Proceles

Farmasi-id.com > Health > Proceles

By | 17/02/2015

Kandungan dan Komposisi Proceles
:: Komposisi ::
Tiap PROCELES tablet mengandung:
Betamethasone ………………………………………….. 0,25 mg
Dexchlorpheniramine maleat …………………………. 2     mg

Tiap sendok takar (5 ml) PROCELES sirup mengandung:
Betamethasone …………………………………………. 0,25 mg
Dexchlorpheniramine maleat ………………………… 2      mg

 :: Farmakologi ::
PROCELES merupakan kombinasi Betamethasone suatu glukokortikoid sintetik dengan Dexchlorpheniramine maleate suatu antihistamin.
Betamethasone mempunyai efek sebagai antiinflamasi dan imunosupresan.
 :: Indikasi ::
PROCELES diindikasikan untuk mengobati alergi pernafasan, dermatologik, dan okular serta penyakit inflamatori okular dimana terapi tambahan kortikosteroid diperlukan.
 :: Kontra Indikasi ::
– Hipersensitivitas terhadap Betamethasone dan Dexchlorpheniramine maleate.
– Bayi baru lahir & bayi prematur atau penderita dengan infeksi jamur sistemik.
– Penderita yang sedang mendapat pengobatan MAOI.
– Penderita ulkus peptikum.
– Penderita yang sedang mendapat imunisasi.
 :: Efek Samping ::
Betamethasone:

  • Muskuloskeletal
    Kelelahan otot, miopati steroid, kehilangan massa otot, osteoporosis, fraktur kompresi vertebral, fraktur patologik pada tulang panjang dan nekrosis aseptik pada tulang lengan bagian atas dan tulang paha.
  • Saluran pencernaan
    Perforasi dan pendarahan pada penderita tukak lambung, pankreatitis, distensi abdominal dan esofagitis ulseratif.
  • Dermatologi
    Menurunnya kemampuan penyembuhan luka, ”thin fragile skin”, eritema pada wajah dan keringat berlebihan.
  • Sistem saraf
    Kejang, peningkatan tekanan intrakranial disertai edema papil (”pseudotumor”), vertigo, sakit kepala, insomnia, gelisah, depresi dan ansietas.
  • Gangguan cairan dan elektrolit.
    Retensi natrium dan air, hipokalemia, alkalosis, hipertensi dan gagal jantung kongestif.
  • Endokrin
    Menstruasi tidak teratur, pertumbuhan pada anak-anak terganggu, secondary adrenocortical dan pituitary unresponsiveness khususnya pada waktu stress seperti pada trauma, pembedahan.
  • Mata
    Katarak subkapsular posterior, peningkatan tekanan intra okular, glaukoma dan eksoftalmus.
  • Metabolik
    Keseimbangan nitrogen negatif karena katabolisme protein.
    – Reaksi hipersensitivitas.
    Reaksi anafilaktik jarang terjadi.
  • Menambah kepekaan infeksi khususnya dalam dosis besar.
  • Mengurangi toleransi glukosa, hiperglikemia dan memperberat diabetes melitus.

    Dexchlorpheniramine maleate: mengantuk, pusing, mulut, hidung dan tenggorokan kering, sakit kepala, palpitasi, retensi urine, sedasi, lemah, tinitus dan gangguan pencernaan, anoreksia, mual, muntah, diare dan konstipasi.

