Analsik

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) > Analsik

By | 14/08/2015
ProdusenSanbe
KomposisiMethampyrone 500 mg, diazepam 2 mg.
IndikasiMeredakan nyeri sedang hingga berat, terutama kolik & nyeri pasca op, jika perlu diberikan terapi kombinasi dengan trankuilizer. Sakit kepala, terutama yang disebabkan krn faktor psikis, neuralgia.
DosisDws 1 kapl, jika nyeri tetap timbul, lanjutkan dengan 1 kapl tiap 6-8 jam. Maks: 4 kapl/hari.
Pemberian ObatSebaiknya diberikan bersama makanan : Berikan sesudah makan.
Kontra IndikasiBayi usia 1 bln pertama. TD <100 mmHg, psikosis akut. Hamil, laktasi.
PerhatianGangguan fungsi hati & ginjal, pasien depresi berat, pasien dengan kelainan darah.
Efek Samping yang Mungkin TimbulMengantuk, pusing, amnesia, gangguan penglihatan, hipotensi, ketergantungan, agranulositosis, reaksi alergi.
Interaksi ObatKlorpromazin, simetidin, alkohol, obat depresan SSP lain.
Bentuk SediaanKemasan/Harga
Analsik FC caplet
10 × 10’s (Rp106,000/boks)
sekilas tentang Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) adalah kelas obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, mengurangi demam, mencegah pembekuan darah dan, dalam dosis yang lebih tinggi, mengurangi peradangan. Istilah nonsteroid membedakan obat ini dari steroid, walaupun memiliki efek antiinflamasi eicosanoid yang serupa dan memiliki berbagai efek lainnya. OAINS pertama kali digunakan pada tahun 1960, istilah ini digunakan untuk menjauhkan obat-obatan ini dari steroid, yang pada saat steroid distigma negatif akibat penyalahgunaan steroid anabolik. OAINS bekerja dengan menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX-1 dan / atau COX-2). Dalam sel, enzim-enzim ini terlibat dalam sintesis mediator biologis utama, yaitu prostaglandin yang terlibat dalam peradangan, dan tromboksan yang terlibat dalam pembekuan darah.

Ada dua jenis OAINS yang tersedia yaitu non-selektif dan COX-2 selektif. Sebagian besar OAINS bersifat non-selektif, dan menghambat aktivitas COX-1 dan COX-2. OAINS ini selain mengurangi peradangan, juga menghambat agregasi trombosit (terutama aspirin) dan meningkatkan risiko ulkus/perdarahan gastrointestinal. Inhibitor selektif COX-2 memiliki lebih sedikit efek samping gastrointestinal, tetapi meningkatkan trombosis dan secara substansial meningkatkan risiko serangan jantung. Akibatnya, inhibitor selektif COX-2 umumnya dikontraindikasikan karena risiko tinggi penyakit vaskular yang tidak terdiagnosis. Efek diferensial ini disebabkan oleh peran dan lokalisasi jaringan yang berbeda dari masing-masing isoenzim COX. Dengan menghambat aktivitas COX fisiologis, semua OAINS meningkatkan risiko penyakit ginjal dan serangan jantung.

OAINS yang paling dikenal adalah aspirin, ibuprofen, dan naproxen, semuanya tersedia secara bebas di sebagian besar negara. Paracetamol (acetaminophen) umumnya tidak dianggap sebagai OAINS karena hanya memiliki aktivitas anti-inflamasi kecil. Paracetamol mengobati rasa sakit terutama dengan memblokir COX-2, sebagian besar di sistem saraf pusat, tetapi tidak banyak di seluruh tubuh. Efek samping OAINS tergantung pada spesifik obat, tetapi sebagian besar mencakup peningkatan risiko ulkus dan perdarahan gastrointestinal, serangan jantung dan penyakit ginjal.