Soclaf

Farmasi-id.com > Antibiotik > Soclaf

By | 28/03/2016

Kandungan dan Komposisi Soclaf

:

Tiap vial mengandung
Cefotaxime Sodium 1.048 g setara dengan Cefotaxime base 1 g

Farmakologi:

Soclaf mengandung Cefotaxime Sodium yaitu cephalosporin semisintetik generasi ke 3 yang diberikan secara parenteral. Bersifat bakterisidal, mekanisme kerjanya ialah menghambat sintesa dinding sel mikroba, Cefotaxime memiliki anti bakteri yang luas, aktif terhadap bakteri gram antara lain Staphylococcus aureus termasuk strain penghasil penisilinase dan nonpenisilinase. Staphylococcus epidermis Enterococcus sp, Streptococccus pyogenes (Streptococcus β hemolitic group A), Streptococcus (group B Streptococci), Streptococcus pneumoniae, Clostridium sp.
Juga aktif terhadap bakteri gram negatif seperti E. coli, Enterobacter sp, Citrobacter sp. H. Influenzae, Klebsiella sp, Proteus sp. Neisseria gonorrhoeae, N meningitidis, Serrattia sp dan Bacteriodes sp Cefotaxime tidak aktif terhadap Treponema pallidum dan Closlridium difficile. In vitro menunjukkan bahwa kombinasi Cefotaxime dengan memberikan efek sinergis atau aditif Pemberian cefotaxime menghasilkan kadar obat tinggi dalam serum, jaringan dan cairan tubuh melebihi sensitifitas sebagian besar patogen. Ikatan proteinnya 32-50% penetrasi ke jaringan baik dan sebagian besar diekskresikan melalui ginjal dalam bentuk aktif.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan:

Infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap Cefotaxime seperti:

  • Infeksi saluran nafas, termasuk hidung dan tenggorokan
  • Infeksi pada telinga
  • Infeksi pada ginjal dan saluran urinarius
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak
  • Infeksi tulang dan sendi
  • Infeksi genital termasuk gonore non komplikata
  • Infeksi abdominal
  • Sepsis endocarditis, meningitis
  • Profilaksis perioperatif pada pasien dengan resiko tinggi untuk terserang infeksi dan profilaksis terhadap infeksi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang menurun.

Terapi kombinasi:

Pada infeksi berat yang mengancam kehidupan dianjurkan untuk memberikan kombinasi Cefotaxime dengan aminoglikosid tanpa menunggu hasil tes sensitifitas. Kedua obat tersebut harus diberikan secara terpisah, tidak boleh dicampur dalam 1 spun. Infeksi oleh Pseudomonas aeruginosa memerlukan terapi tambahan bersama antibiotik lain yang efektif terhadap pseudomonas

Kontra indikasi:

Hipersensitifitas terhadap sefalosporin

Efek samping:

  • Reaksi alergi pada kulit misal urtikaria, exanthema, gatal, demam obat, nefritis interstitial (jarang) dan reaksi anafilaksis mungkin timbul. Shock anafilaksis bersifat mengancam nyawa dan memerlukan tindakan segera.
  • Gangguan saluran cerna: mual, muntah, nyeri abdomen dan diare. Kemungkinan timbulnya kolitis pseudomembran harus dipertimbangkan pada pasien dengan diare berat dan persisten yang terjadi selama pengobatan atau pada minggu-minggu awal setelah pengobatan. Kelainan peradangan usus akibat induksi antibiotik tersebut mungkin mengancam nyawa. Pada keadaan demikian, pemberian cefotaxime harus segera dihentikan. Dokter harus segera memberikan terapi yang sesuai, hindari penggunaan obat-obatan yang menghambat peristaltik usus.
  • Reaksi lokal: peradangan, iritasi dan nyeri pada tempat suntikan
  • Efek terhadap fungsi hati: kemungkinan peningkatan serum bilirubin dan/atau enzim hati: SGPT, SGOT, γGT, alkali fosfatase, LDH
  • Efek terhadap fungsi ginjal: peningkatan serum kreatinin dan ureum
  • Efek terhadap gambaran darah: Trombositopenia, eosinofilia dan leukopenia, seperti halnya antibiotik β laktam lainnya. Dapat terjadi granulositopenia dan agranulositosis terutama jika pengobatan jangka panjang.

