Inatrim

Farmasi-id.com > Antiinfeksi (Sistemik) > Inatrim

By | 14/05/2017 | Berikan Ulasan

Kandungan dan Komposisi Inatrim

Cotrimoxazole (trimethoprim 80 mg + sulfamethoxazole 400 mg) / tablet

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Inatrim

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Berikut ini indikasi dari Inatrim:

  • Infeksi saluran pernafasan : otitis media akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae. Eksaserbasi akut bronchitis kronis yang disebabkan oleh pneumoniae atau H. influenzae, sebagai obat alternatif jika obat golongan penicillin tidak dapat digunakan
  • Infeksi saluran pencernaan : sebagai pencegahan traveller diare yang disebabkan oleh bakteri E. coli, sebagai alternatif antibiotik golongan quinolon
  • Infeksi saluran kemih : obat ini juga bermanfaat untuk pengobatan infeksi saluran kemih yang disebabkan bakteri coli, Klebsiella, Enterobacter, Morganella morganii, Proteus mirabilis, atau P. vulgaris
  • Brucellosis dan kolera : obat ini adalah antibiotik alternatif untuk pengobatan brucellosis untuk pasien yang tidak bisa menggunakan tetracycline (misalnya anak-anak)
  • Infeksi mikobakteri : infeksi kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium marinum juga bisa menggunakan antibiotik ini
  • Pertusis : sebagai alternatif erythromycin
  • Demam tifus dan infeksi Salmonella lain : umumnya demam tifus diobati dengan antibiotik golongan quinolon atau cephalosporin generasi ketiga seperti ceftriaxone dan cefotaxime, namun cotrimoxazole sering digunakan sebagai alternatifnya

Cara Kerja Obat

cotrimoxazole adalah antibiotik kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole yang digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi bakteri. kombinasi ini dengan perbandingan satu bagian trimethoprim dan lima bagian sulfamethoxazole. Cotrimoxazole bekerja dengan cara menghambat enzim metabolisme asam folat pada bakteri yang peka. Trimethoprim sendiri adalah bakterisida sedangkan sulfamethoxazole adalah bakteriostatik. Dalam bentuk kombinasi, antibiotik ini berfungsi sebagai bakterisida. Cotrimoxazole bermanfaat untuk mengobati infeksi-infeksi oleh bakteri yang resisten sulfamethoxazole tapi masih peka terhadap trimethoprim.

Dosis dan Aturan Pakai Inatrim

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Inatrim:

  • Dosis dewasa : 2 x sehari 2 tablet
  • Dosis anak usia 5-12 tahun : 2 x sehari 1 tablet
  • Dosis anak usia 1-5 tahun : 2 x sehari 1/2 tablet
  • pada kondisi infeksi yang lebih berat, dosis dapat ditingkatkan

Catatan:

  • Dosis minimum dewasa dan jangka panjang (> 14 hari) : 2 x sehari 1 tablet
  • Minum air yang cukup untuk menghindari kristaluria
  • Pengobatan dilakukan paling sedikit 5 hari atau 2 hari setelah gejala hilang

Dosis menyesuaikan dengan masing-masing penyakit :

