Dkp

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Dkp

By | 08/03/2018

Komposisi

  • DKP injeksi (mengandung alkohol)
    Tiap mL mengandung:
    Dexketoprofen trometamol 36.9mg setara dengan Dexketoprofen 25mg.
  • DKP tablet salut selaput
    Tiap tablet salut selaput mengandung:
    Dexketoprofen trometamol setara dengan Dexketoprofen 25mg.

Indikasi / Kegunaan

  • Injeksi : Pengobatan gejala nyeri akut sedang hingga berat jika pemberian oral tidak memungkinkan;
  • Tablet : Pengobatan simtomatis nyeri ringan hingga sedang, seperti nyeri akut musculoskeletal, dismenorea, sakit gigi, dan nyeri paska operasi.

Farmakologi

Dexketoprofen trometamol merupakan garam tromethamine dan S-(+)-2-(3-benzoylphenyl)propionic acid, yang termasuk dalam golongan obat antiinflamasi non steroid (AINS). Dexketoprofen trometamol memiliki aksi farmakologi serupa dengan AINS lainnya, dengan aksi antiinflamasi, analgesic, dan antipiretik. AINS akan menghambat sintesis prostaglandin di jaringan tubuh dengan menghambat jalur cyclooxygenase 1 dan cyclooxygenase 2, yang merupakan katalisator dalam pembentukan prostaglandin pada jalur asam arakidonat.

Kontra Indikasi

  • Pasien dengan riwayat hipersensitivitas pada komponen obat, AINS lainnya;
  • Pasien dengan serangan asma, urtikaria, atau reaksi sensitivitas yang dipicu aspirin atau AINS lainnya;
  • Pasien dengan atau memiliki riwayat ulkus peptik/pendarahan lambung aktif atau baru dugaan;
  • Pasien dengan gangguan pendarahan, gangguan ginjal sedang hingga berat, gangguan hati berat, dan gagal jantung berat.
  • Wanita hamil dan menyusui;
  • Karena mengandung alkohol, pemberian neuraxial dikontraindikasikan.

Efek Samping

  • Edema perifer, hipertensi, takikardia, hipotensi, hot flushes;
  • Dispepsia, ulkus peptic, perforasi saluran cerna, mual, diare, nyeri abdomen, konstipasi, muntah, anoreksia, stomatitis, mulut kering, hematemesis, pankreatitis, kembung;
  • Sakit kepala, insomnia, pusing, rasa tidak nyaman, kantuk, kelelahan, paresthesia;
  • Jaundice, peningkatan konsentrasi serum SGPT atau SGOT;
  • Bila menggunakan sediaan injeksi mungkin terjadi reaksi pada tempat diinjeksikannya obat seperti inflamasi, memar, atau pendarahan.

Peringatan dan Perhatian

  • Hati – hati pasien dengan riwayat alergi, esophagitis, dan gastritis;
  • Hati – hati pada pasien yang terpengaruh buruk oleh perpanjangan waktu pendarahan;
  • Seperti AINS lainnya, dapat mengakibatkan peningkatan nitrogen urea, dan kreatinin plasma;
  • Peningkatan konsentrasi SGPT dan SGOT serum pada pasien, namun harus dihentikan jika muncul gejala reaksi hati yang berat;
  • Dikontraindikasikan bagi ibu hamil dan menyusui;
  • Tidak dianjurkan bagi pasien dengan gangguan ginjal stadium lanjut;
  • Injeksi mengandung alkohol.

Dosis

  • Injeksi: DKP dapat diberikan secara IM, dan IV bolus sebagai injeksi lambat, dapat diberikan secara infus intravena dengan pengenceran 30 – 100mL sebagai infus IV lambat;
  • Tablet: Dosis lazim adalah 12.5mg setial 4-6 jam atau 25mg setiap 8 jam, maksimal 75mg.

Cara Penyimpanan

Simpan pada suhu dibawah 30°C, terlindung dari cahaya.

Kemasan, Sediaan, Izin BPOM

  1. Dus, 5 ampul @ 2 ml, cairan injeksi 25 mg/ml, DKL1034608843A1;
  2. Dus, 5 strip @ 10 tablet salut selaput, tablet salut selaput 25 mg, DKL0934608717A1.

Produsen

Dexa Medica

Pendaftar

Ferron Pharmaceuticals

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Sekilas Tentang Alcohol (Ethanol)

Alkohol dalam berbagai bentuknya merupakan suatu zat yang memiliki sifat antiseptik, disinfektan, dan antidot. Alkohol memiliki banyak bentuk yang digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda. Pada pembahasan ini kita batasi alkohol dalam bentuk alkohol, n-butanol, dan ethanol. Alkohol dapat diaplikasikan pada kulit sebagai disinfektan kulit sebelum injeksi dan sebelum pembedahan pada operasi. Alkohol dalam bentuk ethanol (suatu komposisi kimia alkohol sederhana) secara intravena digunakan untuk perawatan toksisitas methanol atau toksisitas ethylene glycol saat fomepizole tidak tersedia. Efek toksik dari glycol dapat terkristalisasi pada ginjal dan menyebabkan efek yang sangat serius. Diperkirakan alkohol mulai digunakan sebagai antiseptik pada sekira tahun 1363 namun kemungkinan jauh lebih awal dari itu. Alkohol umumnya dihasilkan dari fermentasi ragi, gula, dan pati pada buah-buahan seperti anggur, kaktus, tebu, gandum, dan sebagainya.

Alkohol dalam bentuk n-butanol (produk minor hasil fermentasi gula) dalam jumlah kecil digunakan dalam industri makanan dan miuman sebagai pelarut dan pengaroma. Alkohol berupa ethanol (alkohol yang secara alami diproduksi oleh fermentasi gula oleh ragi) memiliki sifat memabukkan biasanya dijumpai pada produk-produk minuman keras seperti bir, wine, dan sejenisnya. Efek samping yang biasa terjadi saat seseorang mengonsumsi alkohol adalah pusing, mual, dan muntah. Alkoho dapat bersifat adiktif, menyebabkan alkoholisme, dan ketergantungan serta menimbulkan efek penarikan. Mengonsumsi alkohol dalam jangka lama dapat menyebabkan kerusakan hati kerusakan otak, dan berisiko menyebabkan kanker. Kebanyakan efek tadi ditimbulkan jika mengonsumsinya dalam dosis besar dan frekuensi sering. Namun kemungkinan efek samping itu bisa saja terjadi pada penggunaan dosis ringan dan moderat. Alkohol pada bir bekerja dengan meningkatkan efek neurotransmiter yang disebut γ-aminobutyric acid atau GABA. GABA adalah inhibitor major neurotransmiter pada otak dan dengan memfasilitasi aksinya, alkohol dapat menekan aktifitas sistem saraf pusat. Alkohol juga secara langsung berefek pada sistem neurotransmiter lainnya termasuk glutamate, glycine, acetylcholine, dan serotonin. Hasilnya akan terjadi peningkatan kadar dopamin dan opioid endogen pada otak.

Pada industri farmasi, alkohol digunakan sebagai pelarut atau media "transportasi" pada berbagai jenis obat baik obat bebas maupun obat resep. Selain itu ia juga digunakan sebagai pengawet produk farmasi.