Quetiapine

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antipsikotik > Quetiapine

By | 15/01/2015

Nama Generik: Quetiapine

Nama Merek: Seroquel

Definisi

Quetiapine adalah obat antipsikotik. Obat ini bekerja dengan merubah kerja zat kimia di dalam otak.

Quetiapine digunakan untuk merawat gejala kondisi psikotik seperti schizophrenia pada orang dewasa dan anak usia 13 tahun ke atas.

Quetiapine juga digunakan untuk merawat bipolar disorder (manic depression) pada orang dewasa usia 13 tahun ke atas.

Quetiapine juga digunakan bersamaan dengan obat antidepressant untuk mengobati gangguan depresif mayor pada orang dewasa.

Quetiapine juga digunakan untuk kebutuhan lain yang tidak tercantum di sini.

Informasi Penting

Quetiapine tidak digunakan pada penderita kondisi psikotik yang berhubungan dengan dementia. Quetiapine dapat menyebabkan kegagalan jantung, kematian tiba-tiba, atau pneumonia pada orang dewasa yang memiliki kondisi terkait dementia.

Hentikan penggunaan quetiapine dan segera hubungi dokter anda jika:
•    Demam tinggi
•    Otot sangat kaku
•    Berkeringat
•    Rasa kebingungan
•    Detak jantung cepat atau tidak beraturan
•    Gemetar
•    Gerakan otot yang tidak terkontrol
•    Kepala terasa ringan
•    Pandangan kabur
•    Sakit mata
•    Meningkatnya rasa haus dan buang air kecil lebih banyak
•    Lapar yeng berlebihan
•    Napas seperti aroma buah
•    Lemah
•    Mual dan muntah

Anda dapat merasa ingin bunuh diri ketika pertama kali menggunakan antidepressant, khususnya jika anda lebih muda dari usia 24 tahun. Dokter anda perlu untuk memeriksa kondisi anda paling sedikit 12 minggu pertama pengobatan.

Hubungi dokter anda jika anda mengalami gejala baru atau memburuknya: perubahan suasana hati, gelisah, serangan panik, sulit tidur, atau merasa sangat mudah marah, tersinggung, agresif, tidak bisa diam, hiperaktif (fisik atau mental), lebih depresi atau berpikir untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.

Efek Samping

Panggil pertolongan medis darurat jika anda memiliki tanda apapun dari reaksi alergi ini:
•    Gatal dengan bintik merah
•    Sulit bernapas
•    Pembengkakan pada wajah, bibir, lidah atau tenggorokan

Hubungi dokter anda jika anda mengalami gejala baru atau memburuknya: perubahan suasana hati, gelisah, serangan panik, sulit tidur, atau merasa sangat mudah marah, tersinggung, agresif, tidak bisa diam, hiperaktif (fisik atau mental), lebih depresi atau berpikir untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.

Hentikan penggunaan quetiapine dan segera hubungi dokter anda jika mengalami efek samping serius berikut:
•    Demam tinggi
•    Otot sangat kaku
•    Berkeringat
•    Rasa kebingungan
•    Detak jantung cepat atau tidak beraturan
•    Gemetar
•    Merasa akan pingsan
•    Gerakan otot yang tidak terkontrol, sulit menelan, masalah ketika berbicara
•    Pandangan kabur
•    Sakit mata
•    Melihat lingkaran cahaya ketika memandang
•    Meningkatnya rasa haus dan buang air kecil lebih banyak
•    Lapar yeng berlebihan
•    Napas seperti aroma buah
•    Lemah
•    Mual dan muntah
•    Demam, menggigil, tidak enak badan, gejala flu
•    Bercak putih atau luka di dalam mulut atau pada bibir

Efek Samping lainnya:
•    Pusing, mengantuk atau lemah
•    Mulut kering, radang tenggorokan
•    Mual, muntah
•    Sakit perut, konstipasi
•    Meningkatnya nafsu makan
•    Pembengkakan atau pengeluaran pada payudar4
•    Periode menstruasi yang tidak teratur
•    Meningkatnya berat badan

Gejala efek samping di atas belum lengkap dan dapat muncul gejala lain.

Sekilas Tentang Obat Antipsikotik

Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.