Xanax/Xanax XR

By | Juni 18, 2020 | Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Ansiolitik > Xanax/Xanax XR

Kandungan dan Komposisi Xanax/Xanax XR

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Xanax/Xanax XR adalah:

Alprazolam.

Detail informasi kandungan:
Alprazolam merupakan suatu zat obat yang digunakan dalam terapi pengobatan jangka pendek gangguan kecemasan khususnya gangguan panik, GAD (generalized anxiety disorder), nausea akibat efek obat kemoterapi, dan lain-lain. Alprazolam tersedia dalam bentuk oral yakni berupa tablet dengan kekuatan 0,25 mg, 0,5 mg, 1 mg, dan 2 mg. Untuk tablet lepas lambat tersedia dengan kekuatan 0,5 mg, 1 mg, 2 mg, dan 3 mg. Obat ini dikonsumsi melalui mulut. Biasanya gejala gangguan kecemasan akan membaik dalam waktu seminggu.

Pada terapi gangguan kecemasan yang berhubungan dengan depresi, alprazolam hanya efektif untuk digunakan dalam waktu empat bulan. Dalam suatu penelitian, penggunaan dosis tinggi pada pasien ansietas justru akan mengalami depresi reversibel. Di Inggis penggunaan alprazolam untuk terapi kecemasan dibatasi hanya untuk periode dua hingga empat minggu. Dalam terapi gangguan kepanikan, alprazolam hanya efektif untuk digunakan dalam jangka waktu empat hingga sepuluh minggu, namun pada beberapa pasien, terapi menggunakan alprazolam dilakukan hingga waktu delapan bulan tanpa mengalami penurunan efikasi. Di Amerika Serikat obat ini disetujui FDA untuk gangguan panik, baik yang disertai agoraphobia maupun tidak. Pada beberapa kasus, alprazolam juga digunakan untuk mengatasi nausea yang disebabkan oleh efek samping obat-obatan kemoterapi.

Alprazolam sendiri adalah suatu obat triazolobenzodiazepine yang berinteraksi dengan reseptor BNZ-1, BNZ-2, dan GABA-A dengan menjalin ikatan dengan BNZ-1 yang dipercaya berpengaruh terhadap efek sedasi dan antiansietas, BNZ-2 memberikan efek pada memori, koordinasi, relaksasi otot, dan aktivitas antikonvulsan, serta GABA-A yang memberikan efek ketenangan pada pasien dengan meningkatkan afinitas GABA-A terhadap GABA. Alprazolam dimetabolisme di dalam hati oleh enzim CYP3A4 sehingga menghasilkan hydroxyalprazolam, α-hydroxyalprazolam, dan komponen tidak aktif lainnya. Zat-zat ini kemudian disaring di ginjal dan dibuang melalui urin.

Beberapa efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian alprazolam antara lain, gangguan konsentrasi, ataksia, pusing, fatigue, vertigo, mulut kering, halusinasi (jarang), kejang (sangat jarang), ruam kulit, gangguan pernapasan, retensi utin, kelemahan otot, dan lain-lain yang tidak disebutkan dalam daftar ini. Alprazolam memiliki efek sedasi dan efek penarikan. Hati-hati terhadap penyalahgunaan obat ini karena berisiko mengalami ketergantungan dan overdosis yang dapat berujung pada kematian. Pasien hanya boleh mengonsumsi obat ini atas petunjuk dan pengawasan dokter.

Alprazolam dikontraindikasikan penggunaannya pada pasien yang menggunakan obat-obatan penghambat CYP3A seperti ketoconazole, itraconazole, cimetidine, erythromycin, norfluoxetine, fluvoxamine, nefazodone, dan lain sebagainya. hati-hati penggunaan alprazolam pada anak-anak, pasien pengguna alkohol, wanita hamil, orang lanjut usia, pasien myasthenia gravis, glaukoma, gangguan hati, dan lain-lain yang tidak disebutkan dalam daftar ini.

