Gabapentin Dexa Medica

Farmasi-id.com > Health > Gabapentin Dexa Medica

By | 07/11/2016

Kandungan dan Komposisi

Tiap kapsul GABAPENTIN mengandung:

Gabapentin 300 mg

Farmakologi

Semua aksi farmakologi setelah penggunaan gabapentin tergantung pada aktivitas komponen induk; gabapentin tidak secara bermakna dimetabolisme oleh tubuh manusia, tidak terikat pada protein plasma, tidak menginduksi aktivitas enzim hepatik, dan tidak mengubah farmakokinetika dari obat-obat antikonvulsan yang biasa digunakan (misalnya carbamazepine, phenytoin, valproate, phenobarbital, diazepam) atau kontrasepsi oral. Sebagai tambahan, farmakokinetika gabapentin pada dasarnya tidak berubah bila digunakan bersamaan dengan obat-obat antikonvulsan lain.

Farmakodinamika

Gabapentin secara struktural berhubungan dengan neurotransmitor aminobutyric acid (GABA), tetapi mekanisme kerjanya berbeda dengan beberapa obat yang berinteraksi dengan sinaps GABA. Identifikasi dan fungsi dari binding site gabapentin masih harus diuraikan dan relevansi berbagai aksinya terhadap efek antikonvulsan yang dihasilkan masih memerlukan pembuktian.

Farmakokinetika

Absorpsi

Rata-rata konsentrasi plasma gabapentin Cmaks tercapai kira-kira 3 jam (Tmaks) setelah pemberian dosis oral tunggal tanpa memperhatikan formulasi ukuran dosis. Nilai Tmaks setelah pemberian dosis berulang kira-kira 1 jam lebih pendek dibanding nilai Tmaks pada pemberian dosis tunggal. Hubungan antara dosis dengan bioavailabilitas gabapentin tidak berbanding lurus, contohnya bila dosis dinaikkan, bioavailabilitas menurun. Walau demikian, perbedaan bioavailabilitasnya tidak besar. Bioavailabilitas gabapentin adalah sekitar 60%. Makanan hanya berefek sedikit pada kecepatan dan tingkat absorpsi gabapentin (meningkat 14% pada AUC dan Cmaks) .

Distribusi

Gabapentin sebagian besar tidak terikat protein plasma (<3%). Volume distribusi gabapentin setelah pemberian 150 mg IV adalah 58±6 l (mean±SD). Pada penderita epilepsi, konsentrasi awal gabapentin untuk mencapai kondisi tunak (Cmin) pada cairan serebrospinal berkisar 20% dari konsentrasi plasma. Setelah pemberian berulang gabapentin, kondisi tunak tercapai dalam 1 hingga 2 hari setelah memulai pemberian dosis berulang dan dipertahankan sepanjang pemberian regimen dosis.

Metabolisme

Gabapentin tidak dimetabolisme oleh tubuh manusia dan tidak menginduksi sistem oksidasi enzim hepatik.

Eliminasi

Gabapentin dieliminasi dari sirkulasi sistemik melalui ekskresi ginjal dalam bentuk yang tidak berubah. Waktu paruh eliminasi dari gabapentin adalah 5 sampai 7 jam dan tidak berubah setelah pemberian dosis atau dosis berulang . Kecepatan eliminasi gabapentin tidak berubah (konstan), bersihan plasma, dan bersihan ginjal secara langsung sebanding dengan bersihan kreatinin. Bersihan ginjal adalah satu-satunya jalan eliminasi gabapentin .

Populasi Khusus

Gangguan ginjal

Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, bersihan plasma gabapentin menurun. Diperlukan penyesuaian dosis pada pasien dewasa dengan gangguan ginjal. Belum ada penelitian yang dilakukan pada pasien anak-anak dengan gangguan gagal ginjal.

Hemodialisis

Gabapentin dapat dibersihkan dari plasma dengan hemodialisis. Pada pasien anuric, waktu paruh eliminasi yang jelas terlihat dari gabapentin pada hari-hari nondialisis sekitar 132 jam, selama dialisis yang dilakukan tiga kali seminggu (durasi 4 jam) waktu paruh eliminasi gabapentin menurun sekitar 60% dari 132 jam menjadi 51 jam. Dengan demikian hemodialisis memiliki efek yang signifikan terhadap eliminasi gabapentin pada pasien anuric.

Gangguan hati

Tidak ada penelitian yang dilakukan pada pasien dengan gangguan hati karena gabapentin tidak dimetabolisme.

Usia

Pengaruh usia telah diteliti pada pasien dengan usia 20-80 tahun. Bersihan oral gabapentin menurun bersamaan dengan bertambahnya usia dari sekitar 225 ml/menit untuk mereka dengan usia <30 tahun sampai sekitar 125 ml/menit untuk mereka dengan usia >70 tahun. Bersihan ginjal berdasarkan luas permukaan tubuh juga turun seiring dengan usia. Walau demikian, penurunan bersihan ginjal dari gabapentin sehubungan dengan usia dapat dikaitkan dengan penurunan dari fungsi ginjal. Pengurangan dosis gabapentin diperlukan untuk pasien yang fungsi ginjalnya menurun akibat pertambahan usia.

Anak-anak

Pada umumnya pasien anak-anak berusia antara 1 bulan dan kurang dari 5 tahun menerima sekitar 30% pemaparan lebih rendah dibandingkan pasien usia ≥5 tahun. Maka bersihan oral yang normal per berat badan lebih tinggi pada anak-anak yang lebih muda. Bersihan oral dari gabapentin secara langsung sebanding dengan bersihan kreatinin. Rata-rata waktu paruh eliminasi gabapentin adalah 4,7 jam serupa dengan penelitian antar kelompok umur. Bersihan normal yang diamati pada pasien anak-anak usia ≥5 tahun nilainya konsisten dengan yang diamati pada orang dewasa setelah pemberian dosis tunggal. Volume distribusi oral normal per berat badan tidak berubah antar kelompok umur.

Jenis kelamin

Parameter farmakokinetika antara pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna.

Etnis

Belum pernah dilakukan penelitian mengenai perbedaan farmakokinetika berkaitan dengan perbedaan etnis.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan

Sebagai terapi tambahan terhadap obat antiepilepsi standar pada penderita yang tidak dapat dikendalikan serangannya dengan obat antiepilepsi baik secara tunggal maupun kombinasi atau pada penderita yang tidak toleran terhadap dosis obat-obat tersebut. Gabapentin yang ditambahkan pada terapi antiepilepsi yang sekarang digunakan, diindikasikan untuk serangan parsial sederhana dan serangan parsial kompleks (simple and complex partial seizures) dan serangan umum tonik klonik sekunder (secondary generalized tonic clonic seizures).

Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap komponen obat.

Dosis dan Cara Pemberian

Umum

  • Cara pemberian
    Gabapentin diberikan secara oral tanpa memperhatikan anjuran makanan.
  • Dosis
    Pada pasien dewasa dan anak-anak >12 tahun, dosis efektif dari gabapentin adalah 900-1.800 mg per hari dalam tiga dosis terbagi. Titrasi untuk mencapai dosis efektif dapat ditingkatkan dengan cepat dan dapat tercapai dalam beberapa hari dengan pemberian 300 mg sekali sehari pada hari pertama, 300 mg dua kali sehari pada hari kedua, dan 300 mg tiga kali sehari pada hari ketiga.
    Selanjutnya dosis dapat diberikan 1.200 mg per hari dibagi dalam 3 dosis dan jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan dengan penambahan sebanyak 300 mg per hari dibagi dalam 3 dosis sampai maksimum 2.400 mg per hari interval pemberian dosis 3 kali sehari tidak boleh melebihi 12 jam.

Efek Samping

  • Sistem saraf: mengantuk, pusing atau ataksia, fatigue, nistagmus, tremor, gugup, disartria, amnesia, depresi, twitching, gangguan koordinasi, sakit kepala, bingung, insomnia, abnormal thinking, dan gangguan emosional.
  • Gastrointestinal: dispepsia, mulut dan tenggorokan terasa kering, konstipasi, kelainan pada gigi, peningkatan nafsu makan, mual, muntah, nyeri abdominal, diare dan anoreksia.
  • Kardiovaskular: edema perifer, vasodilatasi, hipertensi, hipotensi, angina pektoris, gangguan vaskular perifer, palpitasi, takikardia, heart murmur dan edema umum.
  • Saluran pernafasan: rinitis, faringitis, batuk, pneumonia, epistaksis, dan dispnea.
  • Jaringan otot: mialgia, artralgia, nyeri punggung dan fraktur.
  • Kulit dan reaksi sensitif: pruritus atau abrasi, ruam atau jerawat.
  • Hematologi: leukopenia, purpura, anemia, dan trombositopenia.
  • Mata dan telinga: diplopia dan amblyopia.

Peringatan dan Perhatian

  • Pasien harus diperingatkan untuk menggunakan gabapentin hanya seperti yang diresepkan.
  • Penghentian penggunaan gabapentin dalam terapi harus dilakukan secara bertahap selama minimum 1 minggu karena adanya kemungkinan peningkatan frekuensi kejang.
  • Pasien dianjurkan untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor, ataupun mengoperasikan mesin karena gabapentin dapat menyebabkan kantuk, dan gejala-gejala lain dan tanda-tanda penekanan sistem saraf pusat.
  • Efek gabapentin dalam insiden munculnya tumor baru pada manusia atau perburukan atau kekambuhan tumor pada diagnosis tumor sebelumnya tidak diketahui.
  • Keamanan dan keefektifan gabapentin pada pasien usia lanjut belum dievaluasi secara sistematik, dan uji klinik tidak menyertakan cukup pasien usia lebih dari 65 tahun atau lebih untuk menentukan apakah respons nya berbeda dengan pasien y ang lebih muda.
  • Gabapentin dapat diberikan selama kehamilan hanya bila melebihi potensi risiko terhadap janin, karena belum cukup terdapat studi-studi terkontrol pada wanita hamil.
  • Belum diketahui apakah gabapentin diekskresikan ke dalam ASI. Karena adanya potensi terjadi reaksi yang tidak diinginkan terhadap bayi yang menyusu dari ibu yang mendapatkan gabapentin, maka keputusan harus diambil apakah pemberian ASI dihentikan atau pengobatan dihentikan dengan mempertimbangkan pentingnya pengobatan terhadap ibu.

Interaksi Obat

  • Gabapentin tidak dimetabolisme dan tidak mempengaruhi metabolisme obat antiepilepsi yang diberikan bersamaan.
  • Alumunium dan magnesium yang terdapat dalam antasid dapat menurunkan bioavailabilitas gabapentin hingga 24%. Oleh karena itu, gabapentin dianjurkan untuk digunakan setidaknya 2 jam setelah pemberian antasid.
  • Makanan tidak mempengaruhi farmakokinetika gabapentin.
  • Pemberian bersamaan dengan kontrasepsi oral termasuk norethisterone dan ethinyl estradiol tidak mempengaruhi profil farmakokinetika dari gabapentin.
  • Ekskresi renal tidak dipengaruhi dengan adanya probenecid.
  • Apabila gabapentin ditambahkan pada obat antikonvulsan lain, maka ada prosedur preparasi asam sulfosalicylic lebih spesifik yang dianjurkan untuk menentukkan protein urin. Hal ini diperlukan karena pernah dilaporkan adanya pembacaan positif yang salah dengan Ames N-Multistix SG dipstick test.

Overdosis

Telah dilaporkan adanya overdosis akut pada pemberian oral lebih dari 49 gram. Pada kasus ini, pasien mengalami penglihatan ganda, slurred speech, drowsiness, lethargy, dan diare. Semua pasien sembuh dengan terapi suportif. Gabapentin dapat dihilangkan melalui hemodialisis. Walaupun hemodialisis belum dilakukan pada beberapa kasus overdosis yang dilaporkan, hal ini dapat diindikasikan sesuai kondisi klinik pasien atau pada pasien dengan gangguan ginjal yang signifikan.

Kemasan dan Sediaan

Kotak, 3 blister @ 10 kapsul

Izin BPOM

GKL 1405048101A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

SIMPAN PADA SUHU DIBAWAH 30°C, TERLINDUNG DARI CAHAYA

Produsen

PT Dexa Medica

Sekilas Tentang Dexa Medica

Dexa Medica adalah suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 1969 oleh Drs. Rudy Soetikno Apt. seroang apoteker muda yang pernah bertugas sebagai tentara. Dikarenakan pernah terjadi kelangkaan pasokan obat, maka ia bersama rekannya mulai mendirikan sebuah perusahaan farmasi kecil dengan produk obat tablet.

Karena semakin meningkatnya permintaan, maka Dexa Medica meningkatkan kuantitas produksinya sehingga pada 1975 produknya telah tersedia di seluruh pulau Sumatera, dan pada 1978, produk perusahaan ini telah tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai perusahaan nasional, maka pada 1984 perusahaan ini mendirikan kantor pemasaran di Jakarta. Perusahaan ini pun semakin berkembang dan dibuktikan dengan produk-produknya yang berhasil menembus pasar negara-negara Asia dan Afrika sekaligus menjadikan Dexa Medica menjadi salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Saat ini posisi CEO perusahaan dijabat oleh Ir. Ferry A. Soetikno, M.Sc., M.B.A.