  • Dosis lazim dewasa untuk pneumocystis pneumonia :
    15 – 20 mg / kg / hari (trimethoprim ) secara oral atau intravena dibagi dalam  3 – 4 dosis setiap 6 – 8 jam, selama 14 – 21 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk pneumocystis pneumonia profilaksis :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral 1 x sehari
  • Dosis lazim dewasa untuk infeksi saluran kemih :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole 160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 10 – 14 hari.
    Infeksi berat: 8 – 10 mg / kg / hari (trimethoprim ) intravena dibagi dalam 2 – 4 dosis setiap 6, 8, atau 12 jam selama 14 hari. Dosis maksimum (trimethoprim ) adalah 960 mg / hari
  • Dosis lazim dewasa untuk pielonefritis (infeksi saluran ginjal) :
    Tanpa komplikasi : Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 7 – 14 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk eksaserbasi akut bronchitis kronis :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 14 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk traveller diare :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 5 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk otitis media :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam selama 10 – 14 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk cystitis profilaksis :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole 80 mg / 400 mg secara oral 1x sehari menjelang tidur
  • Dosis lazim dewasa untuk meningitis :
    5 mg / kg (trimethoprim) intravena setiap 6, 8, atau 12 jam selama 21 hari – 6 minggu. Bisa dikombinasikan dengan chloramphenicol jika pasiem alergi dengan antibiotik golongan betalaktam
  • Dosis lazim dewasa untuk pneumonia :
    2,5 mg – 5 mg / kg (trimethoprim) secara oral atau intravena setiap 6, 8 atau 12 jam. Lama pengobatan selama 21 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk prostatitis :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam. Jangka waktu pengobatan, akut : 10 – 14 hari; kronis :1 – 3 bulan
  • Dosis lazim dewasa untuk sinusitis :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg secara oral setiap 12 jam. Selama 10-14 hari
  • Dosis lazim dewasa untuk infeksi saluran pernapasan atas :
    Cotrimoxazole dengan kandungan trimethoprim / sulfamethoxazole  160 mg/800 mg  secara oral setiap 12 jam
  • Dosis lazim pediatric untuk otitis media :
    Usia ≥ 2 bulan : 4 mg / kg (trimethoprim) secara oral setiap 12 jam selama 10 hari
  • Dosis lazim pediatric untuk infeksi saluran kemih :
    Usia ≥ 2 bulan : 4 mg / kg (trimethoprim) secara oral setiap 12 jam selama 10 – 14 hari.
    Infeksi berat : 8 – 10 mg / kg / hari (trimetoprim) injeksi intravena dibagi dalam 2 – 4 setiap 6, 8, atau 12 jam selama 14 hari. Dosis maksimum trimethoprim adalah 960 mg/ hari
  • Dosis lazim pediatric untuk pneumocystis pneumonia :
    Usia ≥2 bulan : 15 – 20 mg / kg / hari (trimethoprim) secara oral atau injeksi intravena dibagi dalam 3 – 4 dosis,  setiap 6 – 8 jam selama 14 – 21 hari
  • Dosis lazim pediatric untuk pneumocystis pneumonia profilaksis :
    Usia ≥2 bulan : 75 mg / m2 (trimethoprim) secara oral 2x sehari. Dosis harian total (trimethoprim) tidak melebihi 320 mg
LAINNYA:  Ponalar

Kontra indikasi

  • Jangan menggunakan Inatrim untuk pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap  trimethoprim dan sulfamethoxazole, atau obat-obat golongan sulfonamide lainnya)
  • Penggunaan obat ini untuk pasien dengan gangguan hati dan ginjal yang berat sebaiknya dihindari
  • Jangan digunakan untuk wanita hamil terutama menjelang kelahiran, anak < 2 tahun (kecuali untuk pengobatan atau pencegahan pneumocytosis jiroveci (P. carinii) pada bayi dari usia empat minggu atau lebih)
  • Obat ini diketahui ikut keluar bersama air susu ibu, oleh karena itu pemakaian selama menyusui sebaiknya dikonsultasikan pada dokter

Efek Samping Inatrim

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian Inatrim:

Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat menggunakan antibiotik ini :

  • Efek samping Inatrim (cotrimoxazole) yang umum seperti mual, muntah, ruam, diare , demam, gatal nyeri otot dan sendi
  • Reaksi alergi yang parah bisa terjadi bagi orang-orang yang sensitif terhadap obat-obat golongan sulfonamide termasuk Inatrim (cotrimoxazole), seperti sindrom stevens-johnson, nekrolisis epidermal toksik, nekrosis hati fulminan, agranulositosis, anemia aplastik, dan diskrasia darah lainnya
  • Hati-hati terhadap kemungkinan super infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan jamur atau bakteri pada pencernaan
  • Obat ini bisa menyebabkan hemolisis pada pasien yang kekurangan enzim glukosa-6-fosfat  dehidrogenase (enzim yang berperan dalam produksi sel darah merah), terutama jika diberikan pada dosis yang tinggi
  • Pada pasien lanjut usia, efek samping lebih rentan terjadi misalnya penekanan sumsum tulang dan penurunan trombosit (terutama jika obat ini diberikan bersamaan dengan diuretik jenis tiazid)
LAINNYA:  Betaserc