Alprazolam pertama kali dikembangkan di Upjohn Laboratories di Michigan, Amerika Serikat pada akhir tahun 1969. Salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan obat ini adalah Dr. David Sheehan. Awalnya penelitian dilakukan untuk menemukan obat pembantu tidur dengan efek relaksan otot. Namun kemudian peneliti menemukan manfaat lain yakni obat tersebut mampu menurunkan gangguan kecemasan, panik, dan gangguan mood. Obat ini pertama kali dipatenkan pada 1976 dan dijual dengan nama brand Xanax pada 1981. Saat ini Upjohn Laboratories (Upjohn company) menjadi bagian dari Pfizer.

Penggunaan obat ini oleh wanita hamil dan menyusui tidak direkomendasikan karena obat ini masuk menembus plasenta, masuk ke dalam fetus, dan masuk diekskresi juga di dalam ASI. Risiko bayi lahir cacat dapat terjadi. Oleh sebab itu FDA mengategorikan tingkat keamanan penggunaan alprazolam pada wanita hamil dan menyusui masuk dalam kategori D.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Xanax/Xanax XR

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Xanax/Xanax XR adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Ansietas (ggn cemas), termasuk neurosis ansietas, gangguan & gejala-gejala ansietas. Kombinasi ansietas & depresi termasuk ansietas yang disertai depresi. Gangguan panik dengan atau tanpa disertai agorafobia.

Sekilas Tentang Obat Ansiolitik
Ansiolitik disebut juga antipanik atau agen ansietas adalah obat atau zat yang menghambat kecemasan. Obat-obat ansiolitik telah digunakan untuk pengobatan gangguan kecemasan dan gejala-gejala psikologis dan fisiknya. Terapi cahaya dan intervensi lain juga diketahui memiliki efek ansiolitik.

Penghambat beta-reseptor seperti propranolol dan oxprenolol meskipun bukan ansiolitik, dapat digunakan untuk melawan gejala kecemasan somatik seperti takikardia dan jantung berdebar. Ansiolitik juga disebut sebagai obat penenang minor. Istilah ini kurang umum dalam naskah dan jurnal ilmiah dan pada awalnya berasal dari dikotomi dengan obat penenang utama, juga dikenal sebagai neuroleptik atau antipsikotik. Ada kekhawatiran bahwa beberapa GABAergik, seperti benzodiazepin dan barbiturat, mungkin memiliki efek ansiogenik jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Ansiogenik adalah obat atau zat yang memiliki efek yang meningkatkan kecemasan.

Beberapa jenis obat yang termasuk ansiolitik antara lain:

Barbiturat memberikan efek ansiolitik namun risiko penyalahgunaan dan efek sedasi yang ditimbulkan cukup tinggi. Banyak ahli menganggap obat ini sudah terlalu usang untuk mengobati kecemasan tetapi masih berguna untuk pengobatan jangka pendek dari insomnia berat, meskipun hanya digunakan jika terapi dengan benzodiazepin atau non-benzodiazepin telah gagal.

Benzodiazepine digunakan untuk menghilangkan kecemasan parah dalam jangka pendek dan jangka panjang. Benzodiazepine juga dapat diindikasikan untuk menutupi periode laten terkait dengan obat yang diresepkan untuk mengobati gangguan kecemasan yang mendasarinya. Benzodiazepine digunakan untuk mengobati berbagai kondisi dan gejala dan biasanya merupakan pilihan pertama ketika SSP jangka pendek diperlukan. Jika benzodiazepine dihentikan dengan cepat setelah diminum setiap hari selama dua minggu atau lebih, ada risiko penarikan benzodiazepine dan sindrom rebound, yang bervariasi tergantung obat spesifiknya. Toleransi dan ketergantungan juga dapat terjadi, tetapi mungkin dapat diterima secara klinis. Penyalahgunaan obat benzodiazepine lebih kecil daripada dalam kasus barbiturat. Efek samping kognitif dan perilaku mungkin dapat terjadi. Obat yang termasuk dalam benzodiazepin meliputi:

  • Alprazolam (Xanax)

  • Bromazepam (Lectopam, Lexotan)

  • Chlordiazepoxide (Librium)

  • Clonazepam (Klonopin, Rivotril)

  • Clorazepate (Tranxene)

  • Diazepam (Valium)

  • Flurazepam (Dalmane)

  • Lorazepam (Ativan)

