Alprenolol

Farmasi-id.com > Sistem Kardiovaskular & Hematopoietik > Penyekat Beta > Alprenolol

By | 22/05/2019

Nama Lain

Alfeprol, alpheprol, alprenololum

Kandungan Aktif

Alprenolol hydrochloride

Indikasi

Alprenolol merupakan suatu obat yang digunakan dalam terapi perawatan angina pektoris, hipertensi, dan aritmia.

Farmakologi

Alprenolol secara non selektif memblokir reseptor adrenergik beta-1 terutama pada jantung yang menyebabkan penurunan denyut jantung dan tekanan darah. Selain itu pada efek yang kecil mengikat reseptor beta-2 pada properti juxtaglomerular, alprenolol menghambat produksi renin sehingga menghambat produksi angiotensin II dan aldosteron dan oleh karena itu menghambat vasokonstriksi dan retensi cairan masing-masing karena angiotensin II dan aldosteron.

Kontra Indikasi

Obat ini dikontraindikasikan pada AV block derajat dua dan tiga, pasien dengan sinus bradikaria, kegagalan jantung yang tidak terkontrol, asma atau bronkospasme, penyakit arteri perifer parah, asidosis metabolik, phaeochromocytoma, penggunaan bersamaan dengan clonidine.

Perhatian

Pasien dengan kondisi berikut ini harus diberi perhatian khusus sebelum menggunakan alprenolol:

  • Derajat pertama AV block;
  • Berpotensi menutupi gejala hipertiroidisme dan hipoglikemia;
  • Akan membuka myasthenia gravis;
  • Dapat memperburuk kondisi psoriasis;
  • Penarikan obat secara mendadak dapat menyebabkan angina, MI, aritmia ventrikel, dan kematian;
  • Pasien yang menjalani pengobatan jangka lama harus menghentikan pengobatan secara bertahap selama 1-2 minggu;
  • Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.

Efek Samping

Efek samping yang dapat terjadi akibat penggunaan alprenolol antara lain:

Bradikardia, gagal jantung, hipotensi, bronkospasme, fatigue, pneumonitis, fibrosis paru dan retroperitoneal, radang selaput dada, miopati, gangguan gastro intestinal, alopoecia, kram otot, neuropati perifer, reaksi hematologis, perubahan konsentrasi glukosa, trigliserida, dan kolesterol dalam darah.

Interaksi Obat

  • Penggunaan bersamaan dengan obat lain yang menyebabkan hipotensi;
  • Penggunaan bersamaan dengan obat OAINS, depresan jantug, sotalol, digoxin, insulin, dan hipoglikemik oral;
  • Penggunaan bersamaan dengan simpatomimetik, inhibitor ACE, pemblokir saluran Ca, verapamil;
  • Anestesi menyebabkan depresi miokard (misalnya: eter, siklopropana, trikloretilen);
  • Berpotensi fatal: peningkatan risiko penarikan hipertensi dengan clonidine. Tarik beberapa hari sebelum perlahan-lahan menghentikan clonidine;
  • Pemberian 1-benzylimidazole dapat menurunkan efek antihipertensi alprenolol;
  • Pemberian warfarin dapat menyebabkan peningkatan risiko efek samping.

Dosis

Hipertensi

Oral:

Dewasa: 200 mg/hari dalam dosis terbagi, dapat ditingkatkan mingguan bergantung pada kondisi pasien.

Angina pektoris, aritmia jantung

Dewasa: 200-400 mg/hari dalam dosis terbagi.

Nama Brand

Gubernal, Regletin, Yobir, Apllobal, Aptine, Aptol Duriles, Elp, Skajilol

Sekilas Tentang Obat Penyekat Beta (Beta Blocker)

Penyekat beta atau beta blocker adalah suatu jenis obat yang digunakan dalam terapi perawatan dan pengobatan hipertensi, migrain dan ketidaknormalan detak jantung serta melindung jantung dari risiko serangan jantung (infark miokardinal). Obat ini mampu menurunkan tekanan darah dan bekerja dengan cara memblok efek dari hormon epinephrine (adrenalin) dan norephinephrine (noradrenaline) pada reseptor beta adrenergik dari sistem saraf simpatik.

Reseptor beta adrenergik dapat dijumpai pada otot jantung, otot halus, saluran pernapasan, arteri, ginjal dan jaringan lainnya dari sistem saraf simpatik yang mana ia dapat menjadi pemicu atau penyebab respon stres terlebih jika distimulasi oleh ephinephrine (adrenaline). Beta blocker akan mengintervensi dengan melakukan pengikatan pada reseptor ephinephrine dan hormon stress lainnya dan menurunkan efek hormon stres tadi.

Obat beta blocker pertama kali disintesa oleh james Black, seorang fisikawan dan ahlo farmakologi berkebangsaan Skotlandia pada 1964. Saat itu ia mensintesa beta blocker propanolol dan pronethalol yang kemudian dikembangkan dan banyak obat sejenisnya yang digunakan dalam terapi angina pektoris. Melalui penelitian ilmiah diketahui bahwa pemberian beta blocker atenolol mampu mencegah stroke dan gejala kardiovaskular lainnya dibandingkan dengan plasebo, namun keefektifannya masih kalah dibandingkan obat inhibitor ACE dan calcium channel blocker.

Secara umum obat beta blocker diindikasikan untuk terapi perawatan/pengobatan berbagai kondisi berikut ini:

Angina pektoris, fibrilasi atrial, aritmia jantung, gagal jantung kongestif, glaukoma, hipertensi, migrain, tremor, takikardia, ansietas, hipertiroidisme, dan sebagainya.

Efek samping yang mungkin saja dapat terjadi akibat penggunaan obat beta blocker antara lain:



  1. Umum: fatigue, tangan dan kaki terasa dingin, penambahan berat badan.

  2. Jarang: Kesulitan bernapas, napasa pendek, sulit tidur, depresi.


Obat beta blocker tidak boleh digunakan oleh penderita asma karena dapat memicu serangan asma parah. Pada penderita diabetes, obat ini akan memblok sinyal gula darah rendah seperti detak jantung cepat padahal itu dapat menjadi salah satu parameter pemantauan kadar gula darah. Beta blocker diketahui juga dapat meningkatkan kadar trigliserida dan menurunkan kolesterol baik secara minimal, namun ini sifatnya hanya sementara dan pasien tidak harus menghentikan penggunaan obat beta blockernya sebab menghentikan obat itu tanpa sepengetahuan dokter justru akan meningkatkan risiko serangan jantung dan penyakit jantung lainnya.