepakati (32% Pfizer, dan 68% GSK) maka sebagai pemegang saham mayoritas, GSK berencana akan memisahkan divisi unit usaha bersama ini dalam waktu tiga tahun kedepan untuk kemudian didaftarkan pada daftar bursa saham Inggris. Unit usaha lain seperti produk obat resep dan vaksin akan tetap dipegang oleh masing-masing pemegang saham.

Dengan adanya unit usaha bersama ini membuatnya menjadi penyedia produk-produk OTC terbesar di dunia dengan pangsa pasar sebesar 7,3 persen, mengungguli, Johnson & Johnson, Bayer AG, dan Sanofi.

Daftar pustaka:

[bg_collapse view=”button-blue” color=”#fff” expand_text=”Show ” collapse_text=”Hide” ]

  • Pfizer, Glaxo agree to create OTC giant. https://www.pharmacist.com/article/pfizer-glaxo-agree-create-otc-giant. Diakses 21 Desember 2017
  • GlaxoSmithKline and Pfizer to Merge Consumer Health Units. https://www.nytimes.com/2018/12/19/business/gsk-pfizer-consumer-healthcare.html. Diakses 21 Desember 2017
  • Pfizer and GlaxoSmithKline Announce Joint Venture to Create a Premier Global Consumer Healthcare Company. https://www.businesswire.com/news/home/20181218005970/en/Pfizer-GlaxoSmithKline-Announce-Joint-Venture-Create-Premier. Diakses 21 Desember 2017
  • GlaxoSmithKline to break up after striking Pfizer joint venture. https://www.ft.com/content/3681be02-035d-11e9-9d01-cd4d49afbbe3. Diakses 21 Desember 2017
  • Glaxo to Split in Two Following Venture Deal with Pfizer. http://fortune.com/2018/12/19/glaxo-split-pfizer-deal/. Diakses 21 Desember 2017

[/bg_collapse]

Sekilas Tentang Pfizer
Pfizer merupakan perusahaan farmasi besar asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Charles Pfizer dan sepupunya, Charles F. Erhart. Perusahaan ini memiliki kantor pusat di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Awalnya Pfizer memproduksi produk santonin, suatu produk antiparasit yang dihasilkan dari asam sitrat. Produk tersebut sukses dipasaran dan seiring dengan kesuksesan ini, Pfizer lantas memperluas area produksinya dengan membeli tanah dan bangunan di sekitar Harrison Avenue dan Bartlett Street. Area tersebut digunakan sebagai lokasi produksi dan laboratorium.

Tingkat penjualan perusahaan semakin meninggkat sehingga ditahun 1906, angka penjualan mencapai 3,4 juta dollar. Perang Dunia I membuat Pfizer harus memutar otak untuk mencari suplier kalsium sitrat sebagai bahan baku asam sitrat yang biasanya diimpor dari Italia. Ilmuwan di laboratorium Pfizer kemudian melakukan serangkaian penelitian dan uji coba dan mereka menemukan bahwa ada suatu jenis jamur dapat memfermentasi gula menjadi asam sitrat, kemudian mereka mengkomersialisasikan penemuan itu dan menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat mulai tahun 1919. Karena keberhasilan itulah maka, ilmuwan Pfizer melakukan penelitian lebih lanjut mengenai teknik fermentasi.

Selama Perang Dunia II, permintaan penisilin meningkat dan teknik fermentasi yang dikembangkan ilmuwan Pfizer digunakan untuk produksi masal penisilin untuk perawatan luka para tentara akibat perang. Harga penislin mengalami penurunan pada 1940 dan perusahaan mencari jenis antibiotik baru yang bisa menghasilkan keuntungan lebih banyak. Mereka kemudian menemukan oxytetracycline pada 1950 yang diberi nama brand Terramycin. Sejak saat itulah, Pfizer mulai masuk dalam industri farmasi berbasis riset. Perusahaan ini kemudian membuka cabangnya di berbagai negara seperti Belgia, Brazil, Canada, Kuba, Inggris, dan negara lainnya. Di tahun 1980 mereka meluncurkan produk piroxicam yang diberi nama brand Feldene. Beberapa produk terkenal yang dikembangkan dipasarkan oleh Pfizer antara lain Zoloft, Lipitor, Norvasc, Zithromax, Aricept, Diflucan, dan lain-lain.

Pada periode tahun 2000 hingga 2010, Pfizer melakukan serangkaian proses merger dan akuisisi. Proses merger dilakukan dengan Warner-Lambert (perusahaan farmasi Amerika Serikat), Pharmacia (perusahaan farmasi gabungan Swedia-Amerika Serikat), dan Wyeth (perusahaan farmasi Amerika Serikat). Di tahun 2003, Pfizer mengakuisisi Espiron Therapeutics, dilanjutkan dengan akuisisi Meridica, Vicuron Pharmaceutical, Angiosyn, dan beberapa perusahaan lainnya.

Pada 2006, Pfizer menjual divisi produk OTC-nya pada Johnson & Johnson. Produk OTC yang dihasilkan oleh divisi ini seperti Listerine, Nicorette, Visine, dan lain-lain. Diakhir tahun 2018, Pfizer mengumumkan bahwa mereka berencana melakukan merger dengan GlaxoSmithKline, khusus pada divisi produk Consumer Health.

Di Indonesia, Pfizer membuka cabang perusahaannya dengan nama PT. Pfizer Indonesia dan kantor pusatnya ada di Wisma GKBI, lantai 10, Jakarta.