  • Oxazepam (Serax, Serapax)

  • Temazepam (Restoril)

  • Triazolam (Halcion)

Dosis dan Aturan Pakai Xanax/Xanax XR

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Xanax/Xanax XR:

Xanax: Ansietas Awal 0.75-1.5 mg/hari dalam dosis terbagi. Pemeliharaan: 0.5-4 mg/hari dalam dosis terbagi. Gangguan panik Awal 0.5-1 mg pada saat menjelang tidur atau 0.5 mg 3 x/hari. Pemeliharaan: Sesuaikan dengan respons pasien. Penambahan dosis tidak boleh melebihi 1 mg, dan dilakukan dengan selang waktu 3-4 hari. Maks: 10 mg/hari. Lanjut usia Dosis awal & pemeliharaan: 0.5-0.75 mg/hari dalam dosis terbagi. Xanax XR: 0.5-1 mg 1 x/hari.

Pemberian Obat Xanax/Xanax XR

Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan : Efek Samping, seperti mengantuk, dapat dikurangi jika obat diberikan segera sesudah makan. Xanax XR: Telan utuh, jangan dikunyah/dihancurkan.

Kontraindikasi Xanax/Xanax XR

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Xanax/Xanax XR dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Glaukoma sudut sempit akut. Xanax: Hipersensitif terhadap benzodiazepin & alprazolam.

Perhatian Penggunaan Xanax/Xanax XR

Pasien depresi atau ingin bunuh diri. Gagal ginjal & hati. Dpt mengganggu kemampuan mengemudi kendaraan atau menjalankan mesin. Hamil & laktasi. Anak ≤18 tahun. Xanax: Gejala-gejala putus obat, hipomania, & mania. Xanax XR: Individu yang cenderung menyalahgunakan obat. Pasien dengan diagnosis primer skizofrenia. Hindari penghentian terapi secara mendadak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Xanax/Xanax XR Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Xanax/Xanax XR?

Jika Anda lupa menggunakan Xanax/Xanax XR, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Xanax/Xanax XR Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Xanax/Xanax XR?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Xanax/Xanax XR yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Efek Samping Xanax/Xanax XR

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Xanax/Xanax XR yang mungkin terjadi adalah:

Mengantuk. Xanax: Berbicara cadel, somnolen, gangguan kecerdasan, anoreksia, fatigue/lelah. Xanax XR: Kepala terasa melayang (lebih jarang), penglihatan kabur, gangguan koordinasi; gangguan GI; gangguan otonom; ketergantungan obat, gejala-gejala putus obat. Jarang: agitasi paradoksikal.

Interaksi Obat Xanax/Xanax XR

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Xanax/Xanax XR antara lain:

Simetidin dapat memperlambat bersihan obat ini. Xanax: Antijamur tipe azol seperti ketokonazol & itrakonazol; nefazodon, fluvoksamin, fluoksetin, propoksifen, kontrasepsi oral, diltiazem; antibiotik makrolid seperti eritromisin & troleandomisin; penghambat HIV protease, seperti ritonavir. Xanax XR: Efek obat ini meningkat jika diberikan bersama obat penekan SSP, alkohol, barbiturat.

Kategori Keamanan Penggunaan Xanax/Xanax XR Pada Wanita Hamil

Kategori keamanan penggunaan obat untuk wanita hamil atau pregnancy category merupakan suatu kategori mengenai tingkat keamanan obat untuk digunakan selama periode kehamilan apakah memengaruhi janin atau tidak. Kategori ini tidak termasuk tingkat keamanan obat untuk digunakan oleh wanita menyusui.

FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan tingkat keamanan obat untuk wanita hamil menjadi 6 (enam) kategori yaitu A, B, C, D, X, dan N. Anda bisa membaca definisi dari setiap kategori tersebut di sini. Berikut ini kategori tingkat keamanan penggunaan Xanax/Xanax XR untuk digunakan oleh wanita hamil:

Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko pada janin manusia, tetapi manfaat dari penggunaan obat ini pada wanita hamil dapat diterima meskipun berisiko pada janin (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Sediaan, Kemasan, Harga Xanax/Xanax XR

  • Xanax kaplet 0.25 mg, 10 × 10’s (Rp174,170/pak)
  • Xanax kaplet 0.5 mg, 10 × 10’s (Rp248,505/pak)
  • Xanax kaplet 1 mg, 10 × 10’s (Rp408,255/pak)
  • Xanax XR extentablet 0.5 mg, 3 × 10’s (Rp106,642/boks)
  • Xanax XR extentablet 1 mg, 3 × 10’s (Rp170,622/boks)

Produsen Xanax/Xanax XR

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Xanax/Xanax XR:

Pfizer

Sekilas Tentang Pfizer
Pfizer merupakan perusahaan farmasi besar asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Charles Pfizer dan sepupunya, Charles F. Erhart. Perusahaan ini memiliki kantor pusat di Manhattan, New York, Amerika Serikat. Awalnya Pfizer memproduksi produk santonin, suatu produk antiparasit yang dihasilkan dari asam sitrat. Produk tersebut sukses dipasaran dan seiring dengan kesuksesan ini, Pfizer lantas memperluas area produksinya dengan membeli tanah dan bangunan di sekitar Harrison Avenue dan Bartlett Street. Area tersebut digunakan sebagai lokasi produksi dan laboratorium.

Tingkat penjualan perusahaan semakin meninggkat sehingga ditahun 1906, angka penjualan mencapai 3,4 juta dollar. Perang Dunia I membuat Pfizer harus memutar otak untuk mencari suplier kalsium sitrat sebagai bahan baku asam sitrat yang biasanya diimpor dari Italia. Ilmuwan di laboratorium Pfizer kemudian melakukan serangkaian penelitian dan uji coba dan mereka menemukan bahwa ada suatu jenis jamur dapat memfermentasi gula menjadi asam sitrat, kemudian mereka mengkomersialisasikan penemuan itu dan menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat mulai tahun 1919. Karena keberhasilan itulah maka, ilmuwan Pfizer melakukan penelitian lebih lanjut mengenai teknik fermentasi.

Selama Perang Dunia II, permintaan penisilin meningkat dan teknik fermentasi yang dikembangkan ilmuwan Pfizer digunakan untuk produksi masal penisilin untuk perawatan luka para tentara akibat perang. Harga penislin mengalami penurunan pada 1940 dan perusahaan mencari jenis antibiotik baru yang bisa menghasilkan keuntungan lebih banyak. Mereka kemudian menemukan oxytetracycline pada 1950 yang diberi nama brand Terramycin. Sejak saat itulah, Pfizer mulai masuk dalam industri farmasi berbasis riset. Perusahaan ini kemudian membuka cabangnya di berbagai negara seperti Belgia, Brazil, Canada, Kuba, Inggris, dan negara lainnya. Di tahun 1980 mereka meluncurkan produk piroxicam yang diberi nama brand Feldene. Beberapa produk terkenal yang dikembangkan dipasarkan oleh Pfizer antara lain Zoloft, Lipitor, Norvasc, Zithromax, Aricept, Diflucan, dan lain-lain.

Pada periode tahun 2000 hingga 2010, Pfizer melakukan serangkaian proses merger dan akuisisi. Proses merger dilakukan dengan Warner-Lambert (perusahaan farmasi Amerika Serikat), Pharmacia (perusahaan farmasi gabungan Swedia-Amerika Serikat), dan Wyeth (perusahaan farmasi Amerika Serikat). Di tahun 2003, Pfizer mengakuisisi Espiron Therapeutics, dilanjutkan dengan akuisisi Meridica, Vicuron Pharmaceutical, Angiosyn, dan beberapa perusahaan lainnya.

Pada 2006, Pfizer menjual divisi produk OTC-nya pada Johnson & Johnson. Produk OTC yang dihasilkan oleh divisi ini seperti Listerine, Nicorette, Visine, dan lain-lain. Diakhir tahun 2018, Pfizer mengumumkan bahwa mereka berencana melakukan merger dengan GlaxoSmithKline, khusus pada divisi produk Consumer Health.

Di Indonesia, Pfizer membuka cabang perusahaannya dengan nama PT Pfizer Indonesia dan kantor pusatnya ada di Wisma GKBI, lantai 10, Jakarta.

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *