CLINDAMYCIN HYDROCHLORIDE

Farmasi-id.com > Antibiotik > CLINDAMYCIN HYDROCHLORIDE

By | 06/05/2019

Farmakologi

Clindamycin merupakan antimikroba yang spektrumnya menyerupai linkomisin namun aktivitasnya lebih besar terhadap organisme yang sensitif. Clindamycin aktif terhadap Staphylococcus aureus, D. pneumoniae, Streptococcus pyogenes, Streptococci (kecuali Streptococcus faecalis). Streptococcus viridans dan Avtinomyces israelli serta aktif terhadap Bacteroides fragilis dan kuman patogen anaerob yang peka lainnya.

Clindamycin menghambat sintesa protein dengan cara mengikat pada gugus 50 S sub unit ribosomal bakteri.

Clindamycin diabsorpsi hampir lengkap pada pemberian per oral, dan kadar puncak 2-3 mcg/ml dicapai dalam 1 jam setelah pemberian 150 mg. Adanya makanan dalam lambung tidak mempengaruhi absorpsinya. Waktu paruhnya 2,7 jam. Clindamycin didistribusi secara baik ke berbagai cairan tubuh, jaringan dan tulang, kecuali ke cairan serebrospinal dan diekskresi melalui urin dan feses.

Indikasi

Infeksi serius yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif terhadap Clindamycin terutama Streptokokus, Pneumokokus, Stafilokokus dan bakteri anaerob sepeti: infeksi serius saluran nafas bagian bawah, infeksi serius kulit dan jaringan lunak, osteomielitis, infeksi serius intra-abdominal.

Peringatan dan Perhatian

  • Keamanan penggunaan pada wanita hamil dan menyusui belum diketahui dengan pasti.
  • Perlu dilakukan pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya super infeksi dengan bakteri dan jamur.
  • Selama penggunaan jangka panjang perlu dilakukan pemeriksaan hematologi, fungsi hati dan ginjal.
  • Hati-hati penggunaannya pada penderita kerusakan hati atau ginjal yang berat.
  • Hentikan pemakaian antibiotika ini, jika selama pengobatan timbul mencret secara berlebihan.
  • Terapi dengan clindamycin dapat menyebabkan kolitis berat yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu pemberian clindamycin dibatasi untuk infeksi serius dimana tidak dapat diberikan antimikroba yang kurang toksik misalnya eritromisin.
  • Clindamycin tidak boleh digunakan untuk infeksi saluran nafas bagian atas.
  • Pemberian pada bayi dan neonatus harus disertai pengamatan fungsi sistem organ yang tepat.
  • Karena clindamycin tidak dapat mencapai cairan serebrospinal dalam jumlah yang memadai, maka clindamycin tidak dapat digunakan untuk pengobatan meningitis.
  • Secara in vitro menunjukkan adanya antagonisme antara clindamycin dan eritromisin. Karena kemungkinan itu secara klinis dapat terjadi, maka kedua obat ini tidak boleh diberikan secara bersamaan.
  • Hati-hati pemberian pada penderita dengan riwayat penyakit saluran pencernaan terutama kolitis, serta penderita atopik.
  • Prosedur pembedahan harus sudah ditentukan sehubungan dengan digunakannya antibiotika ini.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita yang mendapat terpai obat-obat penghambat neuromuskular karena dapat meningkatkan kerja obat-obat penghambat neuromuskular.

Efek Samping

  • Gangguan gastrointestinal : mual, muntah dan kolitis pseudomembranousa
  • Reaksi hipersensitif : pruritus, rash, urtikaria
  • Hati: jaundice, abnormalitas test fungsi hati
  • Ginjal: disfungsi ginjal (azotemia, oliguria, proteinuria)
  • Hematopoietic : neutropenia sementara (leukopenia), eosinofilia, agranulositosis, thrombositopenia
  • Muskuloskeletal: polyarthritis

Kontra Indikasi

Reaksi hipersensitif terhadap clindamycin HCl atau linkomisin.

Interaksi Obat

  • Antidiare, adsorbens.
  • Tidak dianjurkan penggunaan bersama-sama dengan kaolin atau attapulgite yang dikandung dalam obat antidiare.

Dosis

Dewasa:

Infeksi serius: 150 mg – 300 mg setiap 6 jam
Infeksi yang lebih berat: 300 mg – 450 mg setiap 6 jam

Anak-anak:

Infeksi serius : 8-16 mg/kg BB/hari, terbagi 3-4 kali sehari.
Infeksi yang lebih berat : 16-20 mg/kg BB/hari, terbagi 3-4 kali sehari.
Untuk mencegah kemungkinan timbulnya iritasi esofageal, obat harus diminum dengan segelas air penuh. Pada infeksi Streptococci β-hemolytic, pemberian harus dilanjutkan sekurang-kurangnya 10 hari.

Izin BPOM, Kemasan, Sediaan, Produsen

  • GKL1807922401A1, dus, 10 strip @ 10 kapsul 170 mg, Harsen
  • GKL1807922401B1, dus, 10 strip @ 10 kapsul 340 mg, Harsen
  • GKL1815627401A1, dus, 10 strip @ 10 kapsul 300 mg, Meprofarm
  • GKL0233506901A1, dus, 5 blister @ 10 kapsul 150 mg, Novell Pharmaceutical
  • GKL0333506901B1, dus, 5 blister @ 10 kapsul 300 mg, Novell Pharmaceutical
Sekilas Tentang Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri molekul. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Antibiotika oral (diberikan lewat mulut) mudah digunakan dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadang kala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.

Informasi lengkap mengenai antibiotik dapat Anda baca di sini dan di sini.