Aminophenazone

By | Juli 7, 2019 | Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Analgesik (Non Opiat) & Antipiretik > Aminophenazone

Nama Lain

Aminopyrine, amidopyrine, pyramidon, dipyrine, dimethylaminoantipyrine, dimethylaminoazophene.

Deskripsi

Aminophenazone merupakan germisida A-C, agen antiinflamasi yang memiliki efek sedasi dan antikonvulsan yang digunakan untuk meredakan gejala yang berhubungan dengan demam, kejang, mual, dan muntah. Obat ini pertama kali disintesa oleh Friedrich Stolz dan Ludwig Knorr pada akhir abad ke-19 dan pertama kali dipasarkan dengan nama Pyramidon oleh Hoechst AG pada 1897 hingga akhirnya diganti dengan molekul propyphenazone yang lebih aman untuk digunakan.

Farmakokinetik

Aminophenazone ini dimetabolisme oleh demetilasi dan asetilasi. Metabolit aminophenazone adalah 4-aminoantipyrine, metilaminoantipirin, rubazonovaya dan asam metilrubazonovaya. Metabolit-metabolit tadi memiliki warna kemerahan. Karena pada urin dijumpai metabolit ini, maka akan mempengaruhi warna urin menjadi coklat kemerahan.

Kontraindikasi Aminophenazone

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Aminophenazone dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Aminophenazone dikontraindikasikan penggunaannya pada pasien dengan kondisi berikut ini:

  • Pasien yang sedang mengalami atau memiliki riwayat porfiria atau penyakit metabolik lainnya
  • Pasien yang memiliki riwayat alergi atau hipersensitif terhadap obat-obatan OAINS turunan pyrazolone atau preparat barbiturat lainnya
  • Pasien dengan jumlah sel darah putih rendah
  • Pasien dengan gangguan kelenjar adrenal
  • Diare

Efek Samping Aminophenazone

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian Aminophenazone:

Efek samping yang mungkin saja dapat terjadi akibat penggunaan aminophenazone seperti:

  • Kesulitan menelan atau bernapas, bibir atau mulut mengalami pembengkakan
  • Pingsan atau mual
  • Reaksi alergi (hipersensitivitas)
  • Terjadi infeksi pada mulut, hidung, rektum, area genital, demam tinggi, menggigil, penurunan jumlah sel darah putih
  • Mengantuk, pusing, kehilangan keseimbangan tubuh dan kesulitan berjalan, penurunan suhu tubuh, muncul rasa gelisah, penurunan nafsu makan, ruam pada kulit, penurunan tekanan darah, peningkatan detak jantung, sakit perut hebat
  • Berpotensi fatal: agranulositosis

Jika kondisi yang serius terjadi, segera cari pertolongan medis terdekat.

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Aminophenazone

  • Hati-hati penggunaan obat ini pada perokok
  • Pasien dengan riwayat alergi atau hipersensitif terhadap aminophenazone berisiko mengalami syok anafilaksis
  • Penderita gangguan hati
  • Penderita gangguan jantung
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Berpotensi karsinogen
  • Lansia

Kategori Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil dan Menyusui

Belum diketahui dengan pasti apakah aminophenazone aman untuk digunakan oleh wanita hamil. Diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter dan tenaga kesehatan profesional.

Belum diketahui dengan pasti apakah aminophenazone diekresikan ke dalam ASI. Konsultasikan terlebih dahulu sebelum diterapi dengan obat ini.

Dosis dan Aturan Pakai Aminophenazone

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Aminophenazone:

Hanya dapat digunakan atas resep dokter.

Nama Brand Aminophenazone

Antineuralgica (kombinasi dengan caffeine dan phenacetin), Demalgon (kombinasi dengan carbromal), Flumil (kombinasi dengan buphenine dan diphenylpyraline), Germicid, Germicid-C (kombinasi dengan phenobarbital), Virdex (kombinasi dengan ergotamine dan caffeine).

Tags: aminophenazone itu obat apa,aminophenazone obat untuk apa
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Aminophenazone Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Aminophenazone, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Aminophenazone?

Jika Anda lupa menggunakan Aminophenazone, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Aminophenazone Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Aminophenazone?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Aminophenazone yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Tentang Obat Analgesik (Non Opiat) & Antipiretik
Analgesik adalah obat yang digunakan untuk meredakan rasa sakit atau nyeri. Analgesik ada beberapa tipe diantaranya analgesik non opiat (non opioid) yang bisa digunakan tanpa resep dokter dan analgesik opioid yang penggunaannya harus menggunakan resep dokter karena efek sampingnya lebih besar. Analgesik non opioid contohnya seperti paracetamol (acetamonophen) dan ibuprofen. Sedangkan yang termasuk analgesik opioid contohnya morphine dan oxycodone.

Analgesik non opioid biasanya digunakan untuk meredakan berbagai macam nyeri seperti pada arthritis, migrain, nyeri haid, dan kondisi lainnya berdasarkan tingkat sakit dan nyerinya. Dokter akan menggunakan analgesik opioid jika nyeri yang terjadi berada pada tingkat akut seperti pada pembedahan dan patah tulang. Penggunaan analgesik opioid sangat dibatasi hanya untuk kondisi tertentu karena dapat menimbulkan risiko adiksi dan penyalahgunaan.

Selain dengan pemberian oral dan injeksi, ada juga analgesik yang diterapkan langsung pada kulit dan analgesik ini disebut analgesik topikal. Biasanya analgesik topikal ini digunakan untuk meredakan nyeri otot dan keseleo.

Antipiretik adalah obat yang berfungsi menurunkan demam. Antipiretik akan menurunkan panas demam akibat hipotalamus yang diinduksi oleh prostaglandin. Antipiretik yang banyak digunakan di dunia adalah paracetamol, ibuprofen, dan aspirin yang termasuk dalam obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Selain sebagai antipiretik, obat-obat tadi juga memiliki efek analgesik untuk meredakan nyeri yang menyertainya.
sekilas tentang Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) adalah kelas obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, mengurangi demam, mencegah pembekuan darah dan, dalam dosis yang lebih tinggi, mengurangi peradangan. Istilah nonsteroid membedakan obat ini dari steroid, walaupun memiliki efek antiinflamasi eicosanoid yang serupa dan memiliki berbagai efek lainnya. OAINS pertama kali digunakan pada tahun 1960, istilah ini digunakan untuk menjauhkan obat-obatan ini dari steroid, yang pada saat steroid distigma negatif akibat penyalahgunaan steroid anabolik. OAINS bekerja dengan menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX-1 dan / atau COX-2). Dalam sel, enzim-enzim ini terlibat dalam sintesis mediator biologis utama, yaitu prostaglandin yang terlibat dalam peradangan, dan tromboksan yang terlibat dalam pembekuan darah.

Ada dua jenis OAINS yang tersedia yaitu non-selektif dan COX-2 selektif. Sebagian besar OAINS bersifat non-selektif, dan menghambat aktivitas COX-1 dan COX-2. OAINS ini selain mengurangi peradangan, juga menghambat agregasi trombosit (terutama aspirin) dan meningkatkan risiko ulkus/perdarahan gastrointestinal. Inhibitor selektif COX-2 memiliki lebih sedikit efek samping gastrointestinal, tetapi meningkatkan trombosis dan secara substansial meningkatkan risiko serangan jantung. Akibatnya, inhibitor selektif COX-2 umumnya dikontraindikasikan karena risiko tinggi penyakit vaskular yang tidak terdiagnosis. Efek diferensial ini disebabkan oleh peran dan lokalisasi jaringan yang berbeda dari masing-masing isoenzim COX. Dengan menghambat aktivitas COX fisiologis, semua OAINS meningkatkan risiko penyakit ginjal dan serangan jantung.

OAINS yang paling dikenal adalah aspirin, ibuprofen, dan naproxen, semuanya tersedia secara bebas di sebagian besar negara. Paracetamol (acetaminophen) umumnya tidak dianggap sebagai OAINS karena hanya memiliki aktivitas anti-inflamasi kecil. Paracetamol mengobati rasa sakit terutama dengan memblokir COX-2, sebagian besar di sistem saraf pusat, tetapi tidak banyak di seluruh tubuh. Efek samping OAINS tergantung pada spesifik obat, tetapi sebagian besar mencakup peningkatan risiko ulkus dan perdarahan gastrointestinal, serangan jantung dan penyakit ginjal.
Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2019, 11 Juni). Aminophenazone. Diakses pada 7 Juni 2020, dari https://www.farmasi-id.com/aminophenazone/


Format MLA (Modern Language Association)

"Aminophenazone". Farmasi-id.com. 11 Juni 2019. 7 Juni 2020. https://www.farmasi-id.com/aminophenazone/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Aminophenazone", 11 Juni 2019, <https://www.farmasi-id.com/aminophenazone/> [Diakses pada 7 Juni 2020]


Bagikan ke Rekan Anda