OLANZAPINE

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antipsikotik > OLANZAPINE

By | 04/05/2017

Deskripsi

Olanzapine digunakan untuk mengobati gangguan saraf, emosi, dan mental. Obat ini dapat digunakan sendiri atau dengan obat-obatan lain untuk mengobati gangguan bipolar.

Obat ini tidak boleh digunakan untuk mengobati gangguan perilaku pada pasien dewasa tua yang telah mengalami demensia atau penyakit Alzheimer. Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dan tersedia dalam bentuk sediaan tablet

Dosis

Untuk pengobatan skizofrenia

  1. Dewasa: Pada awalnya 5 sampai 10 mg sekali sehari. Dokter dapat menyesuaikan dosis jika diperlukan, namun biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  2. Remaja dan anak-anak usia 13 – 17 tahun: Pada awalnya 2,5 atau 5 mg sekali sehari. Dokter mungkin menyesuaikan dosis jika diperlukan, namun dosis biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  3. Anak-anak usia 13 tahun ke bawah : Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Untuk pengobatan gangguan bipolar

  1. Dewasa: Pada awalnya 5 sampai 15 mg sekali sehari. Dokter mungkin menyesuaikan dosis jika diperlukan. Namun, dosis biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  2. Remaja dan anak-anak usia 13 – 17 tahun: Pada awalnya 2,5 atau 5 mg sekali sehari. Dokter dapat menyesuaikan dosis jika diperlukan, namun biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  3. Anak-anak usia 13 tahun ke bawah: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Untuk pengobatan gangguan bipolar mania

  1. Dewasa: Pada awalnya 10 sampai 15 mg sekali sehari. Dokter dapat menyesuaikan dosis jika diperlukan, namun biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  2. Remaja dan anak-anak usia 13 – 17 tahun : Pada awalnya 2,5 atau 5 mg sekali sehari. Dokter dapat menyesuaikan dosis jika diperlukan, namun biasanya tidak lebih dari 20 mg per hari.
  3. Anak-anak usia 13 tahun ke bawah : Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.

Efek Samping

  1. Kembung atau pembengkakan pada wajah, lengan, tangan, kaki bagian bawah, atau kaki
  2. Penglihatan kabur
  3. Kehilangan kontrol keseimbangan, kecanggungan atau kegoyangan
  4. Kesulitan berbicara dan menelan
  5. Ketidakmampuan untuk duduk diam, gelisah
  6. Otot gemetar, menyentak, atau kekakuan
  7. Berat badan naik dengan cepat
  8. Perkataan melantur
  9. Kekakuan pada lengan dan kaki
  10. Tangan atau kaki kesemutan atau gemetar

Gejala overdosis

  1. Kecemasan
  2. Perubahan kesadaran, pola dan ritme berbicara
  3. Kejang-kejang (kejang)
  4. Pusing, pingsan, atau sakit kepala ringan ketika bangun dari posisi berbaring atau duduk tiba-tiba
  5. Mengantuk
  6. Mulut kering
  7. Pingsan
  8. Halusinasi
  9. Jantung berhenti berdenyut
  10. Demam tinggi
  11. Tekanan darah tinggi atau rendah
  12. Peningkatan berkeringat
  13. Menjadi pemarah dan agresif
  14. Mood atau perubahan mental
  15. Bibir, kuku, atau kulit pucat atau biru
  16. Otot kaku
  17. Gugup, atau gelisah
  18. Kelelahan atau kelemahan yang tak biasa

Interaksi Obat

  • Tramadol, karena risiko kejang dapat meningkat
  • Alpha-blocker (misalnya, doxazosin), diazepam, atau obat untuk tekanan darah tinggi karena risiko tekanan darah rendah dan pingsan dapat meningkat
  • Antikolinergik (misalnya, skopolamin), benzodiazepin (misalnya, lorazepam), atau fluvoxamine karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko efek samping olanzapine
  • Karbamazepin, PI (misalnya, ritonavir), omeprazole, atau rifampin karena obat tersebut dapat menurunkan efektivitas olanzapine
  • Dopamin agonis reseptor (misalnya, pramipexole) atau levodopa karena efektivitas obat tersebut mungkin akan menurun oleh olanzapine

Peringatan dan Perhatian

  • penyakit pembuluh darah atau masalah sirkulasi
  • dehidrasi
  • derangan jantung atau stroke, termasuk jika ada riwayat
  • penyakit jantung
  • gagal jantung
  • masalah ritme jantung
  • hipotensi (tekanan darah rendah)
  • hipovolemia (volume darah rendah). Mungkin membuat efek samping menjadi lebih buruk
  • kanker payudara, ketergantungan prolaktin
  • glaukoma sudut sempit
  • hiperlipidemia (kolesterol tinggi atau lemak dalam darah)
  • hyperprolactinemia (prolaktin tinggi dalam darah)
  • penyakit hati
  • ileus paralitik (masalah usus yang parah), termasuk jika ada riwayat
  • prostatic hypertrophy (pembesaran prostat)
  • kejang, adanya riwayat. Gunakan dengan hati-hati. Obat ini dapat membuat
  • kondisi lebih buruk
  • diabetes
  • hiperglikemia (gula darah tinggi). Gunakan dengan hati-hati. Obat ini dapat meningkatkan kadar gula darah
  • fenilketonuria (PKU, penyakit genetik metabolisme) – tablet oral disintegrasi (Zyprexa® Zydis®) mengandung fenilalanin, yang dapat membuat kondisi ini lebih buruk.

Keamanan Penggunaan pada Wanita Hamil

Obat ini termasuk ke dalam risiko kehamilan kategori C (Kategori C= Mungkinn berisiko) menurut US Food and Drugs Administration (FDA).

Kemasan dan Sediaan

Bubuk untuk larutan, intramuskular: 10 mg / 2 mL.

Cara Penyimpanan

Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. Jangan disimpan di kamar mandi. Jangan dibekukan. Merek lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda. Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila diinstruksikan. Buang produk ini bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi. Konsultasikan kepada apoteker atau perusahaan pembuangan limbah lokal mengenai bagaimana cara aman membuang produk Anda.

Nama Generik

Olanzapine

Nama Brand

Olandoz, Onzapin, Remital, danZyprexa/Zyprexa RAIM/Zyprexa Zydis.

Sekilas Tentang Obat Antipsikotik

Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.