Peringatan dan perhatian

  • Kemungkinan terjadinya sensitifitas silang pada pasien yang hipersensitif terhadap penisilin
  • Pemeriksaan fungsi ginjal sebaiknya dilakukan pada pasien yang memperoleh pengobatan kombinasi dengan aminoglikosid
  • Pemakaian pada wanita hamil terutama selama trimester I hanya bila ada indikasi mutlak. Karena Cefotaxime diekskresikan ke dalam air susu ibu, maka hentikan menyusui jika obat ini diberikan pada wanita menyusui
  • Pada pengobatan dengan jangka waktu lama lebih dari 10 hari, lakukan monitoring hitung darah dan jika terjadi neutropenia maka hentikan pengobatan.
  • Pemberian antibiotik terutama pada jangka waktu panjang dapat menimbulkan tumbuhnya mikroorganisme resisten. Pasien dengan kondisi tersebut harus dicek, dilakukan dengan interval yang teratur dan jika terjadi infeksi sekunder berikan pengobatan yang tepat
  • Beberapa efek samping yang terjadi dapat mengganggu kemampuan berkonsentrasi dan bereaksi

Interaksi obat:

  • Penggunaan bersamaan dengan diuretik kuat dapat menimbulkan gangguan fungsi ginjal
  • Pemberian cefotaxime bersamaan dengan obat-obat golongan aminoglikosid akan meningkatkan resiko nefrotoksik.
  • Kadar Cefotaxime dalam serum akan meningkat dan diperpanjang bila diberikan bersama probenecid.
  • Pada pasien yang mendapat Cefotaxime akan memberikan hasil tes coombs positif palsu, yang mungkin diperoleh dari glukosa urine, bila itu ditentukan dengan metoda reduksi. Hal tersebut dapat dihindari dengan menggunakan metoda enzimatik.

Takaran pemakaian:

  • Dewasa dan anak › 12 tahun: 1 g tiap 12 jam
    • Pada Infeksi berat 2 x 2g/ hari dengan interval 12 jam. Bila dibutuhkan dosis lebih besar, interval pemberian diperpendek menjadi setiap 8 atau 6 jam. Dosis maksimal 12 g/ hari.
  • Bayi dan anak (1 bulan – 12 tahun):
    • Untuk berat badan ‹ 50 kg: Dosis harian yang diperbolehkan 50-180 mg/kgBB/hari i.m. atau i.v. dibagi dalam 4-6 dosis setara. Dosis yang lebih besar dapat digunakan untuk Infeksi yang berat dan serius termasuk meningitis
    • Untuk berat badan › 50 kg: Dapat digunakan dosis biasa untuk dewasa. Dosis maksimum sehari tidak boleh lebih dari 12 gram.
      • Untuk profilaksis perioperatif: diberikan 1-2 g. 30-60 menit sebelum pembedahan dimulai, (tergantung resiko) dosis yang sama dapat diulang
      • Pasien dengan gangguan fungsi ginjal dengan klirens kreatinin ‹ 5 ml/mnt, dosis pemeliharaan dikurangi menjadi setengah dosis normal, dosis awal tergantung pada sensitifitas patogen dan beratnya infeksi
      • Gonorrhoeae non komplikata: 0,5 g dosis tunggal diberikan secara i.m. Pada bakteri yang kurang sensitif mungkin diperlukan peningkatan dosis, pasien harus diperiksa terhadap kemungkinan infeksi sifilis sebelum terapi dimulai
Cara pemberian obat sebaiknya secara intravena, walaupun dapat pula dilakukan secara intramuskuler
  • Untuk vial 1 g tambahkan 4 ml larutan pro injeksi
  • Untuk penyuntikan secara intramuskuler disuntik perlahan-lahan selama 3-5 menit, pada otot gluteal, disarankan penyuntikan pada sisi yang sama tidak lebih dari 2 ml (0,5 g Cefotaxime)
  • Untuk penyuntikan secara intravena dapat dilakukan langsung pada vena selama 3-5 menit Atau suntikan perlahan-lahan pada bagian distal ke atap selang infus selama 3-5 menit. Bila dibutuhkan dosis yang lebih besar dapat diberikan secara infus, Untuk infus selanjutnya: 2 vial @ 1 g dilarutkan dalam 100 ml NaCl 99%, dextrose 5% diberikan dalam waktu 50-60 menit. Lama pengobatan tergantung respon pasien, minimal 3 hari setelah suhu tubuh normal kembali.
No.
Type Infeksi
Dosis harian (g)
Frekuensi dan Rute
1
Gonorrhoeae
1
1 g i.m (single dose)
2
Infeksi tidak terkomplikasi
2
1 g tiap 12 jam (i.m atau i.v)
3
Infeksi sedang sampai berat
3 – 6
1 – 2 g tiap 8 jam (i.m atau i.v)
4
Infeksi secara umum yang menimbulkan abiotik dalam dosis tinggi
6 – 8
2 g tiap 6 – 8 jam i.v.
5
Infeksi berat yang dapat mengancam hidup
Dapat sampai 12 gram
2 g tiap 4 jam i.v

 

Kemasan:
Dus berisi 1 vial serbuk injeksi
No. Reg. DKL0124217844B1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Simpan di tempat sejuk dan kering dengan suhu ‹ 25°C
Lindungi dari cahaya. Obat yang sudah dilarutkan sebaiknya digunakan segera
Larutan ini boleh disimpan maksimum 24 jam pada suhu 25°C.

Diproduksi oleh

PT DANKOS Laboratories Tbk
Jakarta – Indonesia

Untuk

PT SOHO INDUSTRI PHARMASI
JAKARTA – INDONESIA

Sekilas Tentang Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri molekul. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Antibiotika oral (diberikan lewat mulut) mudah digunakan dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadang kala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.

Informasi lengkap mengenai antibiotik dapat Anda baca di sini.
Sekilas Tentang SOHO
Sejarah SOHO dimulai oleh pengusaha asal Bangka Tan Tjhoen Lim yang pada tahun 1946 mendirikan suatu perusahaan bernama N.V. Ethica Handel Maatschappij yang memproduksi obat-obatan dengan sediaan injeksi. Setelah itu perusahaan ini berubah namanya menjadi PT. Ethica Industri Farmasi. Perusahaan ini sekaligus menjadi perusahaan farmasi pertama ia miliki. Setelah perusahaan ini sukses, maka pada 1951, Tan Tjhoen Lim mendirikan PT. Soho Industri Farmasi yang memproduksi obat-obatan herbal yang kemudian pada 1996 mulai memproduksi produk-produk obat bebas (OTC). Nama "SOHO" sendiri merupakan singkatan dari "Societas Honorabilis" yang berarti "perkumpulan orang-orang terhormat".

Usaha Tan Tjhoen Lim berkembang dengan pesat kemudian ia mendirikan lagi beberapa perusahaan yang bergerak di berbagai bidang produk dan layanan seperti PT. Parit padang Global, bergerak dibidang distribusi produk obat dan alat kesehatan. Selain itu ada PT. Global Harmony Retailindo yang bergerak dibidang layanan apotek, klinik, laboratorium, dan ritel. Adalagi PT. Unihealth (Universal Health Network) yang bergerak dibidang penjualan langsung dan netrowk marketing untuk produk-produk suplemen, vitamin, makanan kesehatan, dan produk-produk perawatan kulit. Setelah Tan Tjhoen Lim meninggal, tongkat estafet kepemimpinan perusahaan-perusahaan ini dipegang oleh penerusnya yakni Tan Eng Liang. Karena ingin mempermudah koordinasi, maka Tan Eng Liang mendirikan SOHO Group yang menjadi group dari perusahaan-perusahaan tadi.

Saat ini Soho Group memiliki sekira 6000 karyawan dengan jumlah varian produk mencapai lebih dari 350 produk yang dipasarkan hingga ke mancanegara seperti Malaysia, Myanmar, Nigeria, Brunei, Mongolia, Vietnam, Suriname, dan masih banyak lagi. Pada 1 Oktober 2013, SOHO Group resmi mengubah namanya menjadi Soho Global Health untuk menyesuaikan dinamika bisnis yang semakin berkembang.