ALFUZOSIN

Farmasi-id.com > Sistem Kemih Kelamin > Obat untuk Penyakit Saluran Kemih & Prostat > ALFUZOSIN

By | 14/05/2019

Indikasi

Alfuzosin digunakan untuk terapi pengobatan pembesaran prostat pada pria (benign prostatic hyperplasia (BPH)). Obat ini tidak mengecilkan prostat akan tetapi bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang ada pada prostat dan kandung kemih. Dengan demikian akan membantu meringankan gejala pembesaran prostat seperti sulit buang air kecil, aliran urin lemah, sering buang air kecil, dan lain-lain.

Farmakologi

Alfuzosin merupakan turunan dari quinazoline yang memblokade adrenoreseptor sehingga menyebabkan efek relaksasi otot polos pada leher kandung kemih dan prostat sehingga menghasilkan peningkatan aliran urin dan pengurangan gejala benign prostatic hyperplasia (BPH).

Kontra Indikasi

Alfuzosin dikontraindikasikan pada mereka yang memiliki riwayat hipertensi ortostatik, gangguan hati yang parah, dan pasien yang mengonsumsi obat penghambat CYP3A4 seperti ketoconazole, itraconazole, dan ritonavir.

Farmakokinetik:

  • Penyerapan: Mudah diserap. bioavailabilitas: Sekitar 64%. Waktu untuk memuncak konsentrasi plasma: 0,5-3 jam.
  • Distribusi: Pengikatan protein plasma: 90%.
  • Metabolisme: Dimetabolisme secara luas di hati, terutama oleh isoenzim CYP3A4, menjadi metabolit yang tidak aktif.
  • Ekskresi: Dalam tinja melalui empedu (69%) dan melalui urin (24%; sekitar 11% sebagai obat tidak berubah). Waktu paruh eliminasi: 3-5 jam.

Perhatian

  • Sebelum mengonsumsi alfuzosin, beritahu pada dokter jika Anda memiliki riwayat alergi, sebab kemungkinan komponen dalam obat ini memiliki kandungan nonaktif yang menyebabkan alergi;
  • Alfuzosin kemungkinan dapat menyebabkan kondisi perubahan ritme jantung (QT prolongation). Akibatnya dapat menyebabkan denyut jantung menjadi tidak normal dan gejala seperti pusing dan pingsan. Risiko ini bisa meningkat akibat penggunaan obat yang menyebabkan QT prolongation. Penurunan kadar kalium atau magnesium dapat terjadi pada kasus QT prolongation, terlebih jika Anda mengonsumsi obat diuretik;
  • Hati-hati pada penderita dengan gangguan hati dan ginjal tingkat ringan hingga sedang;
  • Karsinoma prostat harus ditiadakan sebelum memulai terapi dengan alfuzosin;
  • Obat ini dapat menyebabkan pusing, hindari mengemudi dan mengoperasikan mesin saat sedang mengonsumsi obat ini sampai keadaan kembali normal;
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada lansia sebab pengaruhnya dapat menyebabkan pusing dan penurunan tekanan darah;
  • Penggunaan pada wanita hamil harus jelas digunakaan hanya jika dibutuhkan dan harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter;
  • Tidak diketahui apakah obat ini masuk ke dalam ASI. Konsultasikan pada dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan obat ini jika Anda menyusui.

Efek Samping

  • Pusing, sakit kepala, denyut jantung tidak teratur, nyeri dada, hipotensi postural, diare, infeksi saluran pernapasan bagian atas, rinitis, bronkhitis, sinusitis, faringitis, hepatoselular dan gangguan hati kolestatik seperti penyakit kuning, kelelahan, ruam, pruritus, urtikaria;
  • Jarang: priapisme.

Parameter Pemantauan

Pantau secara reguler tekanan darah dan aliran urin.

Interaksi Obat

  • Penggunaan bersamaan dengan obat QT prolongation dapat memperbesar risiko efek samping alfuzosin;
  • Penggunaan bersamaan dengan obat agen penghambat α1-adrenergic seperti atenolol atau diltiazem menyebabkan risiko efek samping pada kardiovaskular;
  • Pemberiaan bersamaan dengan obat itraconazole, ketoconazole, boceprevir, cobicistat, clarithromycin, nefazodone, inhibitor protease HIV seperti lopinavir dan ritonavir, dapat mengurangi keefektifan alfuzosin.

Kategori Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil (Menurut FDA)

Pemberian secara PO:

Kategori B: Studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko pada janin tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil, atau studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak terjadi pada studi terkontrol terhadap wanita hamil trimester 1 (dan tidak ada bukti mengenai risiko pada trimester selanjutnya).

Dosis

Pemberian secara PO

Benign prostatic hyperplasia (BPH):

  • Dewasa: 2.5 mg tid. Maksimal: 10 mg/hari. Dosis pertama harus diberikan sebelum tidur. Extended-release: 10 mg sekali sehari.
  • Lansia: Awal, 2.5 mg bid. retensi urin akut: Extended-release: 10 mg sekali sehari diminum mulai dari hari pertama kateterisasi. Durasi: 3-4 hari.

Penyimpanan

Simpan pada suhu antara 20-25°C. Lindungi dari cahaya dan kelembaban.

Sediaan

Tablet kekuatan 10 mg.

Nama Brand

Uroxatral, Xatral XL

Sekilas tentang perkemihan

Sistem perkemihan atau dunia medis menyebutnya sistem urinaria merupakan sistem yang berlangsung dalam tubuh yang berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat sisa/racun dari hasil metabolisme tubuh.

Adapun organ-organ pokok yang bekerja dalam sistem urinaria ini adalah Ginjal, Ureter, Vesika Urinary, dan Uretra. Keempat organ tersebut bisa dibilang merupakan organ pokok dari sistem urinaria, dimana setiap organ-organ memiliki fungsi masing-masing.

Organ-organ dari sistem perkemihan tersebut sejatinya akan mengalami gangguan jika tidak dijaga kesehatanya, sehingga dapat menimbulkan gangguan atau penyakit. Berikut penyakit-penyakit yang sering ditemukan pada sistem perkemihan/urinaria

  1. Glikosuria (glukosuria) adalah ekskresi glukosa ke dalam urine sehingga menyebabkan dehidrasi karena banyak air yang akan tereksresi ke dalam urine.

  2. Albuminuria adalah penyakit yang terjadi akibat ginjal tidak dapat melakukan proses penyaringan, khususnya penyaringan protein. Protein (albumin) yang tidak dapat di saring, akan keluar bersama urine. Albuminuria disebabkan oleh kerusakan pada glomerulus.

  3. Batu ginjal adalah penyakit karena adanya pengendapan pada rongga ginjal atau kandung kemih. Endapan dapat berupa senyawa kalsium dan penumpukan asam urat. Kelaianan metabolisme, sering menahan buang air kecil dan kurang minum, dapat menjadi penyebab terbentuknya batu ginjal. Jika batu masih kecil, dapat diatasi dengan obat-obatan tertentu dan teknologi sinar laser penghancur batu ginjal. Namun, jika batu sudah membesar, harus diangkat melalui proses operasi.

  4. Diabetes melitus (kencing manis), dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

    • Diabetes mellitus tipe 1, ditandai oleh kurangnya sekresi insulin akibat sel beta pankreas tidak memproduksi atau sangat sedikit memproduksi insulin sehingga diperlukan insulin eksogen untuk bertahan hidup. Jumlah penderita diabetes melitus tipe 1 sekitar 10% dari semua kasus diabetes melitus.

    • Diabetes mellitus tipe 2, sekresi insulin mungkin normal atau bahkan meningkat, tetapi terjadi penurunan kepekaan sel sasaran insulin, seperti sel otot rangka dan sel hati. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor genetik dan gaya hidup. Sekitar 90% pengidap diabetes melitus tipe 2 mengalami obesitas.



