Chloramphecort H Cream


Apa Kandungan dan Komposisi Chloramphecort H Cream?

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Chloramphecort H Cream adalah:


Chloramphenicol 20 mg , Prednisolone 2,5 mg.
Sekilas Tentang Prednisolone Pada Chloramphecort H Cream
Prednisolone adalah metabolit aktif dari prednison. Prednisolon memiliki rasa yang sangat pahit sehingga sulit diberikan kepada anak-anak.

Penggunaan

Ini adalah obat kortikosteroid dengan aktivitas dominan glukokortikoid dan mineralokortikoid rendah, sehingga berguna untuk pengobatan berbagai kondisi inflamasi dan autoimun seperti asma, rheumatoid arthritis, kolitis ulserativa dan penyakit Crohn, multiple sclerosis, sakit kepala cluster dan penyakit sistemik. Lupus Eritematosus. Ini juga dapat digunakan sebagai obat imunosupresif untuk transplantasi organ dan dalam kasus insufisiensi adrenal (Addison).

Suspensi mata prednisolon asetat adalah produk steroid adrenokortikal yang dibuat sebagai suspensi mata steril, digunakan untuk mengurangi pembengkakan, kemerahan, gatal, dan reaksi alergi yang mempengaruhi mata. Kortikosteroid menghambat respon inflamasi terhadap berbagai agen pemicu dan mungkin menunda atau memperlambat penyembuhan. Mereka menghambat edema, deposisi fibrin, dilatasi kapiler, migrasi leukosit, proliferasi kapiler, proliferasi fibroblas, deposisi kolagen, dan pembentukan bekas luka yang terkait dengan peradangan. Tidak ada penjelasan yang diterima secara umum untuk mekanisme kerja kortikosteroid okular. Namun, kortikosteroid diperkirakan bekerja dengan menginduksi protein penghambat fosfolipase A2, yang secara kolektif disebut lipokortin. Dipostulasikan bahwa protein ini mengontrol biosintesis mediator inflamasi yang poten seperti prostaglandin dan leukotrien dengan menghambat pelepasan asam arakidonat prekursor umum mereka. Asam arakidonat dilepaskan dari fosfolipid membran oleh fosfolipase A2. Kortikosteroid mampu menghasilkan peningkatan tekanan intraokular.

Kemungkinan efek Samping

Kemungkinan efek samping termasuk retensi cairan pada wajah (wajah bulan, sindrom Cushing), jerawat, sembelit, dan perubahan suasana hati. Pemberian prednisolon yang lama dapat menyebabkan tinja berdarah atau hitam; mengisi atau membulatkan wajah; kram otot atau nyeri; kelemahan otot; mual; nyeri di punggung, pinggul, tulang rusuk, lengan, bahu, atau kaki; garis ungu kemerahan di lengan, wajah, kaki, batang tubuh atau selangkangan; kulit tipis dan berkilau; memar yang tidak biasa; buang air kecil di malam hari; penambahan berat badan yang cepat; dan luka yang tak kunjung sembuh. Pembengkakan pankreas juga telah dilaporkan. Efek lain termasuk penurunan atau penglihatan kabur, peningkatan rasa haus, kebingungan, dan gugup. Hal ini juga dilaporkan menyebabkan insomnia ketika kekuatan besar, atau dosis besar diambil.

Secara sistemik: Katarak subkapsular posterior & edema papil

Topikal: PSC & glaukoma

Kontraindikasi dengan herpes

Status dilarang di atletik

Sebagai glukokortikosteroid, prednisolon dilarang di bawah aturan anti-doping WADA.
Sekilas Tentang Chloramphenicol Pada Chloramphecort H Cream
Chloramphenicol merupakan suatu antibiotik yang digunakan dalam berbagai jenis infeksi bakteri seperti konjungtivitis, meningitis, kolera, demam tipus, dan lain-lain. Sediaan dan penggunaannya juga berbagai bentuk mulai dari tetes mata hingga injeksi. Chloramphenicol pertama kali ditemukan dalam bakteri Streptomyces venezuelae yang kemudian dipisahkan komposisi kimianya di dalam laboratorium pada sekira tahun 1947. Kemudian versi artifisialnya dibuat pada tahun 1949 sekaligus menjadi antibiotik pertama yang diekstrak dari mikroorganisme.