 :: Peringatan Dan Perhatian ::
  • Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak-anak yang mendapat pengobatan kortikosteroid jangka panjang harus diamati dengan 5eksama.
  • Kepekaan terhadap infeksi pada penderita yang mendapat kortikosteroid tidak bersifat spesifik untuk bakteri atau fungi patogen tertentu.
  • Kortikosteroid tidak dianjurkan untuk digunakan pada kehamilan trimester pertama, karena dapat terjadi hipoadrenalisme pada neonatus.
  • Tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita menyusui karena sejumlah kecil kortikosteroid disekresikan ke dalam air susu ibu.
  • Insufisiensi adrenokortikal sekunder karena pemakaian obat, dapat dikurangi dengan menurunkan dosis secara bertahap.
  • Tidak dianjurkan pemberian aspirin bersama-sama dengan kortikosteroid pada penderita hipoprotrombinemia.
  • Hindari penghentian pengobatan tiba-tiba setelah pemakaian lama.
  • Pemakaian lama dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
  • Terdapat peningkatan efek kortikosteroid pada penderita dengan hipotiroidisme dan cirrhosis.
  • Harus digunakan dengan hati-hati pada penderita dengan Diabetes Melitus karena dapat meningkatkan glukoneogenesis dan mengurangi sensitivitas terhadap insulin.
  • Hati-hati penggunaan pada pengemudi kendaraan bermotor atau operator mesin (karena dapat menyebabkan pusing, lelah dan kantuk).
  • Hati-hati penggunaan pada penderita glaukoma sudut sempit, obstruksi piloroduodenal, stenosis peptic ulcer, hipertrofi prostat atau obstruksi leher kandung kemih, penderita myasthenia gravis yang mendapat terapi antikolinesterase, gangguan kardiovaskuler termasuk hipertensi, peningkatan tekanan intraocular, hipertiroidisme, debilitas, asmatik, psikotik, gangguan tromboembolik, insufisiensi ginjal, osteoporosis, infeksi herpes simplex pada mata, gangguan seizure.
  • Penggunaan pada penderita dengan riwayat tuberkulosa aktif, terapi kortikosteroid harus terbatas pada kasus-kasus tuberkulosa fulminan atau diseminata dimana digunakan bersama dengan pengobatan antituberkulosa yang sesuai. Dapat terjadi reaktivasi tuberkulosa laten; pasien-pasien ini harus menerima kemoprofilaksis selama terapi kortikosteroid jangka panjang.
  • Penggunaan obat ini dapat menekan gejala-gejala klinis dari suatu penyakit infeksi.
  • Penggunaan kortikosteroid jangka panjang dapat mengakibatkan katarak subkapsular posterior, glaukoma dengan kemungkinan kerusakan pada saraf mata, serta dapat meningkatkan infeksi okular sekunder karena fungi atau virus.
 :: Interaksi Obat ::
  • Penggunaan bersama-sama dengan fenobarbital, rifampisin, fenitoin atau efedrin meningkatkan metabolisme kortikosteroid.
  • Efek kortikosteroid yang berlebihan akan terjadi pada penderita yang mendapat pengobatan estrogen.
  • Penggunaan kortikosteroid dengan antikoagulan tipe kumarin, dapat menaikkan atau menurunkan efek antikoagulan, sehingga memerlukan penyesuaian dosis.
  • Kombinasi efek NSAID atau alkohol dengan glukokortikoid dapat mengakibatkan ulserasi gastrointestinal yang lebih parah.
  • Kortikosteroid dapat menyebabkan reaksi negatif palsu, pada tes nitroblue tetrazolin untuk infeksi bakteri.
  • Penggunaan dengan alkohol, anti depresan golongan trisiklik, barbiturat atau depresan SSP lain, dapat memperkuat efek sedatif dexchlorpheniramine.
  • Penggunaan kortikosteroid bersamaan dengan diuretik tipe thiazide serta obat lain yang bersifat mengurangi Kalium dapat menyebabkan hipokalemia.
  • Penggunaan kortikosteroid dapat menurunkan konsentrasi Salisilat dalam darah.
  • Penggunaan kortikosteroid pada penderita diabetes perlu penyesuaian dosis obat diabetes.
  • Penggunaan bersamaan dengan glukokortikoid dapat menghambat respon Somatotropin.
 :: Dosis Dan Cara Penggunaan ::
Dosis harus berdasarkan masing-masing individu, disesuaikan dengan beratnya penyakit dan respon klinik dari penderita.
Dewasa dan anak > 12 tahun: 1 – 2 tablet / 1 – 2 sendok takar 4 kali sehari sesudah makan dan pada saat akan tidur, jangan melebihi dari 8 tablet / 8 sendok takar sehari.
Anak-anak usia 6 – 12 tahun: ½ tablet / ½ sendok takar, 3 kali sehari, sesudah makan dan pada saat akan tidur, jangan melebihi dari 4 tablet / 4 sendok takar sehari.
Anak-anak usia 2 – 6 tahun: ¼ – ½ sendok takar, 3 kali sehari, sesudah makan dan pada saat akan tidur, jangan melebihi dari 2 sendok takar sehari.

Bila terlihat ada perbaikan, dosis harus diturunkan
secara bertahap sampai dosis pemeliharaan
minimum dan dihentikan bila memungkinkan.

 :: Kemasan ::
PROCELES tablet
Dus, isi 5 strip @ 10 tablet
No. Reg.: DKL 0615619910 A1

PROCELES sirup
Dus, isi botol @ 60 ml
No. Reg.: DKL 0615619737 A1

 :: Cara Penyimpanan ::
Simpan pada suhu kamar (25-30) oC, kering dan terlindung dari cahaya
Sekilas Tentang PT. Meprofarm
Meprofarm adalah suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 1973 oleh Wanne Mardiwidyo. Awalnya perusahaan ini memasarkan obat generik yang pada waktu itu masih diproduksi secara maklon atau dikerjakan oleh pihak lain di ITB (Institut Teknologi Bandung).

Tahun 1993 Meprofarm mulai membangun fasilitas produksi yang dinamakan Mepro-1 di Bandung dengan tujuan untuk memperbesar skala produksi dan mendapatkan sertifikat CPOB dari Kementrian Kesehatan. Fasilitas Mepro-1 digunakan untuk produksi, riset and development, gudang, marketing, dan keuangan perusahaan. Di lokasi tersebut diproduksi produk sefalosporin steril dan non-steril. Tahun 1996 meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat CPOB untuk produk farmasi dengan sediaan tablet, kapsul, sirup cair dan kering, dan krim, dua tahun kemudian berhasil memperoleh sertifikat CPOB untuk produk sefalosporin dengan sediaan serbuk steril, tablet, dan sirup kering.

Pada tahun 2006, perusahaan ini mulai membangun fasilitas produksi Mepro-2 yang lokasinya persis dibelakang Mepro-1. Fasilitas baru ini ditujukan untuk memproduksi produk farmasi dengan sediaan cairan steril meliputi cairan injeksi, sirup cair, supositoria, krim, dan sirup kering. Selain itu fasilitas ini juga digunakan untuk riset and development. Oleh karenanya pada 2008, Meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001 dan ISO 14001 dan pada 2011 seiring dengan telah diperolehnya sertifikat CPOB pada fasilitas Mepro-2, maka dimulailah produksi perdana di fasilitas ini.

Beberapa perusahaan farmasi lainnya yang telah menjalin kerjasama dengan Meprofarm antara lain PT. Tanabe Indonesia, PT. Astellas, PT. Dexa Medica, PT. Holi Pharma, PT. Otto Pharmaceutical, dan sebagainya.