Apazol

By | Juni 15, 2020 | Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Ansiolitik > Apazol

Kandungan dan Komposisi Apazol

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia. Kategori yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Berikut adalah kandungan dan komposisi dari Apazol:

  • Apazol 0,25: Tiap tablet mengandung alprazolam 0,25 mg
  • Apazol 0,5: Tiap tablet mengandung alprazolam 0,5 mg
  • Apazol 1: Tiap tablet mengandung alprazolam 1 mg

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Apazol

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Berikut ini indikasi dari Apazol:

  • Ansietas atau mengurangi gejala ansietas jangka pendek
  • Penyakit panik dengan atau tanpa agorafobia

Dosis dan Aturan Pakai Apazol

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Apazol:

Ansietas atau gejala sementara ansietas:

Dosis awal 0,25-0,5 mg, 3 kali sehari.
Dosis harian maksimal: 4 mg terbagi dalam 2 dosis.

Penyakit hati berat, pasien usia lanjut dan pasien dengan kondisi lemah:

Dosis lazim: 0,25 mg 2 atau 3 kali sehari, dapat ditingkatkan secara gradual.

Gangguan panik:

5-6 mg per hari.

Kontraindikasi Apazol

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Apazol dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

  • Penderita yang sensitif terhadap komponen obat atau senyawa benzodiazepine
  • Glaukoma sudut sempit akut, miastenia gravis, insufisiensi pulmonari akut, fobia dan psikosis kronik
  • Anak dan bayi premature

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Apazol

  • Dapat menyebabkan ketergantungan
  • Jangan digunakan untuk pengobatan tunggal pada pasien yang mengalami depresi atau ansietas dengan depresi
  • Penyakit hati dan ginjal kronik, gangguan respirasi, kelemahan otot, riwayat penyalahgunaan obat atau alkohol, gangguan kepribadian
  • Wanita hamil dan meyusui
  • Pasien usia lanjut dan pasien kondisi lemah
  • Anak di bawah 10 tahun
  • Penderita pulmonary insufficiency kronik

Efek Samping Apazol

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian Apazol:

Mengantuk, kelemahan otot, ataksia, amnesia, depresi, light-headedness, konfusi, halusinasi, penglihatan kabur.

Efek Samping Apazol

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Berikut ini beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian Apazol:

Penghambat SSP, alkohol, barbiturat, simetidin.

Kemasan dan Sediaan Apazol

  • Apazol 0,25. Kotak, 10 strip @ 10 tablet
  • Apazol 0,5. Kotak, 10 strip @ 10 tablet
  • Apazol 1. Kotak, 10 strip @ 10 tablet

Produsen Apazol

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Apazol:

Dexa Medica

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Apazol Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Apazol, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Apazol?

Jika Anda lupa menggunakan Apazol, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Apazol Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Apazol?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Apazol yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Alprazolam merupakan suatu zat obat yang digunakan dalam terapi pengobatan jangka pendek gangguan kecemasan khususnya gangguan panik, GAD (generalized anxiety disorder), nausea akibat efek obat kemoterapi, dan lain-lain. Alprazolam tersedia dalam bentuk oral yakni berupa tablet dengan kekuatan 0,25 mg, 0,5 mg, 1 mg, dan 2 mg. Untuk tablet lepas lambat tersedia dengan kekuatan 0,5 mg, 1 mg, 2 mg, dan 3 mg. Obat ini dikonsumsi melalui mulut. Biasanya gejala gangguan kecemasan akan membaik dalam waktu seminggu.

Pada terapi gangguan kecemasan yang berhubungan dengan depresi, alprazolam hanya efektif untuk digunakan dalam waktu empat bulan. Dalam suatu penelitian, penggunaan dosis tinggi pada pasien ansietas justru akan mengalami depresi reversibel. Di Inggis penggunaan alprazolam untuk terapi kecemasan dibatasi hanya untuk periode dua hingga empat minggu. Dalam terapi gangguan kepanikan, alprazolam hanya efektif untuk digunakan dalam jangka waktu empat hingga sepuluh minggu, namun pada beberapa pasien, terapi menggunakan alprazolam dilakukan hingga waktu delapan bulan tanpa mengalami penurunan efikasi. Di Amerika Serikat obat ini disetujui FDA untuk gangguan panik, baik yang disertai agoraphobia maupun tidak. Pada beberapa kasus, alprazolam juga digunakan untuk mengatasi nausea yang disebabkan oleh efek samping obat-obatan kemoterapi.

