Suprafenid

By | April 20, 2021 | Farmasi-id.com > Health > Suprafenid

Kandungan dan Komposisi Suprafenid

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Suprafenid adalah:

Tiap SUPRAFENID supositoria mengandung:

Ketoprofen 100 mg

Farmakologi Suprafenid

Ketoprofen adalah suatu anti inflamasi non steroid, yang termasuk dalam golongan AINS turunan dari asam propionat. Ketoprofen memiliki aktivitas anti inflamasi, anti piretik dan analgesik secara sentral dan perifer.
Ketoprofen menghambat sintesa prostaglandin dengan cara menghambat ensim siklooksigenase.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Suprafenid

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Suprafenid adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

– Rematik inflamasi kronis.
– Rematik abartikuler.
– Serangan Gout atau kondrokalsinosis.
– Artritis akut dan poliartritis.
– Skiatika dan nyeri pada pinggang bawah.
– Eksaserbasi kongestif pada osteoartritis.
– Mengatasi nyeri pasca persalinan dan tindakan pembedahan.

Kontraindikasi Suprafenid

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Suprafenid dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Penderita dengan riwayat reaksi hipersensitif terhadap Ketoprofen, Asetosal, AINS lainnya seperti serangan asma, atau reaksi alergi tipe lain
Penderita gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat
Penderita tukak lambung atau penyakit inflamasi akut pada saluran cerna
Penderita dengan riwayat rektitis atau proktoragia

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Suprafenid Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Suprafenid?

Jika Anda lupa menggunakan Suprafenid, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Suprafenid Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Suprafenid?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Suprafenid yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Efek Samping Suprafenid

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Suprafenid yang mungkin terjadi adalah:

Gangguan pada saluran cerna: gastralgia, nyeri perut, mual, muntah, diare, konstipasi
Reaksi hipersensitivitas: kemerahan, urticaria, angioedema, serangan asma, bronkospasme, reaksi anafilaksis (termasuk syok)
Gangguan pada sistem saraf pusat dan perifer: pusing, parestesi dan konvulsi, sakit kepala, somnolence, gangguan emosi
Gangguan pendengaran: tinitus
Gangguan pada darah: trombositopenia, anemia yang umumnya karena perdarahan kronis, agranulositosis, aplasia sumsum tulang
Over dosis: Efek Samping yang diamati pada keadaan overdosis adalah: hipertensi, bronkospasme dan hemoragi gastrointestinal. Pada kejadian ini dapat diberikan terapi simtomatik dan suportif. Reaksi anafilaksis berat dan fatal pernah dilaporkan meskipun jarang

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Suprafenid

Hati-hati diberikan pada penderita dengan riwayat tukak lambung atau penyakit inflamasi akut pada saluran cerna
Pada awal pengobatan fungsi ginjal harus dipantau dengan cermat terutama pada pasien dengan gangguan hati, sirosis dan nefrosis, pasien yang menerima pengobatan diuretik, pasien dengan gangguan ginjal kronis, terutama pada pasien usia lanjut. Pada pasien-pasien ini pemberian ketoprofen dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke dalam ginjal disebabkan oleh penghambatan prostaglandin dan dapat berakibat gagal ginjal
Seperti halnya dengan AINS lain, bila terdapat infeksi, maka aktivitas antiinflamasi, analgesik dan antipiretik ketoprofen dapat menutupi tanda-tanda umum perkembangan infeksi misalnya demam
Pada pasien dengan pemeriksaan fungsi hati abnormal, atau dengan riwayat penyakit hati, kadar transaminase harus dinilai secara berkala terutama pada pengobatan jangka panjang. Pernah dilaporkan adanya ikterus dan hepatitis karena ketoprofen walaupun jarang
Bila terjadi gangguan penglihatan misalnya penglihatan kabur maka pengobatan harus dihentikan
Tidak dianjurkan diberikan pada wanita hamil dan menyusui

:: Interaksi Obat ::