Peringatan dan Perhatian

  • Inatrim (cotrimoxazole) harus dihentikan jika tanda-tanda awal reaksi alergi seperti ruam, gatal, sakit tenggorokan, demam, arthralgia, pucat, atau tanda-tanda lainnya muncul, karena jika terjadi bisa berakibat fatal
  • Obat ini harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang mempunyai penyakit asma bronkial
  • Orang-orang yang kekurangan folat seperti pasien lanjut usia, pecandu alkohol, sedang menggunakan obat anti konvulsan, atau oang-orang yng mengalami malnutrisi, jika menggunakan Inatrim (cotrimoxazole) harus mendapatkan perhatian serius
  • Seperti antibiotik lainnya obat ini harus digunakan sampai dosis yang disarankan habis. Jangan menghentikan pemakaian sebelum waktunya untuk menghindari terjadinya resistensi
  • Pasien yang menggunakan antibiotik ini harus mengkonsumsi cukup cairan untuk mencegah kristaluria

Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan cotrimoxazole kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

  • Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar
  • Hasil studi pada hewan tidak selalu bisa dijadikan ukuran keamanan penggunaan obat pada manusia. Oleh karena penelitian secara klinis yang terkendali dengan baik belum dilakukan, penggunaan obat-obat yang mengandung cotrimoxazole oleh ibu hamil harus dikonsultasikan dengan dokter

Interaksi Obat

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Inatrim antara lain:

  • ACE inhibitor seperti captopril, enalapril, lisinopril, dan ace inhibitor lainnya jika diberikan bersamaan Inatrim (cotrimoxazole), berpotensi terjadi hiperkalemia
  • Obat-obat antiaritmia : Inatrim (cotrimoxazole) meningkatkan resiko aritmia ventrikel pada pasien yang menggunakan amiodarone. Sedangkan pemberian bersamaan dengan obat dofetilide terjadi peningkatan resiko perpanjangan Interval QT
  • Kalium aminobenzoate menghambat efek obat-obat golongan sulfonamide (seperti sulfamethoxazole)
  • Obat-obat golongan sulfonilurea meningkatkan efek farmakologi Inatrim (cotrimoxazole)
  • Inatrim (cotrimoxazole) menghambat metabolisme phenytoin sehingga meningkatkan waktu paruhnya
  • Diuretik : obat-obat diuretik terutama golongan tiazide meningkatkan potensi terjadinya penurunan kadar trombosit, terutama untuk pasien usia lanjut
  • Inatrim (cotrimoxazole) menghambat klirens obat-obat antikoagulan dan meningkatkan protrombin time (PT) sehingga meningkatkan efek obat-obat ini
  • Jika diberikan bersamaan dengan siklosporin dapat meningkatkan resiko kerusakan ginjal pada pasien penerima transplantasi ginjal
  • Inatrim (cotrimoxazole) meningkatkan kadar digoxin dalam plasma terutama pada pasien usia lanjut
  • Antibiotik ini juga meningkatkan konsentrasi plasma obat-obat antivirus seperti lamivudine dan zalcitabine
  • Indomethacin meningkatkan konsentrasi sulfamethoxazole dalam plasma
  • Inatrim (cotrimoxazole) berpotensi meningkatkan efek samping berupa hipoglikemia pada pemakaian anti dibetes oral, seperti glibenclamide
  • Efek samping anemia megaloblastik terjadi ketika pemberian bersamaan Inatrim (cotrimoxazole) dan pyrimethamine
  • Pemberian bersamaan rifampisin dan Inatrim (cotrimoxazole) menyebabkan kadar rifampisin dalam plasma meningkat di sisi lain terjadi penurunan kadar trimethoprim
  • Inatrim (cotrimoxazole) menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma procainamide dan amantadine sehingga meningkatkan toksisitasnya
  • Jika diberikan bersamaan dengan clozapine dan antipsikotik lainnya, resiko efek samping hematologis meningkat
LAINNYA:  Megasonum

Kemasan dan Sediaan

Dus 100 tablet

Produsen Inatrim

Indofarma

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Inatrim Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Inatrim, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Inatrim?

