Po Wo Tong Chui Fong Tou Kuwan Pill

Farmasi-id.com > Jamu > Jamu Rematik > Po Wo Tong Chui Fong Tou Kuwan Pill

By | 01/03/2018

Kandungan dan Komposisi

  • Dipsaci Radix 7,88 mg
  • Saposhnikoviae Radix 14,80 mg
  • Chuanxiong Radix 14,80 mg
  • Eucommiae Cortex 14.80 mg
  • Angelicae Dahuricae Radix 20,72 mg
  • Myrrha 5,92 mg
  • Mel 59,20 mg
  • Panax Ginseng Radix 7,88 mg
  • Achyrantis Bidentatae Radix 14,80 mg
  • Acanthopananas Cortex 14,80 mg
  • Atractylodis Macrophyllae Radix 7, 88 mg
  • Chaenomalis Fructus 23,68 mg
  • Cinnamomi Cortex 14.80 mg
  • Auciandiae Radix 14.80 mg
  • Olibanum 14.80 mg
  • Glycyrrhizae Radix 14,80 mg

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan

Digunakan untuk perawatan mati rasa bagi penderita baru maupun lama yang disebabkan oleh angin, udara dingin maupun lembab, seperti rematik, mati rasa dibagian kaki dan tangan, susah berjalan, mengurasi rasa sakit karena rematik dan sakit pinggang.

Dosis dan Kegunaan

Dewasa 3x sehari 8 pil
Anak-anak 3x sehari 4 pil
Diminum dengan air hangat

Cara Penyimpanan

Simpan ditempat yang kering dan terhindar dari cahaya matahari

Kemasan dan Sediaan

Botol @ 60 pil

Izin BPOM

TI034405971

Produsen

Po Wo Tong Medicine Factory Limited – Hong Kong

Importir

Intra Aries

Sekilas Tentang Atractylodes Macrocephala
Atractylodes Macrocephala atau White Atractylodes Rhizoma yang dalam bahasa China dikenal dengan sebutan Bai Zhu adalah suatu akar yang berasal dari tanaman Atractylodes macrocephala Koidz. Tanaman ini adalah suatu tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Tanaman ini memiliki rimpang yang tebal dan mirip seperti kepalan tangan. Batang tanamannya tegak dan bercabang pada bagian atas. Atractylodes macrocephala memiliki bunga berbentuk mirip lonceng dengan warna ungu kemerahan yang berbunga pada bulan Juli hingga September dan mulai berbuah pada Agustus hingga Oktober. Daerah terbesar penghasil atractylodes macrocephala adalah kota Shaoxing, provinsi Zhejiang, China.

Bagian yang dijadikan sebagai obat adalah akarnya. Akar ini berwarna kuning keabu-abuan dengan tekstur keras dan sulit untuk patah. Rasa akar ini manis dan sedikit pedas namun tidak lengket saat dikunyah. Akar ini biasanya dikeringkan terlebih dahulu dibawah sinar matahari sebelum digunakan sebagai obat.

Manfaat atau khasiat dari akar tanaman atractylodes macrocephala diantaranya adalah untuk mengobati tukak lambung, melindungi kesehatan hati, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi stres, meningkatkan fungsi hematopoietik, menginduksi diuresis, memperlambat proses penuaan, mengatur atau mengendalikan kadar gula darah, melawan pertumbuhan sel kanker, mencegah keguguran, dan sebagainya.
Sekilas Tentang Glycyrrhiza Glabra (Akar Manis)
Akar manis tumbuh seperti rerumputan (semak) di sebagian wilayah Eropa bagian selatan (Glycyrrhiza glabra). Spesies lainnya yang berasal dari Amerika Utara adalah G. lepidopta dan yang dari Tiongkok adalah G.uralensis, yang terakhir ini banyak dipakai sebagai bahan obat-obatan Cina. Akar manis tumbuh dengan baik di tanah yang dalam, subur, cukup air dan dalam iklim yang penuh cahaya matahari. Biasanya dipanen pada musim gugur 2 atau 3 tahun setelah penanaman. Akar manis juga dikenal dengan sebutan licorice/liquorice.

Ekstrak akar manis didapat dengan cara merebus akar tanamannya dan menguapkan airnya, dapat dijual dalam bentuk bubuk ataupun sirup (cair). Zat yang terkandung di dalamnya adalah glycyrrhizin, yang sangat manis, 50 kali lebih manis daripada gula dan memiliki khasiat pengobatan. Spesies G.uralensis adalah jenis akar manis yang paling banyak mengandung zat ini. Penggunaan : Antitusiv, akar dalam bentuk serbuk sebagai pengisi/pembalut pil, dan campuran obat batuk, menghilangkan bau-bau yang tidak sedap dalam obat-obatan.
Sekilas Tentang Panax Ginseng (Ginseng)
Ginseng merupakan salah satu tanaman berkhasiat obat yang telah lama dimanfaatkan di berbagai negara seperti Cina, Korea, Amerika, dan Jepang.

Hampir semua bagian tanaman seperti biji, bunga, daun dan batang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan. Namun, bagian akar dan umbinya yang paling sering dimanfaatkan. Akar ginseng mengandung berbagai senyawa seperti saponin (panaxosida atau ginsenosida), antioksidan, peptida, polisakarida, asam lemak, glikosida (panaquilon), poliasetilena, pitosterol dan minyak esensial. Selain itu, dalam akar ginseng juga terkandung zat pahit, vitamin B1, dan B2. Zat ginsenosida (triterpenglikosida) berperan dalam memberikan efek adaptogen seperti antistres, antiletih, meningkatkan sistem imun, dan sebagai antioksidan yang kuat.
Sekilas Tentang Eucommia Ulmoides
Eucommia Ulmoides (Gutta-Percha/Du Zhong) adalah suatu tanaman herbal yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. Tanaman ini banyak tumbuh di alam liar, namun saat ini keberadaannya mulai terancam akibat terlalu banyak diambil oleh manusia untuk pengobatan dan bahan baku karet sehingga untuk skala besar tanaman ini mulai dibudidayakan.

Eucommia ulmoides bisa tumbuh hingga ketinggian 15 meter dengan daun berwarna kehijauan berbentuk bulat telur dengan ujung tajam dan tepi daun bergerigi. Jika daunnya robek maka akan keluar getah yang keluar dari pembuluh daunnya yang jika mengeras maka getah itu akan berubah menjadi karet. Umumnya bagian yang dipakai sebagai obat herbal adalah kulit tanamannya. Eucommia ulmoides memiliki aksi mirip menyerupai beta blocker dan vasorelaksasi. Beberapa kandungan kimia yang ada dalam kulit batang Eucommia ulmoides antara lain:

Geniposidic acid, aglycone geniposide, genipin, lignan, licoagroside F, flavonoid baicalein, wogonin, oroxylin A, caprylic acid, triterpenoid, chlorogenic acid.


Sementara itu kandungan kimia yang ada dalam daunnya meliputi:

Irioid glycoside geniposidic acid, quercetin, kaempferol, astragalin, licoagroside, lignan syringaresinol, chlorogenic acid, ferulic, caffeic acid.


Manfaat dari tanaman ini adalah meredakan sakit punggung, meningkatkan stamina, mengurangi fatigue, memperkuat otot, meningkatkan kesuburan, menurunkan tekanan darah, membantu mengurangi lemak tubuh, mengurangi risiko osteoporosis, dan menurunkan kadar trigliserida.
Sekilas Tentang Ligusticum Chuanxiong (Ligusticum Wallichii)
Ligusticum chuanxiong yang memiliki nama lain Ligusticum wallichii merupakan suatu tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam dunia pengobatan tradisional masyarakat China dan Korea selama berabad-abad. Tanaman ini biasa tumbuh di alam liar dengan bunga hermafrodit yang penyerbukannya dibantu oleh serangga. Tanaman ini memiliki sifat pedas dan hangat yang mampu meningkatkan aliran darah dan qi, menghilangkan masuk angin, serta meredakan nyeri.

Ligusticum chuanxiong banyak diresepkan oleh ahli herbal untuk mengatasi masalah haid yang tidak teratur, dismenore, dan sakit kepala. Selain itu tanaman ini juga diberikan untuk meredakan peradangan yang disebabkan oleh cedera dan bisul.

Dalam dunia kuliner, Ligusticum chuanxion dapat digunakan sebagai penambah penyedap rasa pada masakan dan di dunia kosmetik digunakan untuk memberi aroma wangi pada produk sabun dan kosmetik. Karena kaya akan manfaat, tanaman ini kini dibudidayakan.
Sekilas tentang rematik

Rematik (Radang sendi atau artritis reumatoid (bahasa Inggris: Rheumatoid Arthritis, RA)) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.

Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa rasa nyeri atau radang pada otot, sendi-sendi atau jaringan-jaringan badan; encok, sakit pada tulang, demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus RA diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.