Dengan AINS lain, termasuk salisilat dosis tinggi: dapat meningkatkan risiko tukak lambung dan perdarahan
Antikoagulan oral, heparin parenteral, dan tiklopidin: meningkatkan risiko perdarahan yang disebabkan penghambatan agregasi trombosit
Litium: risiko peningkatan kadar litium dalam plasma, kadang-kadang mendekati kadar toksis, karena penurunan ekskresi litium melalui ginjal
Metotreksat dengan dosis lebih dari 15 mg/minggu: peningkatan risiko toksisitas darah dari metotreksat terutama pada pemberian dosis tinggi (> 15 mg / minggu), sehubungan dengan penggantian metotreksat yang terikat dengan protein dan penurunan klirens ginjal

Dosis dan Aturan Pakai Suprafenid

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Suprafenid:

Bila tidak dikombinasikan dengan pemberian per-oral, dosis lazim adalah 2 x 1 supositoria perhari, dimasukkan ke dalam rektum
Bila dikombinasikan dengan pemberian per-oral pada waktu pagi dan siang, dosis lazim adalah 1 supositoria dimasukkan ke dalam rektum pada malam hari

Izin BPOM, Kemasan, dan Sediaan Suprafenid

Setiap produk obat, suplemen, makanan, dan minuman yang beredar di Indonesia harus mendapatkan izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yaitu suatu Badan Negara yang memiliki fungsi melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana produksi, melakukan pengambilan contoh produk, melakukan pengujian produk, dan memberikan sertifikasi terhadap produk. BPOM juga melakukan pengawasan terhadap produk sebelum dan selama beredar, serta memberikan sanksi administratif seperti dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dicabut izin edar, disita untuk dimusnahkan, bagi pihak yang melakukan pelanggaran. Berikut adalah izin edar dari BPOM yang dikeluarkan untuk produk Suprafenid:

SUPRAFENID supositoria
Dus isi 10 supositoria
No. Reg.: DKL 0315616553 A1

Cara Penyimpanan Suprafenid

Simpan di tempat sejuk (15-25) ºC, kering dan terlindung dari cahaya

Meprofarm adalah suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 1973 oleh Wanne Mardiwidyo. Awalnya perusahaan ini memasarkan obat generik yang pada waktu itu masih diproduksi secara maklon atau dikerjakan oleh pihak lain di ITB (Institut Teknologi Bandung).

Tahun 1993 Meprofarm mulai membangun fasilitas produksi yang dinamakan Mepro-1 di Bandung dengan tujuan untuk memperbesar skala produksi dan mendapatkan sertifikat CPOB dari Kementrian Kesehatan. Fasilitas Mepro-1 digunakan untuk produksi, riset and development, gudang, marketing, dan keuangan perusahaan. Di lokasi tersebut diproduksi produk sefalosporin steril dan non-steril. Tahun 1996 meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat CPOB untuk produk farmasi dengan sediaan tablet, kapsul, sirup cair dan kering, dan krim, dua tahun kemudian berhasil memperoleh sertifikat CPOB untuk produk sefalosporin dengan sediaan serbuk steril, tablet, dan sirup kering.

Pada tahun 2006, perusahaan ini mulai membangun fasilitas produksi Mepro-2 yang lokasinya persis dibelakang Mepro-1. Fasilitas baru ini ditujukan untuk memproduksi produk farmasi dengan sediaan cairan steril meliputi cairan injeksi, sirup cair, supositoria, krim, dan sirup kering. Selain itu fasilitas ini juga digunakan untuk riset and development. Oleh karenanya pada 2008, Meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001 dan ISO 14001 dan pada 2011 seiring dengan telah diperolehnya sertifikat CPOB pada fasilitas Mepro-2, maka dimulailah produksi perdana di fasilitas ini.

Beberapa perusahaan farmasi lainnya yang telah menjalin kerjasama dengan Meprofarm antara lain PT Tanabe Indonesia, PT Astellas, PT Dexa Medica, PT Holi Pharma, PT Otto Pharmaceutical, dan sebagainya.

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *