Somadril Compositum


Apa Kandungan dan Komposisi Somadril Compositum?

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Somadril Compositum adalah:

Setiap tablet mengandung : – Karisoprodol 200 mg- Parasetamol 160 mg- Kafein 32 mg

Sekilas Tentang Caffeine Pada Somadril Compositum
Caffeine merupakan suatu zat yang termasuk dalam zat stimulan sistem saraf pusat dari kelas methylxanthine. Zat ini mampu menghalangi aksi dari adenosine pada reseptornya sehingga mencegah onset dari mengantuk yang diinduksi oleh adenosine. Caffeine juga menstimulasi bagian tertentu dari sistem saraf otonom.

Caffeine didefinisikan sebagai suatu zat purin kristal berwarna putih yang rasanya pahit yang biasa ditemukan dalam biji kopi, biji kakao (cokelat), kacang-kacangan, dan daun dari beberapa jenis tanaman di Afrika, Asia Timur, dan Amerika bagian selatan. Zat ini mampu mencegah tanamannya dari serangan parasit dan tumbuhnya benih di sampingnya. Beberapa minuman yang mengandung caffeine diantaranya kopi, teh, dan cola.

Caffeine mampu mencegah gangguan pernapasan pada bayi prematur. Caffeine citrate diketahui bermanfaat untuk pengobatan Parkinson. Caffeine juga bermanfaat dalam mengatasi sakit kepala (migrain, sakit kepala cluster), hipotensi ortostatik yakni suatu kondisi dimana tekanan darah seseorang akan turun saat duduk atau berdiri. Caffeine juga bermanfaat dalam terapi pengobatan asma.

Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh caffeine diantaranya sekresi asam lambung berlebihan, mempercepat kehilangan massa tulang pada wanita menopause, insomnia, takikardia, aritmia, ketidakstabilan gula darah, dan lain-lain yang tidak disebutkan di sini.

Pemberian caffeine dikontraindikasikan pada mereka yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap caffeine, penderita penyakit jantung, wanita hamil dan menyusui. Caffeine tidak aman untuk digunakan oleh wanita hamil, Oleh sebab itu FDA mengkategorikan tingkat keamanannya masuk dalam kategori C. Caffeine masuk menembus ke dalam ASI sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan oleh wanita menyusui. Penggunaan pada anak berusia dibawah 12 tahun tidak direkomendasikan.

Caffeine akan diserap dengan baik pada pemberian oral. Pada orang dewasa, konsentrasi plasma puncak setelah pemberian 100 mg akan tercapai dalam 50 hingga 75 menit. Caffeine dengan cepat didistribusikan menuju jaringan tubuh melintasi blood-brain barrier. Caffeine dapat masuk menembus plasenta dan masuk ke dalam ASI. Metabolisme caffeine terjadi di dalam hati oleh enzim CYP1A2 menjadi 1-methyluric acid, 1-methylxanthine, dan 7-methylxanthine. Rute eliminasinya melalui urin.

Konsumsi kopi sebagai salah satu sumber caffeine telah berlangsung setidaknya sejak pertengahan abad ke lima belas di Yaman. Kemudian konsumsi kopi menyebar hingga Mesir, Persia, dan Turki, kemudian masuk ke benua Eropa. Sejarah konsumsi teh sebagai salah satu produk yang juga memiliki kandungan caffeine telah berlangsung sejak jaman kerajaan Shennong di China pada 3000 SM. Hal itu terjadi secara tak sengaja yakni saat daun teh tiba-tiba masuk ke dalam air yang mendidih dan tiba-tiba air itu memiliki aroma dan rasa yang harum serta menyegarkan.

Caffeine murni pertama kali disentesa oleh ahli kimia asal Jerman bernama Friedlieb Ferdinand Runge pada 1819 atas permintaan Johann Wolfgang von Goethe. Saat itu Runge menamakan caffeine sebagai "Kaffebase" berdasarkan pada kata coffee sebagai sumber sintesanya.
Sekilas Tentang Paracetamol Pada Somadril Compositum
Paracetamol yang dikenal juga dengan nama acetaminophen pertama kali disintesa oleh Harmon Northrop Morse, seorang ahli kimia pada tahun 1877, namun baru diujicoba pada manusia pada tahun 1887 oleh ahli farmakologi klinis, Joseph von Mering. Tahun 1893 von Mering mempublikasikannya dalam laporan klinis mengenai paracetamol.