Alprazolam sendiri adalah suatu obat triazolobenzodiazepine yang berinteraksi dengan reseptor BNZ-1, BNZ-2, dan GABA-A dengan menjalin ikatan dengan BNZ-1 yang dipercaya berpengaruh terhadap efek sedasi dan antiansietas, BNZ-2 memberikan efek pada memori, koordinasi, relaksasi otot, dan aktivitas antikonvulsan, serta GABA-A yang memberikan efek ketenangan pada pasien dengan meningkatkan afinitas GABA-A terhadap GABA. Alprazolam dimetabolisme di dalam hati oleh enzim CYP3A4 sehingga menghasilkan hydroxyalprazolam, α-hydroxyalprazolam, dan komponen tidak aktif lainnya. Zat-zat ini kemudian disaring di ginjal dan dibuang melalui urin.

Beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian alprazolam antara lain, gangguan konsentrasi, ataksia, pusing, fatigue, vertigo, mulut kering, halusinasi (jarang), kejang (sangat jarang), ruam kulit, gangguan pernapasan, retensi utin, kelemahan otot, dan lain-lain yang tidak disebutkan dalam daftar ini. Alprazolam memiliki efek sedasi dan efek penarikan. Hati-hati terhadap penyalahgunaan obat ini karena berisiko mengalami ketergantungan dan overdosis yang dapat berujung pada kematian. Pasien hanya boleh mengonsumsi obat ini atas petunjuk dan pengawasan dokter.

Alprazolam dikontraindikasikan penggunaannya pada pasien yang menggunakan obat-obatan penghambat CYP3A seperti ketoconazole, itraconazole, cimetidine, erythromycin, norfluoxetine, fluvoxamine, nefazodone, dan lain sebagainya. hati-hati penggunaan alprazolam pada anak-anak, pasien pengguna alkohol, wanita hamil, orang lanjut usia, pasien myasthenia gravis, glaukoma, gangguan hati, dan lain-lain yang tidak disebutkan dalam daftar ini.

Alprazolam pertama kali dikembangkan di Upjohn Laboratories di Michigan, Amerika Serikat pada akhir tahun 1969. Salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan obat ini adalah Dr. David Sheehan. Awalnya penelitian dilakukan untuk menemukan obat pembantu tidur dengan efek relaksan otot. Namun kemudian peneliti menemukan manfaat lain yakni obat tersebut mampu menurunkan gangguan kecemasan, panik, dan gangguan mood. Obat ini pertama kali dipatenkan pada 1976 dan dijual dengan nama brand Xanax pada 1981. Saat ini Upjohn Laboratories (Upjohn company) menjadi bagian dari Pfizer.

Penggunaan obat ini oleh wanita hamil dan menyusui tidak direkomendasikan karena obat ini masuk menembus plasenta, masuk ke dalam fetus, dan masuk diekskresi juga di dalam ASI. Risiko bayi lahir cacat dapat terjadi. Oleh sebab itu FDA mengategorikan tingkat keamanan penggunaan alprazolam pada wanita hamil dan menyusui masuk dalam kategori D.

Dexa Medica adalah suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 1969 oleh Drs. Rudy Soetikno Apt. seroang apoteker muda yang pernah bertugas sebagai tentara. Dikarenakan pernah terjadi kelangkaan pasokan obat, maka ia bersama rekannya mulai mendirikan sebuah perusahaan farmasi kecil dengan produk obat tablet.

Karena semakin meningkatnya permintaan, maka Dexa Medica meningkatkan kuantitas produksinya sehingga pada 1975 produknya telah tersedia di seluruh pulau Sumatera, dan pada 1978, produk perusahaan ini telah tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai perusahaan nasional, maka pada 1984 perusahaan ini mendirikan kantor pemasaran di Jakarta. Perusahaan ini pun semakin berkembang dan dibuktikan dengan produk-produknya yang berhasil menembus pasar negara-negara Asia dan Afrika sekaligus menjadikan Dexa Medica menjadi salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Saat ini posisi CEO perusahaan dijabat oleh Ir. Ferry A. Soetikno, M.Sc., M.B.A.
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Tentang Obat Ansiolitik
Ansiolitik disebut juga antipanik atau agen ansietas adalah obat atau zat yang menghambat kecemasan. Obat-obat ansiolitik telah digunakan untuk pengobatan gangguan kecemasan dan gejala-gejala psikologis dan fisiknya. Terapi cahaya dan intervensi lain juga diketahui memiliki efek ansiolitik.

Penghambat beta-reseptor seperti propranolol dan oxprenolol meskipun bukan ansiolitik, dapat digunakan untuk melawan gejala kecemasan somatik seperti takikardia dan jantung berdebar. Ansiolitik juga disebut sebagai obat penenang minor. Istilah ini kurang umum dalam naskah dan jurnal ilmiah dan pada awalnya berasal dari dikotomi dengan obat penenang utama, juga dikenal sebagai neuroleptik atau antipsikotik. Ada kekhawatiran bahwa beberapa GABAergik, seperti benzodiazepin dan barbiturat, mungkin memiliki efek ansiogenik jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Ansiogenik adalah obat atau zat yang memiliki efek yang meningkatkan kecemasan.

Beberapa jenis obat yang termasuk ansiolitik antara lain:

Barbiturat memberikan efek ansiolitik namun risiko penyalahgunaan dan efek sedasi yang ditimbulkan cukup tinggi. Banyak ahli menganggap obat ini sudah terlalu usang untuk mengobati kecemasan tetapi masih berguna untuk pengobatan jangka pendek dari insomnia berat, meskipun hanya digunakan jika terapi dengan benzodiazepin atau non-benzodiazepin telah gagal.

Benzodiazepine digunakan untuk menghilangkan kecemasan parah dalam jangka pendek dan jangka panjang. Benzodiazepine juga dapat diindikasikan untuk menutupi periode laten terkait dengan obat yang diresepkan untuk mengobati gangguan kecemasan yang mendasarinya. Benzodiazepine digunakan untuk mengobati berbagai kondisi dan gejala dan biasanya merupakan pilihan pertama ketika SSP jangka pendek diperlukan. Jika benzodiazepine dihentikan dengan cepat setelah diminum setiap hari selama dua minggu atau lebih, ada risiko penarikan benzodiazepine dan sindrom rebound, yang bervariasi tergantung obat spesifiknya. Toleransi dan ketergantungan juga dapat terjadi, tetapi mungkin dapat diterima secara klinis. Penyalahgunaan obat benzodiazepine lebih kecil daripada dalam kasus barbiturat. Efek samping kognitif dan perilaku mungkin dapat terjadi. Obat yang termasuk dalam benzodiazepin meliputi:

  • Alprazolam (Xanax)

  • Bromazepam (Lectopam, Lexotan)

  • Chlordiazepoxide (Librium)

  • Clonazepam (Klonopin, Rivotril)

  • Clorazepate (Tranxene)

  • Diazepam (Valium)

  • Flurazepam (Dalmane)

  • Lorazepam (Ativan)

  • Oxazepam (Serax, Serapax)

  • Temazepam (Restoril)

  • Triazolam (Halcion)

Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2020, 15 Juni). Apazol. Diakses pada 3 Juli 2020, dari https://www.farmasi-id.com/apazol/


Format MLA (Modern Language Association)

"Apazol". Farmasi-id.com. 15 Juni 2020. 3 Juli 2020. https://www.farmasi-id.com/apazol/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Apazol", 15 Juni 2020, <https://www.farmasi-id.com/apazol/> [Diakses pada 3 Juli 2020]


Bagikan ke Rekan Anda