Dulu obat ini digunakan untuk penyakit tipus, tapi semakin lama Salmonella typhi yang dianalisa menunjukkan resistensi terhadap chloramphenicol sehingga obat ini sudah jarang digunakan lagi untuk mengobati tipus. Chloramphenicol digunakan dalam pengobatan infeksi okuler seperti konjungtivitis dan blefaritis yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan Escherichia coli. Namun obat ini tidak efektif untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa. Cara kerja chloramphenicol yaitu dengan menghambat aktivitas peptidil transferase dari ribosom bakteri yang pada akhirnya mencegah bakteri untuk menggandakan diri.

Chloramphecort H Cream Obat Apa?


Apa Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Chloramphecort H Cream?

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Chloramphecort H Cream adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:


Infeksi kulit, eksim, alergi kulit.

Perhatian

Hindari kontak dengan mata.

Efek Samping

Iritasi, rasa terbakar,kulit kering.

Bagaimana Kemasan dan Sediaan Chloramphecort H Cream?


Krim 10 gram.
Sekilas tentang kulit
Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang memiliki luasnya sekitar 2 m2 dengan ketebalan rata-rata 1-2 mm. Kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan hipodermis atau subkutis.

Sebagai organ yang sangat penting bagi kelangsungan hidup, kulit memiliki fungsi menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya, mencegah infeksi, mengatur suhu tubuh, mengekskresi zat buangan, mensintesis vitamin D, dan menjadi sensor peraba.

Berapa Dosis dan Bagaimana Aturan Pakai Chloramphecort H Cream?

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Chloramphecort H Cream:


2 kali sehari, dioleskan.

Bagaimana Cara Pemberian Obat Chloramphecort H Cream?


Tak ada pilihan.

Apa Nama Perusahaan Produsen Chloramphecort H Cream?

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Chloramphecort H Cream:


PT.Kimia Farma

HARGA

Rp 17.000

Sekilas Tentang Kimia Farma
PT. Kimia Farma merupakan suatu perusahaan farmasi Indonesia yang menurut sejarahnya sudah ada sejak jaman Hindia-Belanda. Perusahaan ini berdiri pada 1817 yang pada awalnya perusahaan ini bernama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co yang kemudian oleh Pemerintah Indonesia dimasa awal kemerdekaan dinasionalisasi dan dilakukan peleburan dengan beberapa perusahaan farmasi lainnya pada 1958 yang kemudian namanya berubah menjadi PNF (Perusahaan Negara farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Pada 16 Agustus 1971, status PNF berubah menjadi PT dan namanya kembali mengalami perubahan menjadi PT. Kimia Farma (persero). Pada 4 Juli 2001, status PT. Kimia Farma berubah menjadi perusahaan publik seiring dengan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (Saat ini menjadi Bursa Efek Indonesia) sehingga berubah namanya menjadi PT. Kimia Farma Tbk. Jumlah karyawan perusahaan ini diperkirakan mencapai 5.758 orang.

Perusahaan ini telah mengantongi berbagai sertifikat mutu seperti CPOB, ISO 9001, ISO 9002, ISO 14001, dan juga telah mendapatkan persetujuan dari US-FDA sehingga produk perusahaan ini bisa dipasarkan di Amerika Serikat.

PT. Kimia Farma memiliki beberapa fasilitas produksi yang terletak di berbagai daerah yang berbeda yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Sarolangun, Watukadon, dan Tanjung Morawa. Setiap fasilitas produksi memproduksi produk yang berbeda-beda.

Untuk pemasaran produk, PT. Kimia Farma melakukannya melalui anak perusahaannya bernama PT. Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) yang memang dibentuk untuk pemasaran dan penjulan produk induk perusahaannya. Perusahaan ini memiliki 46 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Selain bergerak di bidang produksi produk obat dan farmasi, PT. Kimia Farma juga merambah bisnis apotek, laboratorium, dan klinik kesehatan. PT. Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan yang didirikan untuk menjalankan dan mengelola bisnis apotek dan PT Kimia Farma Diagnostik untuk usaha laboratorium dan diagnostik. Baru-baru ini PT. Kimia Farma megakuisisi PT. Phapros, salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia.

Produk PT. Kimia Farma selain dijual di Indonesia juga diekspor ke berbagai negara di dunia. Beberapa produk yang dijual selain obat jadi dan sediaan farmasi, juga menjual bahan baku pembuatan obat seperti iodine dan quinine. Produk-produk tersebut diekpor ke beberapa negara seperti India, Jepang, Taiwan, New Zealand, dan negara-negara Eropa. Untuk produk kosmetik, produk PT. Kimia Farma telah berhasil menembus pasar Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, dan Vietnam.