Terfacef

By | Desember 25, 2019 | Farmasi-id.com > Antibiotik > Terfacef

Kandungan dan Komposisi Terfacef

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia. Kategori yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Terfacef adalah:

Tiap vial mengandung:

Natrium seftriakson anhidrat yang setara dengan 1 g seftriakson.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Terfacef

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Terfacef adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Mengatasi infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri gram-positif, gram-negatif, beberapa aerob dan anaerob.

Farmakologi Terfacef

Seftriakson merupakan suatu antibiotika golongan sefalosporin turunan ketiga. Aktivitas bakterisidalnya dihasilkan dari penghambatan pembentukan dinding sel.

Obat ini mempunyai spektrum yang luas; aktif terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, aerob dan beberapa spesies anaerob, diantaranya:
Bakteri Gram-positif aerob:

  • Staphylococcus aureus
  • Staphylococcus pneumoniae
  • Streptococcus pyogenes
  • Streptococcus agalactiae
  • Streptococcus viridans

Catatan: Staphylococcus spp. (yang resisten terhadap metisilin) adalah resisten terhadap sefalosporin, termasuk Seftriakson.

Bakteri Gram-negatif aerob:

  • Acinetobacter iwoffi
  • Aeromonas hydrophilia
  • Alcaligenes faecalis
  • Moraxella catarrhalis
  • Capnocytophaga spp.
  • Citrobacter diversus
  • Enterobacter spp.
  • Escherichia coli
  • Haemophilus ducreyi
  • Haemophilus influenzae dan lain-lain.

Bakteri anaerob:

  • Clostridium spp. (kecuali golongan Clostridium perfringens)
  • Fusobacterium spp.
  • Peptococcus spp.
  • Peptostreptococcus spp.

Infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap obat ini:

  • Sepsis
  • Meningitis
  • Infeksi abdomen (peritonitis, infeksi kandung empedu dan saluran pencernaan)
  • Infeksi tulang, persendian dan jaringan lunak
  • Pencegahan infeksi prabedah
  • Infeksi ginjal dan saluran kemih
  • Infeksi saluran pernafasan, terutama pneumonia, infeksi telinga, hidung dan tenggorokan
  • Infeksi kelamin termasuk gonore
  • Pada penderita yang hipersensitif terhadap penisilin, kemungkinan dapat terjadi reaksi (alergi/retensi) silang bila diberikan Seftriakson
    Hipersensitif terhadap antibiotika golongan Sefalosporin

Efek Samping Terfacef

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Terfacef yang mungkin terjadi adalah:

  • Reaksi hematologi: anemia hemolitik, leukopenia, neutropenia, trombositopenia, agranulositosis, eosinofilia, granulositopenia
  • Gangguan pada saluran pencernaan: mual, muntah, tinja lunak, diare, stomatitis dan glositis
  • Reaksi kulit: urtikaria, oedema, eritema multiform, dermatitis alergi, pruritus, eksantema
  • Efek samping yang jarang terjadi: sakit kepala, pusing, demam, gejala pengendapan garam kalsium Seftriakson pada kandung empedu meningkatkan enzim hati, oliguria, peningkatan kreatinin serum, mikosis  pada saluran genital, reaksi “shivering” dan anafilaktik atau anafilaktoid
  • Sangat jarang: pseudomembran enterokolitis dan gangguan koagulasi
  • Dapat menimbulkan reaksi flebitis setelah pemberian i.v., sehingga harus disuntikkan perlahan-lahan selama 2-4 menit
  • Injeksi secara i.m. tanpa lidokain akan menimbulkan rasa sakit
  • Jika terjadi kelebihan dosis, konsentrasi obat tidak dapat dikurangi dengan hemodialisa atau dialisa peritoneal, tidak ada antidotum yang spesifik
  • Pengobatan kelebihan dosis dilakukan secara simptomatik

Perhatian Penggunaan Terfacef

  • Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui
  • Hati-hati pemberian pada penderita yang pernah mengalami syok anafilaktik
  • Neonatus yang menderita hiperbilirubinemia karena Seftriakson dapat menggantikan bilirubin dari serum albumin
  • Seftriakson sebaiknya jangan diberikan pada neonatus (terutama prematur), karena dapat menimbulkan resiko terbentuknya “bilirubin ensefalopati”
  • Dapat menimbulkan pseudomembran kolitis pada penderita yang mengalami diare setelah pemberian obat-obat antibakteri
  • Dapat menimbulkan superinfeksi pada mikroorganisme yang tidak peka
  • Pada pengobatan jangka panjang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan profil darah
  • Perhatikan dosis dan cara pemakaiannya

Interaksi Obat Terfacef

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Terfacef antara lain:

  • Secara in vitro, jika diberikan bersamaan dengan kloramfenikol dapat terjadi efek antagonis
  • Dapat memberikan hasil positif palsu pada reaksi uji Coombs dan uji Galaktosemia
  • Dapat memberikan reaksi positif palsu pada penentuan kadar glukosa dalam urin dengan metoda non enzimatik, sebab itu gunakan metoda enzimatik untuk penentuan kadar glukosa dalam urin
  • Inkompatibilitas: tidak dapat dicampur dengan larutan yang mengandung kalsium (seperti larutan Hartman dan larutan Ringer) amsacrine, vankomisin, flukonazol dan aminoglikosida

Sekilas Tentang Obat Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri molekul. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Antibiotika oral (diberikan lewat mulut) mudah digunakan dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadang kala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.

Dosis dan Aturan Pakai Terfacef

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Terfacef:

Dosis standar:

  • Dewasa dan anak diatas 12 tahun: Dosis lazim 1 – 2 g, diberikan sekali sehari (setiap 24 jam)
  • Pada kasus berat atau infeksi berat yang disebabkan organisme yang moderat sensitif, dosis dapat ditingmkatkansampai 4 g, diberikan sekali sehari.
  • Neonatus, bayi dan anak sampai 12 tahun: Dianjurkan untuk pemberian sekali sehari
  • Neonatus (sampai 2 minggu): dosis sehari 20 – 50 mg/kg berat badan, jangan melebihi 50 mg/kg berat badan, harus diperhitungkan kematangan sistem enzim bayi. Tidak perlu dibedakan antara prematur dan bayi cukup bulan.
  • Bayi dan anak (15 hari sampai dengan 12 tahun): Dosis 20 – 80 mg/kg berat badan per hari. Untuk anak dengan berat badan ³ 50 kg diberikan dalam dosis untuk dewasa umumnya. Dosis intravena 50 mg/kg berat badan atau lebih, harus diberikan secara infus paling sedikit selama 30 menit.
  • Penderita usia lanjut: Dosis yang dianjurkan seperti dosis dewasa. Tidak dibutuhkan modifikasi dosis untuk penderita lanjut usia.

Lama pengobatan:

Tergantung dari penyebab penyakit. Pemberian dalam bentuk injeksi seperti antibiotika pada umumnya, yaitu harus diteruskan minimum 48 – 72 jam, setelah penderita bebas panas atau pembasmian kuman tercapai dengan nyata.

Pengobatan kombinasi:

Efek sinergis antara obat ini dan aminoglikosida telah terbukti terhadap berbagai bakteri Gram-negatif melalui percobaan-percobaan. Meskipun tingginya aktivitas dari kombinasi tersebut tidak selalu dapat ditentukan, harus dipertimbangkan pada infeksi berat, infeksi yang mengancam hidup yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti Pseudomembran aeruginosa. Secara fisik kedua obat tersebut tidak dapat dicampur, maka sebaiknya diberikan secara terpisah sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Instruksi dosis khusus:

Meningitis:
Meningitis pada bayi dan anak, pengobatan dimulai dengan 100 mg/kg berat badan ( jangan melebihi 4 g per hari). Segera setelah organisme penyebab diketahui dan sensitivitas telah ditentukan, dosis dapat diturunkan. Hasil yang memuaskan telah diketahui sesuai dengan lamanya pengobatan sebagai berikut:

  • Neisseria meningitis 4 hari
  • Haemophillus influenzae 6 hari
  • Streptococcus pneumoniae 7 hari

Gonore:
Untuk pengobatan gonore (strain pembentuk penisilinase dan non-penisilinase), dianjurkan dosis tunggal 250 mg Terfacef intramuskular.

Pencegahan perioperatif:
Untuk mencegah infeksi pasca bedah dalam kontaminasi atau kemungkinan besar tindakan bedah terkontaminasi, pengobatan yang dianjurkan tergantung dari resiko infeksi, biasanya 1 – 2 gram Terfacef diberikan 30 – 90 menit sebelum operasi. Pada bedah kolorektal, pemberian bersama-sama obat ini dengan atau tanpa 5 – nitro-imidazol seperti ornidazole (secara terpisah), telah terbukti efektif.

Gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati:
Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, dosis obat ini tidak perlu diturunkan selama fungsi hati masih baik. Hanya pada kasus payah ginjal preterminal (bersihan kreatinin £ 10 ml/menit), dosis obat ini tidak boleh melampaui 2 gram sehari. Pada penderita dengan kerusakan hati, tidak perlu menurunkan dosis selama fungsi ginjal baik. Pada kasus kegagalan fungsi ginjal berat dan gangguan fungsi hati berat yang terjadi bersamaan, kadar plasma obat ini harus diukur secara teratur. Pada penderita yang menjalani dialisis tidak diperlukan penambahan dosis selama dialisis.

Petunjuk pemakaian:
Larutan akan stabil secara fisik dan kimia selama 6 jam pada suhu ruangan (atau 24 jam pada suhu 5°C), sebagaimana biasanya larutan harus dipakai segera setelah disiapkan. Warna larutan antara kuning muda sampai merah coklat, tergantung dari kadar dan lamanya penyimpanan. Hal ini tidak berpengaruh terhadap efektivitas atau toleransi obat tersebut.

Terfacef 1 g serbuk injeksi dilarutkan dalam 10 ml air steril untuk injeksi, kemudian suntikan secara intravena selama 2 – 4 menit.

Kemasan dan Sediaan Terfacef

Dus isi 1 vial @ 1 g dan 1 ampul air steril untuk injeksi @10 ml.

Izin BPOM Terfacef

Setiap produk obat, suplemen, makanan, dan minuman yang beredar di Indonesia harus mendapatkan izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yaitu suatu Badan Negara yang memiliki fungsi melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana produksi, melakukan pengambilan contoh produk, melakukan pengujian produk, dan memberikan sertifikasi terhadap produk. BPOM juga melakukan pengawasan terhadap produk sebelum dan selama beredar, serta memberikan sanksi administratif seperti dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dicabut izin edar, disita untuk dimusnahkan, bagi pihak yang melakukan pelanggaran. Berikut adalah izin edar dari BPOM yang dikeluarkan untuk produk Terfacef:

DKL9622219044C1

Cara Penyimpanan Terfacef

Simpan di bawah suhu 30°C, terlindung dari cahaya.

Produsen Terfacef

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Terfacef:

PT Sanbe Farma
Bandung – Indonesia

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Terfacef Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Terfacef, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Terfacef?

Jika Anda lupa menggunakan Terfacef, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Terfacef Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Terfacef?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Terfacef yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Sanbe Farma merupakan suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 28 Juni 1975 oleh Drs. Jahja Santoso, Apt yang merupakan seorang apoteker lulusan ITB yang berhasil lulus dengan predikat cum laude. Awalnya Sanbe Farma hanyalah sebuah industri rumahan yang memproduksi kapsul Colsancetine. Kemudian seiring dengan meningkatnya kebutuhan produksi, pada 1980 perusahaan ini memindahkan lokasinya ke tempat yang lebih luas yaitu di Cimahi dan di tempat itu perusahaan ini mendirikan fasilitas produksi berbagai jenis obat.

Selanjutnya pada 1992, Sanbe Farma mulai memproduksi obat-obatan bebas atau OTC. Pada 1996 perusahaan ini kembali memperluas area industrinya untuk memenuhi kebutuhan produksi yang semakin besar diantaranya untuk memproduksi produk betalaktam, sefalosporin, injeksi, tetes mata, sediaan steril, serbuk injeksi, dan lain-lain. Sanbe Farma telah mengantongi lebih kurang 43 sertifikat CPOB dari berbagai negara. Perusahaan ini memiliki produk yang telah dipasarkan di lebih kurang 20 negara. Berdasarkan informasi, perusahaan ini menepati urutan ke-4 sebagai perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. Sanbe Farma juga memiliki beberapa anak perusahaan yang juga bergerak dibidang farmasi dan produk kesehatan seperti PT Caprifarmindo Laboratories dan PT Bina San Prima .
Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2015, 30 September). Terfacef. Diakses pada 2 Desember 2020, dari https://www.farmasi-id.com/terfacef/


Format MLA (Modern Language Association)

"Terfacef". Farmasi-id.com. 30 September 2015. 2 Desember 2020. https://www.farmasi-id.com/terfacef/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Terfacef", 30 September 2015, <https://www.farmasi-id.com/terfacef/> [Diakses pada 2 Desember 2020]


Bagikan ke Rekan Anda
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 1 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 1

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *