NATDAC

Farmasi-id.com > Antiinfeksi (Sistemik) > Antivirus > NATDAC

By | 02/06/2019

Kandungan

Daclatasvir

Indikasi

Natdac adalah obat yang digunakan dalam terapi pengobatan hepatitis C kronis pada orang dewasa. Umumnya Natdac digunakan dalam kombinasi bersama dengan sofosbuvir dengan atau tanpa ribavirin. Natdac tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam pencegahan penyebaran hepatitis C.

Farmakologi

Daclatasvir merupakan suatu antivirus direct-acting dengan aktivitas melawan virus hepatitis C (HCV). Ia mengikat ke N-terminus dari domain 1 dari protein nonstruktural 5A (NS5A) yang merupakan komponen esensial dari HCV sehingga mampu menghambat replikasi RNA dan virion.

Farmakokinetik:

  • Penyerapan: mudah diserap, bioavailabilitas: 67%, waktu puncak konsentrasi plasma: 2 jam;
  • Distribusi: pengikatan protein plasma: sekira 99%;
  • Metabolisme: dimetabolisme terutama oleh enzim CYP3A4;
  • Eksresi: melalui feses (88%, 53% sebagai obat tidak berubah) dan urin (6,6%, terutama sebagai obat tidak berubah), waktu paruh eliminasi terminal: 12-15 jam;

Kontra Indikasi

  • Natdac dikontraindikasikan pada pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi terhadap daclatasvir atau komponen obat lainnya yang menjadi bagian dari terapi kombinasi atau pada bahan tidak aktif lainnya yang ada dalam Natdac;
  • Natdac tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien yang menerima inducer CYP3A kuat seperti phenytoin, carbamazepine, rifampin, St. John’s wort, dan sebagainya karena risiko memperburuk kondisi pasien;
  • Natdac tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil kecuali hanya jika jelas benar-benar diperlukan. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai terapi pengobatan dengan Natdac;
  • Natdac tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita menyusui. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu;
  • Natdac kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat-obat lainnya yang akan menimbulkan risiko efek samping;
  • Penggunaan Natdac pada pasien yang juga memiliki penyakit hepatitis B dapat menyebabkan reaktivasi virus dan berpotensi mengancam jiwa; disarankan untuk men-screening pasien untuk hepatitis B sebelum memulai terapi dengan obat ini;
  • Natdac dan kombinasinya dengan sofosbuvir dan amiodarone kemungkinan dapat menyebabkan risiko penurunan detak jantung. Risiko ini akan lebih meningkat pada pasien yang memiliki gangguan jantung dan pasien yang menerima obat beta blocker. Terapi alternatif lainnya kemungkinan dibutuhkan pada beberapa kasus berdasarkan kondisi klinis;
  • Kemungkinan diperlukan pasien menjalani test NS5A resisten dalam HCV genotip 1a- pada pasien dengan cirrhosis;
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada pasien yang memiliki gangguan ginjal karena berisiko menyebabkan muculnya efek samping. Secara reguler lakukan pemantauan kondisi ginjal dengan melakukan tes saat menggunakan obat ini;
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada pasien yang memiliki penyakit hati. Pantau kondisi hati selama menggunakan obat ini;
  • Natdac tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh pasien berusia kurang dari 18 tahun karena tingkat keamanan dan efikasinya belum diketahui dengan pasti;
  • Penggunaan obat ini dapat menyebabkan gejala seperti pusing, bingung, dan kondisi lainnya pada beberapa pasien. