Laveric

By | April 9, 2020 | Farmasi-id.com > Sistem Kardiovaskular & Hematopoietik > Diuretik > Laveric

Kandungan dan Komposisi Laveric

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia. Kategori yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Berikut adalah kandungan dan komposisi dari Laveric:

Furosemide.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Laveric

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Berikut ini indikasi dari Laveric:

Edema krn gagal jantung & gagal ginjal, termasuk sirosis hepatis, penyakit ginjal termasuk sindroma nefrotik.

Kontraindikasi Laveric

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Laveric dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Anuria, gangguan ginjal, oliguria, hipokalemia, hiponatremia, & hipotensi.

Perhatian Penggunaan Laveric

Defisiensi elektrolit. Hamil & laktasi.

Efek Samping Laveric

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian Laveric:

Gangguan GI, SSP, & jantung, reaksi kulit & hematologi, hipersensitivitas; hiperglikemia, glukosuria, hiperurisemia, gangguan ginjal.

Interaksi Obat Laveric

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Laveric antara lain:

Hipokalemia, obat antigout, sefalosporin, salisilat, litium & glikosida jantng; alkohol, narkotik, barbiturat & adrenokortikoid.

Kategori Keamanan Penggunaan Laveric Pada Wanita Hamil

Kategori keamanan penggunaan obat untuk wanita hamil atau pregnancy category merupakan suatu kategori mengenai tingkat keamanan obat untuk digunakan selama periode kehamilan apakah memengaruhi janin atau tidak. Kategori ini tidak termasuk tingkat keamanan obat untuk digunakan oleh wanita menyusui. FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan tingkat keamanan obat untuk wanita hamil menjadi 6 (enam) kategori yaitu A, B, C, D, X, dan N. Anda bisa membaca definisi dari setiap kategori tersebut di sini. Berikut ini kategori tingkat keamanan penggunaan Laveric untuk digunakan oleh wanita hamil:

Kategori C: Studi pada binatang percobaan telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embroisidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau studi pada wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

(jika digunakan pada hipertensi gestasional)

Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko pada janin manusia, tetapi manfaat dari penggunaan obat ini pada wanita hamil dapat diterima meskipun berisiko pada janin (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Dosis dan Aturan Pakai Laveric

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Laveric:

Dws Edema Awal 20-80 mg dosis tunggal, bilaperlu dapat ditingkatkan 20-40 mg tiap 6-8 jam & dilanjutkan 1-2 x/hari. Edema berat Dpt ditingkatkan hingga 600 mg/hari. Anak Awal 1-2 mg/kg BB dosis tunggal, dapat ditingkatkan 1-2 mg/kg BB tiap 6-8 jam. Maks: 6 mg/kg BB. Hipertensi 40 mg 2 x/hari.

Sediaan, Kemasan, Harga Laveric

Laveric tablet 40 mg, 10 × 10’s (Rp22,000/boks)

Produsen Laveric

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Laveric:

Harsen

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Laveric Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Laveric, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Laveric?

Jika Anda lupa menggunakan Laveric, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Laveric Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Laveric?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Laveric yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Furosemide adalah suatu zat obat yang digunakan untuk mengatasi edema atau penumpukan cairan yang disebabkan oleh gagal jantung, sirosis hati, maupun penyakit ginjal. Selain itu furosemide juga digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi, gagal ginjal, sindrom nefrotik, dan terapi tambahan pada edema serebral maupun edema paru dimana diuresis yang cepat diperlukan via injeksi intravena. Furosemide juga digunakan dalam pengobatan hiperkalsemia (kondisi di mana kadar kalsium di dalam darah terlalu tinggi) yang parah.

Furosemide bekerja dengan cara menghambat cotransporter luminal Na-K-Cl dengan mengikatkan diri pada saluran transport chloride sehingga menyebabkan pengurangan natrium (sodium), chloride, dan potasium.

Penggunaan furosemide dikontraindikasikan pada mereka yang mengalami anuria dan riwayat hipersensitif terhadap furosemide maupun terhadap kandungan lainnya yang terdapat di dalamnya.

Hati-hati penggunaan furosemide khususnya jika mengalami efek hepatik, efek pada ginjal (terjadinya peningkatan azotemia dan oliguria) selama pemberian, anafilaksis (urtikaria, angiedema, hipotensi), potensi aktivasi lupus eritematosus sistemik, pasien yang sensitif terhadap sulfonamide dapat menunjukkan reaksi alergi, fotosensitivitas kemungkinan dapat terjadi. Diuresis yang eksesif dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan volume darah dengan kemungkinan trombosis vaskular dan embolisme, khususnya pada pasien lanjut usia. Risiko hipotensi ortostatik juga dapat terjadi. Perlu dilakukan pemantauan kemungkinan terjadinya diskrasia darah, kerusakan hati atau ginjal, maupun reaksi lainnya.

Efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah penggunaan furosemide diantaranya hipotensi ortostatik, pusing, ketidakseimbangan elektrolit (hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia, tinnitus, dan sensitif terhadap cahaya).

Penggunaan furosemide bersamaan dengan aspirin, obat diuretik lainnya (ethacrynic acid, hydrochlorthiazide), obat antihipertensi (doxazosin), dan sucralfate dapat menimbilkan interaksi obat. Penggunaan bersamaan dengan analgesik (OAINS) dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal, penggunaan bersamaan dengan antiaritmia berisiko menyebabkan toksisitas jantung, penggunaan bersamaan dengan antibakteria (aminoglycoside, polymyxin, dan vancomycin) dapat meningkatkan risiko ototoksisitas, penggunaan bersamaan dengan antidepresan (reboxetine) dapat menimbulkan risiko hipokalemia, penggunaan bersamaan dengan antiepilepsi (carbamazepine) dapat menyebabkan risiko hiponatremia, penggunaan bersamaan dengan antijamur (amphotericin) dapat menyebabkan hipokalemia, penggunaan bersamaan dengan antihipertensi (alpha-blockers) dapat menyebabkan hipotensi dan bersamaan dengan sotalol dapat menyebabkan aritmia, penggunaan bersamaan dengan antipsikotik (amisulpride, sertindole, pimozide) dapat menyebabkan risiko aritmia ventrikular, penggunaan bersamaan dengan siklosporin dapat menyebabkan risiko nefrotoksisitas, ototoksisitas, dan hepatotoksisitas.

Setelah pemberian secara oral, onset diuresis dapat terjadi dalam 30 menit hingga 1 jam, maksimal efek setelah 1-2 jam. Pemberian secara IV, diuresis dapat terjadi dalam lima menit dan puncaknya 20-60 menit. Efek diuresis akan bertahan selama 6-8 jam mengikuti pemberian oral dan sekira dua jam setelah pemberian secara intravena. Sekira 95% mengikat pada plasma protein (utamanya albumin). Furosemide dimetabolisme di dalam hati menjadi defurfurylated derivative, 4-chloro-5-sulfamoylanthranilic acid. Rute eliminasi adalah melalui urin yakni berkisar 50% dari dosis oral dan 80% dari dosis IV dan IM. Sisanya akan diekskresikan melalui feses sebagai komponen obat tidak berubah.

Furosemide tidak aman untuk digunakan oleh wanita hamil. Oleh karena itu FDA mengategorikannya dalam kategori C untuk tingkat keamanan penggunaan pada wanita hamil. Furosemide juga tidak aman untuk digunakan oleh wanita menyusui, sebab diketahui bahwa obat ini masuk ke dalam ASI. Konsultasikanlah dengan dokter.

Furosemide pertama kali dipatenkan pada 1959 dan mulai disetujui untuk digunakan secara luas oleh dunia medis pada 1964.
PT Harsen Laboratories merupakan suatu perusahaan farmasi yang didirikan pada 1971 oleh Bapak Harjoseno dan Ibu Runi Adiyanti. Awalnya perusahaan ini memiliki pabrik di Jakarta Pusat kemudian pada 1985 memindahkannya ke Jakarta Timur dengan luas area 30 ribu meter persegi dengan pabrik seluas 16 ribu meter persegi.

PT Harsen Laboratories telah mendapatkan sertifikat CPOB sehingga produk yang dihasilkan telah memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini seperti produk injeksi (Depo Progestin, Gestin F1), Non hormon (Neuroboran, Tranexamic, Vitamin B12, Kanamycin, Gentanal), Syrup (Decadryl Expectorant, Decamox, Mosavon), hormon (Pilkab, Pilkab FE), obat luar (Decatin tetes telinga, Kelydex tetes mata), dan lain-lain. Produk-produk yang diproduksi oleh PT Harsen Laboratories digolongkan ke dalam beberapa jenis diantaranya produk antipiretik, analgesik, antiinflamasi, obat batuk, obat antiasma, antidiare, antasida, vitamin, suplemen, antihipertensi, hemostatik, antidiabetes, penurun kolesterol dan trigliserida, antiparkinson, antituberkulosis, kortikosteroid, dan sebagainya. PT Harsen Laboratories memiliki kantor pusat di Jakarta Timur.
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *

Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2020, 9 April). Laveric. Diakses pada 28 Mei 2020, dari https://www.farmasi-id.com/laveric/


Format MLA (Modern Language Association)

"Laveric". Farmasi-id.com. 9 April 2020. 28 Mei 2020. https://www.farmasi-id.com/laveric/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Laveric", 9 April 2020, <https://www.farmasi-id.com/laveric/> [Diakses pada 28 Mei 2020]


Bagikan ke Rekan Anda