Closol

Farmasi-id.com > Kulit > Kortikosteroid Topikal > Closol

By | 17/10/2017

Kandungan

Clobetasol propionate

Farmakologi

Clobetasol propionate merupakan golongan kortikosteroid sintetik, untuk penggunaan topikal pada kasus-kasus dermatologi. Clobetasol merupakan analog dari prednisolon yang memiliki tingkat aktivitas glukokortikoid yang tinggi dan tingkat aktivitas mineralokortikoid yang rendah.

Penggunaan utama obat golongan ini adalah sebagai antiinflamasi dan imunosupresan, Clobetasol propionate mempunyai efek antiinflamasi, antipruritus dan vasokonstriksi.

Farmakokinetik

  • Absorpsi kortikosteroid topikal melalui kulit termasuk Clobetasol propionate, ditentukan oleh banyak faktor, seperti: bahan pembawa, keutuhan kulit dan penggunaan perban/ pembalut/ plester.
  • Clobetasol propionate dapat diabsorpsi dari kulit normal yang masih utuh, inflamasi dan atau penyakit lain pada kulit dapat meningkatkan absorpsi perkutan, Penggunaan perban/ pembalut/ plester dapat meningkatkan absorpsi kortikosteroid topikal secara bermakna.
  • Setelah kortikosteroid topikal diabsorpsi melalui kulit, maka farmakokinetiknya serupa dengan pemberian kortikosteroid secara sistemik.
  • Kortikosteroid akan terikat pada protein plasma dalam berbagai tingkatan, dimetabolisme terutama di dalam hati dan kemudian diekskresikan melalui ginjal. Beberapa kortikosteroid, termasuk Clobetasol propionate dan metabolitnya juga diekskresi melalui empedu

Indikasi

Pengobatan jangka pendek inflamasi dan pruritus pada corticosteroid-responsive dermatoses tingkat sedang sampai dengan berat. seperti: psoriaris (tidak termasuk psoriasis plak yang luas), eksim yang membandel, liken planus, discoid lupus erythematosus dan pada kondisi dimana steroid yang kurang aktif tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Kontra Indikasi

  • Rosacea, perioral dermatitis, acne.
  • Pasien yang hipersensitif terhadap clobetasol propionate atau kortikosteroid lain serta bahan lain dalam sediaan ini.
  • Dermatosis pada anak-anak usia di bawah 1 tahun, termasuk dermatitis dan napkin eruption
  • Infeksi virus perkutan primer (seperti herpes simplex, cacar air)

Dosis

  • Gunakan 2 kali sehari, pada pagi dan malam hari.
  • Pengobatan melebihi 2 minggu secara berturut-turut tidak dianjurkan. Total dosis tidak boleh melebihi 50 gram per minggu, oleh karena kemampuan obat ini untuk menekan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis. Kulit yang sedang dalam pengobatan jangan diperban/ dibalut/ diplester

Efek samping

  • Efek samping yang paling sering terjadi adalah rasa terbakar dan rasa perih (sekitar 1 % dari pasien)
  • Efek samping yang jarang terjadi adalah rasa gatal, atrofi kulit dan kulit pecah-pecah
  • Efek sistemik: Cushing’s syndrome, hiperglikemia, dan glukosuria pernah dilaporkan

Peringatan dan perhatian

  • Clobetasol propionate pada dosis 2 g per hari selama 1 minggu, dapat menekan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis pada penderita eksim.
  • Hanya untuk pemakaian luar, hindari kontak dengan mata.
  • Hati-hati jika digunakan pada wanita hamil
  • Hati-hati jika diberikan pada ibu menyusui
  • Penggunaan pada anak-anak dibawah 12 tahun tidak dianjurkan.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi iritasi.
  • Penggunaan harus sesuai petunjuk dokter dan jangan digunakan melebihi waktu yang ditentukan
  • Diperlukan perhatian yang rutin dari pasien, jika pengobatan dilakukan pada bagian tubuh tertentu yang kulitnya cenderung mengalami atrofi karena pemakaian obat ini, seperti: muka, lipatan paha dan ketiak.
  • Bila ada infeksi dermatologik, perlu dikombinasi dengan obat antifungi atau antibakteri. Jika tidak terlihat manfaatnya, penggunaan kortikosteroid harus dihentikan sampai infeksinya telah terkontrol dengan memadai.

Penyimpanan

Simpan pada suhu di bawah 30°C, terlindung dari cahaya.

Kemasan dan Sediaan

Dus, tube 10 g, krim 0,5 mg

Izin BPOM

DKL0231521929A1

Produsen

Pratapa Nirmala

Sekilas tentang kortikosteroid topikal

Kortikosteroid topikal dipakai untuk mengobati radang kulit yang bukan disebabkan oleh infeksi, khususnya penyakit eksim, dermatitis kontak, gigitan serangga dan eksim skabies bersama-sama dengan obat skabies. Kortikosteroid menekan berbagai komponen reaksi pada saat digunakan saja; kortikosteroid sama sekali tidak menyembuhkan, dan bila pengobatan dihentikan kondisi semula mungkin muncul kembali. Obat-obat ini diindikasikan untuk menghilangkan gejala dan penekanan tanda-tanda penyakit bila cara lain seperti pemberian emolien tidak efektif.

Kortikosteroid topikal tidak berguna dalam pengobatan urtikaria dan dikontraindikasikan untuk rosasea dan kondisi ulseratif, karena kortikosteroid memperburuk keadaan. Kortikosteroid tidak boleh digunakan untuk sembarang gatal dan tidak direkomendasikan untuk akne vulgaris.

Kortikosteroid sistemik atau topikal yang kuat sebaiknya dihindari atau diberikan pada psoriasis hanya di bawah pengawasan dokter spesialis karena walaupun obat ini dapat menekan psoriasis dalam jangka pendek, bisa timbul kekambuhan karena penghentian obat bahkan kadang memicu psoriasis pustuler yang hebat. Pemakaian topikal kortikosteroid yang kuat pada psoriasis yang luas dapat menimbulkan efek samping sistemik dan lokal. Cukup meresepkan kortikosteroid yang lebih lemah untuk jangka waktu singkat (2-4 minggu) untuk psoriasis fleksural dan wajah (penting: pada wajah jangan gunakan yang lebih kuat dari hidrokortison 1%). Pada kasus psoriasis kulit kepala boleh menggunakan kortikosteroid yang lebih kuat seperti betametason atau fluosinonid.

Secara umum kortikosteroid topikal yang paling kuat hanya dicadangkan untuk dermatosis yang sukar diatasi seperti diskoid kronis lupus eritematosus, lichen simplex chronicus, hypertrophic lichen planus dan palmoplantar pustulosis. Kortikosteroid yang kuat tidak boleh digunakan pada wajah dan fleksur kulit, tetapi kadang-kadang pada keadaan tertentu dokter spesialis meresepkannya untuk daerah tersebut dengan pengawasan khusus. Bila pengobatan topikal gagal, injeksi kortikosteroid intralesi khusus digunakan hanya pada kasus-kasus tertentu saja dengan lesi setempat (seperti parut keloid, lichen planus hypertrofik atau alopecia localised areata).

PEMAKAIAN PADA ANAK

Anak-anak khususnya bayi sangat rentan terhadap efek samping. Namun, jangan karena profil keamanan kortikosteroid topikal, maka anak-anak menjadi tidak diobati. Tujuannya adalah untuk mengatasi kondisi sebaik mungkin; pengobatan yang tidak memadai akan memperparah kondisi. Kortikosteroid lemah seperti salep atau krim hidrokortison 1% bermanfaat untuk mengobati ruam popok dan untuk eksim atopik pada masa kanak-kanak. Kortikosteroid sedang sampai kuat cocok untuk eksim atopik parah pada anggota badan, digunakan hanya 1-2 minggu, bila kondisi membaik ganti ke sediaan yang kurang kuat. Pada keadaan kambuhan akut eksim atopik cocok menggunakan sediaan kortikosteroid kuat dalam jangka pendek untuk mengendalikan kondisi penyakit. Penggunaan harian terus menerus tidak dianjurkan meskipun kortikosteroid ringan seperti hidrokortison 1% sebanding dengan betametason 0,1% yang digunakan sesekali. Untuk bayi di bawah 1 tahun, hidrokortison merupakan satu-satunya kortikosteroid yang direkomendasikan penggunaannya. Kortikosteroid lain dengan potensi lebih kuat dikontraindikasikan. Untuk anak usia di atas 1 tahun, kortikosteroid topikal dengan potensi kuat dan kuat-sedang sebaiknya digunakan dengan sangat hati-hati dan hanya digunakan dalam jangka pendek (1-2 minggu). Kortikosteroid yang sangat poten hanya dapat digunakan berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis kulit. Kortikosteroid topikal untuk anak dapat digunakan pada kondisi berikut:

  • Gigitan dan sengatan serangga: kortikosteroid dengan potensi ringan seperti krim hidrokortison 1 %.

  • Ruam kulit yang disertai inflamasi berat akibat penggunaan popok pada bayi di atas 1 bulan: kortikosteroid dengan potensi ringan seperti hidrokortison 0,5 atau 1% selama 5-7 hari (dikombinasikan dengan antimikroba jika terjadi infeksi).

  • Eksim ringan hingga sedang, flexural dan eksim wajah atau psoriasis: kortikosteroid ringan seperti hidrokortison 1%.

  • Eksim berat di sekitar badan dan lengan pada anak usia di atas 1 tahun: kortikosteroid dengan potensi kuat atau kuat; sedang selama hanya 1-2 minggu; segera ganti ke sediaan dengan potensi lebih ringan pada saat kondisi membaik.

  • Eksim di sekitar area kulit yang mengeras (misal: telapak kaki): kortikosteroid topikal dengan potensi kuat dalam kombinasi dengan urea atau asama salisilat (untuk meningkatkan penetrasi kortikosteroid).


PILIHAN FORMULASI

Krim larut air untuk lesi yang lembab atau eksudatif dan salep umumnya dipilih untuk lesi yang kering, lichenified atau bersisik atau bila efek oklusif diperlukan. Losion mungkin berguna bila aplikasi minimal dibutuhkan untuk daerah yang luas atau untuk pengobatan luka eksudatif. Perban oklusif polythene meningkatkan absorpsi, tetapi juga meningkatkan efek samping. Oleh karena itu dipakai hanya di bawah pengawasan dalam jangka waktu pendek untuk daerah kulit yang sangat tebal (seperti telapak tangan dan kaki). Penambahan urea atau asam salisilat meningkatkan penetrasi dari kortikosteroid.

KEKUATAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL
PotensiContoh
RinganHidrokortison 1%
Kuat-sedangKlobetason butirat 0.05%
KuatBetametason 0,1% (sebagai valerat), Hidrokortison butirat
Sangat KuatKlobetasol propionat 0,05%

Sediaan yang mengandung kortikosteroid paling ringan dengan dosis efektif terendah merupakan salah satu pilihan. Sedapat mungkin pengenceran harus dihindari.

PERINGATAN

Hindari penggunaan jangka panjang kortikosteroid topikal pada wajah karena dapat meninggalkan bekas yang tidak hilang (dan hindarkan dari mata). Pada anak-anak hindari penggunaan jangka panjang dan penggunaan kortikosteroid kuat atau sangat kuat harus di bawah pengawasan dokter spesialis. Peringatan keras juga ditujukan pada dermatosis pada bayi termasuk ruam popok, pengobatan sebaiknya dibatasi 5-7 hari. PSORIASIS. Penggunaan kortikosteroid kuat dan sangat kuat pada psoriasis dapat menyebabkan penyakit muncul lagi, timbulnya psoriasis pustular yang merata dan toksisitas lokal dan sistemik.

KONTRA INDIKASI

Lesi kulit akibat bakteri, jamur atau virus yang tidak diobati; rosasea (jerawat rosasea) dan perioral dermatitis; kortikosteroid kuat dikontraindikasikan untuk plak psoriasis dengan sebaran yang luas.

EFEK SAMPING

Berbeda dengan golongan yang kuat dan sangat kuat, kelompok kortikosteroid sedang dan lemah jarang menyebabkan efek samping. Semakin kuat sediaannya, semakin perlu untuk berhati-hati, karena absorpsi dari kulit dapat menyebabkan penekanan adrenal dan Cushing syndrome (lihat 8.3.2) tergantung dari daerah tubuh yang diobati dan lamanya pengobatan. Perlu diingat bahwa absorpsi terbanyak terjadi dari kulit yang tipis, permukaan kasar serta daerah lipatan kulit dan absorpsi ditingkatkan oleh adanya oklusi.

Efek samping lokal meliputi:

  • Penyebaran dan perburukan infeksi yang tidak diobati;

  • Penipisan kulit yang belum tentu pulih setelah pengobatan dihentikan karena struktur asli mungkin tak akan kembali;

  • Striae atrofis yang menetap;

  • Dermatitis kontak;

  • Dermatitis perioral;

  • Jerawat, perburukan jerawat atau rosasea;

  • Depigmentasi ringan; yang mungkin hanya sementara tetapi bisa menetap sebagai bercak-bercak putih;

  • Hipertrikosis.


Untuk meminimalkan efek samping kortikosteroid topikal, pemakaian sediaan ini hendaknya dioleskan secara tipis saja pada daerah yang akan diobati dan gunakan kortikosteroid yang paling kecil kekuatannya tapi efektif.

FREKUENSI APLIKASI

Sediaan kortikosteroid sebaiknya diberikan sekali atau dua kali sehari saja. Tidak perlu mengoleskan obat ini lebih sering. Kortikosteroid topikal diratakan secara tipis pada kulit. Panjang/banyaknya salep/krim yang dikeluarkan dari tube dapat digunakan untuk menentukan banyaknya obat yang dioleskan pada kulit. Berikut ini adalah besar kemasan sediaan kortikosteroid yang tepat untuk peresepan bagi daerah tubuh tertentu.
Bagian tubuhKrim dan Salep
Wajah dan leher15 hingga 30 g
Tangan15 hingga 30 g
Kulit kepala15 hingga 30 g
Lengan30 hingga 60 g
Kaki100 g
Badan100 g
Selangkangan dan alat kelamin15 hingga 30 g

Jumlah ini biasanya cocok untuk dewasa dengan penggunaan dua kali sehari selama seminggu. Mencampur sediaan topikal pada kulit se-dapat mungkin sebaiknya dihindari, sekurang-kurangnya sebaiknya berselang 30 menit antara pemakaian sediaan yang berbeda. Penggunaan emolien sesaat sebelum pemakaian kortikosteroid adalah tidak tepat.