WHO menyatakan bahwa paracetamol masuk dalam daftar salah satu obat yang paling aman dan efektif dan sangat dibutuhkan dalam dunia medis. Paracetamol digunakan sebagai analgetic (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam) yang bisa diperoleh tanpa resep dokter. Meskipun paracetamol memiliki efek anti inflamasi, obat ini tidak dimasukkan sebagai obat NSAID, karena efek anti inflamasinya dianggap tidak signifikan.

Cara kerja paracetamol yang diketahui sekarang adalah dengan cara menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX). Enzim ini berperan pada pembentukan prostaglandin yaitu senyawa penyebab nyeri. Dengan dihambatnya kerja enzim COX, maka jumlah prostaglandin pada sistem saraf pusat menjadi berkurang sehingga respon tubuh terhadap nyeri berkurang. Paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan cara menurunkan hipotalamus set-point di pusat pengendali suhu tubuh di otak.

Dosis maksimal paracetamol adalah 3 hingga 4 gr dalam sehari. Jika lebih dari itu maka berpotensi menyebabkan kerusakan hati. Penderita gangguan hati disarankan untuk mengurangi dosis paracetamol.

Somadril Compositum Obat Apa?


Apa Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Somadril Compositum?

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Somadril Compositum adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Sebagai tambahan untuk meringankan nyeri, kejang otot dan gerakan yang terbatas yang berhubungan dengan kondisi otot yang akut dan nyeri.

Berapa Dosis dan Bagaimana Aturan Pakai Somadril Compositum?

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Somadril Compositum:

3 – 4 kali sehari 1 tablet

Kemasan, Sediaan, dan Harga Somadril Compositum

Somadril comp. Tablet tersedia dalam kotak karton berisi 10 strip @ 10 tablet

Deskripsi

Somadril comp. adalah suatu preparat kombinasi yang didasarkan pada prinsip mekanisme kerja yang sinergis. Dengan penambahan parasetamol dan kafein pada karisoprodol, telah didapatkan suatu analgesik yang efektif serta memiliki efek muscle relaxant dengan hanya menggunakan dosis yang relatif kecil.

Sekilas Tentang Actavis
Actavis adalah perusahaan farmasi global yang dirikan pada 1983 oleh Allen Chao, Ph.D dan David Hsia, Ph.D yang awalnya melakukan pengembangan obat dengan skala kecil. Modal awal perusahaan didapat dari keluarga dan rekan pendiri dan lokasi awalnya hanya berupa area kecil yang disewa di Libertyville, Illinois, Amerika Serikat.

Seiring dengan perkembangan perusahaan, Actavis memindahkan area produksinya ke tempat yang lebih luas sekira 190 meter persegi di Corona, California dan memulai produksi produk obat generik di lokasi ini. Di awal tahun 1993, perusahaan ini melakukan IPO dan mencatatkan sahamnya di NASDAQ kemudian mencatatkannya juga ke bursa saham NYSE. Di periode tahun 2000 hingga 2009 perusahaan ini mengakuisisi beberapa perusahaan farmasi seperti Schein Pharmaceutical, Andrx Corporation, Arrow Group, dan lain-lain. Pada 2011 perusahaan memindahkan kantor pusatnya dari Corona ke Parsippany, New Jersey.

Pada November 2012, Watson Pharmaceutical mengakuisisi Actavis Group. Untuk operasional global, nama Actavis tetap dipertahankan. Dan ditahun 2013, Actavis mengakuisisi perusahaan farmasi Irlandia, Warner Chilcott PLC dan dengan ini perusahaan merubah namanya menjadi Actavis PLC dan membuka kantor pusat baru di Irlandia dengan tetap mempertahankan kantor pusat yang ada di New Jersey. Setahun kemudian Actavis mengakuisisi Allergan Inc, perusahaan yang memproduksi Botox hingga kemudian Actavis PLC berubah namanya menjadi Allergan PLC namun perusahaan tetap menggunakan nama Actavis untuk operasional global. Pada Juli 2015 Teva Pharmaceutical mengakuisisi divisi generik Allergan PLC.

Actavis memiliki lokasi produksi di 40 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia perusahaan ini berdiri dengan nama PT. Actavis Indonesia. Jangkauan pemasaran produk Actavis mencapai hingga 100 negara.