SCOPMA/SCOPMA PLUS

Farmasi-id.com > Sistem Gastrointestinal & Hepatobilier > Antipasmodik > SCOPMA/SCOPMA PLUS

By | 08/08/2018

Produsen:

Ifars.

Komposisi:

Per Scopma kapl Hyoscine-N-butylbromide. Per Scopma Plus kapl Hyoscine-N-butylbromide 10 mg, paracetamol 500 mg.

Indikasi:

Scopma: Spasme saluran GI & kemih kelamin. Pencegahan & penanganan spasme dismenore. Scopma Plus: Nyeri paroksismal lambung atau penyakit usus halus; nyeri spastik saluran empedu, saluran kemih, & organ genital pada wanita.

Dosis:

Scopma Dws 1-2 kapl 4 x/hari, anak 6-12 tahun 1 kapl 3 x/hari. Scopma Plus Dws 1-2 kapl 3 x/hari. Maks: 6 kapl/hari.

Pemberian Obat:

Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Kontra Indikasi:

Porfiria, glaukoma, hipertrofi prostat dengan kecenderungan retensi urin, stenosis mekanis pada GI, takikardi, megakolon. Gangguan fungsi hati (utk Scopma Plus).

Perhatian:

Gangguan fungsi ginjal, sindrom Gilbert. Hamil, laktasi. Lansia, gangguan jantung, kolitis ulseratif, ileus paralitik, stenosis pilorik. Hindari minuman beralkohol.

Efek Samping:

Kekeringan pada mulut & kulit, konstipasi, palpitasi, semburat panas & kemerahan pada wajah, aritmia jantung, bradikardi, takikardi, reaksi paradoksikal, gangguan penglihatan. Kerusakan hati (pada pemberian Scopma Plus dosis besar).

Interaksi Obat:

Scopma: Antihistamin, antidepresan, kuinidin, disopiramid, alkohol, antidepresan, analgesik narkotik, sedatif/hipnotik, Kalium klorida.Scopma Plus: Obat hipnotik, anti epilepsi (glutetimid, fenobarbital, fenitoin, karbamazepin), rifampisin, alkohol, propantelin, metoklopramid, kloramfenikol.

Kemasan/Harga:

VarianKemasan/Harga
Scopma kaplet 10 mg
10 × 10’s (Rp104,016/boks)
Scopma Plus kapsul let
100’s (Rp122,496/boks)

Keamanan kehamilan US FDKategori A: C

Sekilas Tentang Paracetamol

Paracetamol yang dikenal juga dengan nama acetaminophen pertama kali disintesa oleh Harmon Northrop Morse, seorang ahli kimia pada tahun 1877, namun baru diujicoba pada manusia pada tahun 1887 oleh ahli farmakologi klinis, Joseph von Mering. Tahun 1893 von Mering mempublikasikannya dalam laporan klinis mengenai paracetamol.

WHO menyatakan bahwa paracetamol masuk dalam daftar salah satu obat yang paling aman dan efektif dan sangat dibutuhkan dalam dunia medis. Paracetamol digunakan sebagai analgetic (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam) yang bisa diperoleh tanpa resep dokter. Meskipun paracetamol memiliki efek anti inflamasi, obat ini tidak dimasukkan sebagai obat NSAID, karena efek anti inflamasinya dianggap tidak signifikan.

Cara kerja paracetamol yang diketahui sekarang adalah dengan cara menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX). Enzim ini berperan pada pembentukan prostaglandin yaitu senyawa penyebab nyeri. Dengan dihambatnya kerja enzim COX, maka jumlah prostaglandin pada sistem saraf pusat menjadi berkurang sehingga respon tubuh terhadap nyeri berkurang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan cara menurunkan hipotalamus set-point di pusat pengendali suhu tubuh di otak.

Dosis maksimal paracetamol adalah 3 hingga 4 gr dalam sehari. Jika lebih dari itu maka berpotensi menyebabkan kerusakan hati. Penderita gangguan hati disarankan untuk mengurangi dosis paracetamol.

Sekilas Tentang Hyoscine Butylbromide

Hyoscine butylbromide atau scopolamine butylbromide adalah obat yang digunkan untuk terapi kram perut, kekejangan esofagus, kolik ginjal, kekejangan kandung kemih, dan lain-lain. Obat ini juga digunakan untuk mengatasi gejala sindrom iritasi usus besar, kondisi usus yang umum yang menyebabkan kejang dan nyeri di usus, serta sakit perut, diare persisten (terkadang bergantian dengan periode sembelit) dan perut kembung.

Hyoscine butylbromide bekerja dengan merelaksasi otot yang ada pada dinding perut, usus, saluran empedu, dan saluran kemih. Otot-otot tadi adalah otot polos atau otot tak sadar yang biasanya akan berkontraksi dan rileks sebagai respon terhadap neurotransmiter. Kontraksi ini tidak berada dibawah kendali sadar manusia bahkan terkadang kita tidak menyadarinya. Namun ketika otot polos ini mengalami kontraksi atau kejang, maka akan terasa sakit. Hyoscine menghentikan kejang pada otot polos dengan mencegah asetilkolin agar tidak bekerja pada otot. Hal ini dilakukan dengan menghalangi reseptor pada sel otot yang biasanya dilakukan oleh asetilkolin. Dengan mencegah asetilkolin agar tidak bekerja pada otot di saluran GI dan GU, hyoscine mengurangi kontraksi otot. Hal ini memungkinkan otot untuk rileks dan mengurangi kejang dan kram yang menyakitkan.

Hyoscine butylbromide dipatenkan pada tahun 1950 dan baru digunakan oleh dunia medis pada tahun 1951. Oleh FDA, keamanan penggunaan obat ini dimasukkan dalam kategori C.

Sekilas Tentang Obat Antipasmodik

Antispasmodik (spasmolitik) adalah obat yang dapat menekan kejang otot. Antispasmodik digunakan untuk relaksasi otot polos, terutama pada organ tubular saluran pencernaan. Efeknya adalah mencegah kejang pada lambung, usus atau kandung kemih. Baik dicyclomine dan hyoscyamine bersifat antispasmodik karena kerja antikolinergiknya. Kedua obat ini memiliki efek samping umum dan dapat memperburuk penyakit refluks gastroesofageal.

Antipasmodik dapat digunakan untuk kondisi muskuloskeletal akut ketika terapi fisik tidak tersedia atau belum sepenuhnya berhasil. Kelas antispasmodik lain untuk perawatan tersebut termasuk siklobenzaprine, karisoprodol, diazepam, orphenadrine, dan tizanidine. Efektivitas belum ditunjukkan dengan jelas untuk metaxalone, methocarbamol, chlorzoxazone, baclofen, atau dantrolene. Kondisi yang berlaku termasuk nyeri punggung atau leher akut, atau nyeri setelah cedera.

Kejang juga dapat terlihat pada gangguan gerakan yang menunjukkan spastisitas dalam kondisi neurologis seperti cerebral palsy, multiple sclerosis, dan penyakit sumsum tulang belakang. Obat-obatan biasanya digunakan untuk gangguan gerakan spastik, tetapi penelitian belum menunjukkan manfaat fungsional untuk beberapa obat. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa obat-obatan telah efektif dalam mengurangi spastisitas, tetapi tidak disertai dengan manfaat fungsional. Obat-obatan seperti baclofen, tizanidine, dan dantrolene telah digunakan untuk terapi ini.