Lamotrigine

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antikonvulsan > Lamotrigine

By | 10/05/2017

Deskripsi

Lamotrigine adalah obat yang digunakan tanpa atau dengan obat-obatan lain untuk mencegah dan mengontrol kejang. Obat ini juga dapat digunakan untuk membantu mencegah perubahan mood ekstrem atau gangguan bipolar pada orang dewasa.

Lamotrigine dikenal sebagai obat antikejang atau antiepileptik. Obat ini bekerja dengan mengembalikan keseimbangan dari substansi-substansi alami tertentu di dalam otak.

Dosis

Dewasa:

Dosis umum untuk dewasa dengan kejang prophylaxis

Ditambahkan pada rangkaian obat antiepilepsi yang mengandung Asam Valproat:

Minggu 1 dan 2: 25 mg setiap hari

Minggu 3 dan 4: 25 mg setiap hari

Weeks 3 and 4: 25 mg setiap hari

Dosis pemeliharaan: 100 – 400 mg/hari (terbagi dalam 1 atau 2 dosis). Untuk mencapai dosis pemeliharaan, dosis dapat ditingkatkan dari 25 hingga 50 mg/hari tiap 1 hingga 2 minggu. Dosis perawatan pada pasien yang menambahkan lamotrigine ke asam valproat berkisar antara 100 – 200 mg/hari.

Dosis untuk gangguan bipolar pada orang dewasa: pengobatan dengan lamotrigine didasarkan pada obat-obatan lain yang digunakan saat itu.

Anak-anak:

Dosis umum untuk anak dengan kejang prophylaxis

Ditambahkan pada terapi rangkaian obat antiepilepsi:
Anak-anak usia 2 hingga 12 tahun: formulasi immediate-releasse: (dosis hanya ditetapkan dengan tablet utuh): anak-anak usia 2 hingga 6 tahun mungkin akan memerlukan dosis perawatan di atas kisaran yang disarankan; pasien dengan berat bada kurang dari 30 kg dapat memerlukan peningkatan sebanyak 50% pada dosis perawatan, dibandingkan dengan pasien dengan berat badan lebih besar dari 30 kg; titrasi dosis untuk efek klinis.

Efek Samping

Segera hubungi dokter bila Anda mengalami:

  • tanda-tanda ruam kulit, seringan apapun
  • demam, kelenjar yang membengkak, nyeri pada tubuh, gejala flu, sakit kepala, kaku pada leher, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya
  • mudah lebam atau berdarah, kesemutan yang parah, mati rasa, nyeri, lemah otot
  • sakit di perut bagian atas, kehilangan nafsu makan, urin gelap, bercak kuning pada kulit atau mata (jaundice)
  • nyeri dada, ritme jantung yang tidak biasa, napas pendek
  • liinglung, mual dan muntah, pembengkakan, kenaikan berat badan dalam waktu singkat, lebih jarang buang air kecil dari biasa atau tidak sama sekali
  • kulit pucat, perasaan ringan pada kepala, sulit bernafas, denyut jantung cepat, kesulitan berkonsentrasi atau peningkatan frekuensi kejang atau gangguan bipolar yang semakin parah
  • tremor, pusing, dan lemas
  • penglihatan kabur, penglihatan ganda
  • kehilangan koordinasi
  • mulut kering, mual ringan, sakit perut
  • perubahan pada siklus menstruasi
  • nyeri punggung
  • masalah tidur (insomnia)
  • hidung beringus, sakit tenggorokan

Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil

Obat ini termasuk ke dalam risiko kehamilan kategori C menurut US Food and Drugs Administration (FDA), Lamotrigine dapat keluar melalui ASI dan dapat membahayakan bayi. Beri tahu dokter apabila Anda sedang menyusui.

Interaksi Obat

  • Carbamazepine
  • Ezogabine
  • Orlistat
  • Valproic Acid
  • Desogestrel
  • Dienogest
  • Drospirenone
  • Escitalopram
  • Estradiol
  • Estradiol Cypionate
  • Estradiol Valerate
  • Ethinyl Estradiol
  • Ethynodiol Diacetate
  • Etonogestrel
  • Ginkgo
  • Levonorgestrel
  • Lopinavir
  • Medroxyprogesterone Acetate
  • Mestranol
  • Methsuximide
  • Norelgestromin
  • Norethindrone
  • Norgestimate
  • Norgestrel
  • Oxcarbazepine
  • Phenobarbital
  • Primidone
  • Rifampin
  • Risperidone
  • Ritonavir
  • Rufinamide
  • Sertraline

Peringatan dan Perhatian

  • masalah darah atau tulang sumsum
  • depresi—dapat memperparah kondisi ini
  • penyakit jantung—belum jelas apabila kondisi pasien yang memiliki masalah dengan ritme jantung akan menjadi lebih buruk saat menggunakan lamotrigine
  • penyakit ginjal
  • penyakit hati—kadar lamotrigine dalam darah yang lebih tinggi dapat terjadi, meningkatkan kemungkinan efek yang tidak diinginkan; dokter mungkin akan mengganti dosis Anda
  • thalassemia—lamotrigine dapat menyebabkan tubuh Anda berhenti
  • memproduksi atau memproduksi lebih sedikit sel darah merah.

Kemasan dan Sediaan

Tablet, Oral: 25 mg, 100 mg, 150 mg, 200 mg

Cara Penyimpanan

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi. Jangan dibekukan. Merek lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda. Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila diinstruksikan. Buang produk ini bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi. Konsultasikan kepada apoteker atau perusahaan pembuangan limbah lokal mengenai bagaimana cara aman membuang produk Anda.

Nama Generik

Lamotrigine

Nama Brand

  1. Lamictal
  2. Lamiros
Sekilas Tentang Obat Antipsikotik

Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.

Sekilas Tentang Antikonvulsan
Antikonvulsan merupakan obat yang berfungsi mencegah, mengurangi, mengatasi serangan kejang.