Jika Anda lupa menggunakan Inatrim, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Inatrim Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Inatrim?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Inatrim yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Sekilas Tentang Sulfamethoxazole Pada Inatrim
Sulfamethoxazole termasuk dalam golongan obat antibiotik. Ia digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri seperti infeksi saluran kemih, bronkitis, dan prostatitis. Obat ini efektif untuk mengatasi bakteri gram negatif dan positif seperti Listeria monocytogenes dan E. coli.

Sulfamethoxazole pertama kali dikenalkan di Amerika Serikat pada 1961 dan biasanya digunakan bersama dengan kombinasi trimethoprim. Nama lain sulfamethoxazole antara lain sulfamethalazole, sulfisomezole, dan sulfamethazole. Cara kerja sulfamethoxazole yaitu dengan mengganggu sintesis bakteri dari asam folat. Folat merupakan metabolit esensial untuk pertumbuhan dan replikasi bakteri sebab ia digunakan dalam sintesis DNA. Oleh karenanya penghambatan produksi folat akan menghambat pula proses metabolisme untuk pertumbuhan bakteri. Sulfamethoxazole dianggap sebagai antibiotik bakteriostatik.
Sekilas Tentang Trimethoprim Pada Inatrim
Trimethoprim adalah obat yang biasa digunakan dalam terapi pengobatan infeksi kandung kemih. Selain itu ia juga digunakan dalam terapi pengobatan infeksi telinga bagian tengah dan diare pada musafir. Jika dikombinasikan dengan sulfamethoxazole atau dapsone maka ia bisa digunakan untuk terapi pneumonia pneumositis pada penderita HIV/AIDS.

Cara kerja trimethoprim adalah dengan berikatan dengan reduktase dihydrofolate yang menghambat reduksi dihydrofolic acid (DFH) menjadi tetrahydrofolic acid (THF), THF ini menjadi faktor penting dalam jalur sintesis thymidine dan menginterfensi atau mengganggu jalur ini akan menghambat sintesis DNA bakteri.

Trimethoprim pertama kali digunakan pada tahun 1962. Trimethoprim diketahui dapat masuk menembus plasenta dan dapat mengganggu pertumbuhan janin bahkan menyebabkan risiko bayi lahir cacat. Oleh karena itu tidak direkomendasikan untuk digunakan pada wanita hamil. FDA menggolongkan tingkat keamanan penggunaan pada wanita hamil terhadap trimethoprim masuk dalam kategori C.
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Tentang Infeksi
Infeksi atau jangkitan adalah kolonalisasi (mengacu pada mikroorganisme yang tidak bereplikasi pada jaringan yang ditempatinya. Sedangkan "infeksi" mengacu pada keadaan di mana mikroorganisme bereplikasi dan jaringan menjadi terganggu) yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat paling membahayakan inang.

Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.

Simbiosis antara parasit dan inang, di mana satu pihak diuntungkan dan satu pihak dirugikan, digolongkan sebagai parasitisme. Cabang kedokteran yang menitikberatkan infeksi dan patogen adalah cabang penyakit infeksi.
Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2017, 14 Mei). Inatrim. Diakses pada 25 Januari 2020, dari https://www.farmasi-id.com/inatrim/


Format MLA (Modern Language Association)

"Inatrim". Farmasi-id.com. 14 Mei 2017. 25 Januari 2020. https://www.farmasi-id.com/inatrim/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Inatrim", 14 Mei 2017, <https://www.farmasi-id.com/inatrim/> [Diakses pada 25 Januari 2020]


Bagikan ke Rekan Anda