  5. Diabetes insipidus adalah penyakit yang ditandai produksi urine berjumlah banyak dan encer, yang disertai dengan rasa haus. Pengeluaran urine sekitar 20 liter perhari. Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan hormon ADH (antidiuretic hormone).

  6. Poliuria merupakan kelainan peningkatan frekuensi buang air kecil sebagai akibat dari kelebihan produksi air seni. Pada umumnya disebabkan oleh polidipsida (rasa haus yang tidak berkesudahan) dan mengomsumsi cairan yang mengandung kafein, alkohol atau bahan (obat-obatan) yang bersifat diuretik (mempercepat pembentukan urine).

  7. Gagal ginjal (anuria) adalah kegagalan ginjal dalam memproduksi urine. Anuria dapat disebabkan oleh kerusakan glomerulus, sehingga proses penyaringan tidak dapat dilakukan.

  8. Uremia adalah keadaan toksik saat darah mengandung banyak urea karena kegagalan fungsi ginjal dalam membuang urea keluar dari tubuh.

  9. Nefritis adalah radang nefron pada ginjal yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus sp yang dapat masuk melalui saluran pernapasan dan peredaran darah hingga ke ginjal. Gejala nefritis adalah hematuria (darah dalam urine), proteinuria (protein dalam urine), edema (pengumpulan air terutama pada kaki) dan kerusakan fungsi hati.

  10. ISK (Infeksi Saluran Kemih) adalah suatu keadaan klinis yang mana terdapat mikroorganisme pada saluran kemih

  11. Kanker kandung kemih adalah tumor yang didapatkan pada buli-buli (kandung kemih) yang akan terjadi gros hematuria tanpa rasa sakit yaitu keluar kencing warna merah terus.

  12. BPH (Benign Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran kelenjar prostat yang disebabkan adanya keseimbangan hormonal dalam tubuh sehingga terjadi hiperplasi (penambahan jumlah sel) pada kelenjar prostat


Source:
https://dosenbiologi.co.id/9-macam-gangguan-sistem-urinaria-pada-manusia/
https://gustinerz.com/7-penyakit-yang-sering-ditemukan-pada-sistem-urinaryperkemihan/
Sekilas tentang prostat

Prostat merupakan organ kecil seukuran kenari yang berada di bawah kandung kemih (tempat urin disimpan) dan mengelilingi uretra (tabung yang membawa air seni dari kandung kemih). Prostat mengeluarkan cairan semen, zat susu yang bergabung dengan sperma (yang diproduksi di testis) untuk membentuk air mani.

Macam-macam penyakit/gangguan prostat:

Benign prostatic hyperplasia (BPH)

BPH atau yang biasa dikenal dengan pembesaran prostat jinak terjadi ketika kelenjar prostat membesar, sehingga saluran kemih akan menyempit. Kondisi ini dapat menyebabkan otot kandung kemih menebal. Lambat laun, dinding kandung kemih akan melemah dan mengalami kesulitan untuk mengeluarkan urine dari kandung kemih.

Beberapa gejala yang muncul akibat pembesaran prostat jinak (BPH), antara lain:

  1. Susah buang air kecil.

  2. Aliran urine yang lemah dan tersendat-sendat.

  3. Merasa tidak tuntas usai buang air kecil.

  4. Merasa sering ingin buang air kecil di malam hari.


BPH umumnya terjadi seiring bertambahnya usia. Belum ada yang mengetahui secara pasti penyebab pembesaran prostat jinak. Namun, kondisi ini diperkirakan terjadi karena adanya perubahan pada kadar hormon seksual akibat proses penuaan.

Untuk mengatasi pembesaran prostat jinak (BPH), cara umum yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan obat-obatan. Golongan obat-obatan yang biasa diresepkan dokter kepada penderita pembesaran prostat jinak adalah:

Alpha-blocker, adalah jenis obat-obatan yang bekerja dengan cara merelaksasi otot leher kandung kemih dan otot di kelenjar prostat. Relaksasi otot membantu memudahkan buang air kecil. Jenis obat-obatan alpha-blocker misalnya alfuzosin, doxazosin, silodosin, tamsulosin, dan terazosin.
5-alpha reductase inhibitor, adalah jenis obat yang dapat mengurangi ukuran prostat dengan cara menghambat hormon-hormon pemicu pembesaran prostat. Obat finasteride dan dutasteride adalah dua jenis obat golongan 5-alpha reductase inhibitor.

Selain itu, prosedur pembedahan juga dapat dilakukan untuk memperbaiki gejala BPH dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Tindakan operasi umumnya disarankan untuk penderita BPH yang ukuran prostatnya sudah sangat besar atau memiliki keluhan yang berat.

Prostatitis

Prostatitis merupakan peradangan atau pembengkakan pada kelenjar prostat. Prostatitis lebih sering terjadi pada pria yang berusia lebih muda, antara 30-50 tahun. Prostatitis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, yang bisa berasal dari infeksi saluran kemih atau dari penyakit menular seksual. Namun pada beberapa kasus, penyebab prostatitis tidak dapat diketahui dengan pasti.

Penyebab prostatitis dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya, yaitu:

  • Prostatitis bakteri akut, diakibatkan oleh bakteri E. coli dan Pseudomonas.

  • Prostatitis bakteri kronis, disebabkan oleh penyebaran bakteri dari saluran kemih atau infeksi saluran kemih (ISK).

  • Chronic prostatitis/chronic pelvic pain syndrome (CP/CPPS), yang belum diketahui secara pasti penyebabnya.

  • Asymptomatic inflammatory prostatitis, yaitu kondisi di mana kelenjar prostat mengalami peradangan, namun tidak menimbulkan gejala apa pun.


Gejala prostatitis dapat bervariasi tergantung dari faktor pemicunya, di antaranya:

  1. Ada sensasi nyeri atau perih ketika buang air kecil.

  2. Terdapat darah saat buang air kecil.

  3. Kesulitan untuk buang air kecil.

  4. Seringnya buang air kecil, terutama pada malam hari.

  5. Aliran urine yang lemah.

  6. Rasa sakit ketika ejakulasi.

  7. Air mani berdarah.

  8. Disfungsi seksual atau kehilangan libido.


Prostatitis dapat diobati dengan pemberian obat-obatan seperti antibiotik untuk membasmi kuman penyebab radang pada prostat, pemberian obat antinyeri, dan obat untuk melemaskan otot kandung kemih (alpha blockers) yang juga digunakan untuk mengobati BPH.

Selain mengonsumsi obat, penderita prostatitis disarankan melakukan hal-hal yang membantu meredakan gejala prostatitis, seperti berendam air panas, membatasi konsumsi minuman beralkohol dan rokok, menghindari minuman berkafein, dan menghindari aktivitas yang membuat prostat menjadi iritasi, seperti bersepeda dan duduk terlalu lama.

Kanker prostat

Kanker prostat adalah pertumbuhan sel secara abnormal pada kelenjar prostat. Hingga kini, penyebab munculnya kanker prostat masih belum diketahui. Tapi terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat, yaitu faktor usia, riwayat keluarga, dan obesitas.

Kanker prostat biasanya tidak menimbulkan gejala apapun saat stadium awal. Namun pada stadium lanjut dapat menyebabkan gejala, seperti:

  1. Kesulitan buang air kecil.

  2. Penurunan aliran urine.

  3. Nyeri tulang dan rasa tidak nyaman di area panggul.

  4. Darah pada urine dan air mani.


Pengobatan kanker tergantung dari derajat pertumbuhan kanker dan kondisi kesehatan Anda. Secara umum penanganan kanker prostat bisa dengan terapi radiasi, terapi hormon, kemoterapi, dan pembedahan untuk mengangkat kelenjar prostat.

Apabila kanker prostat terdeteksi sedini mungkin pada stadium awal, keberhasilan untuk penyembuhan kanker akan semakin besar. Karena itu, penting melakukan pemeriksaan sesuai anjuran dokter, jika terdapat faktor risiko atau gejala.

Source: https://www.alodokter.com/mengenal-gangguan-prostat-dan-penyebabnya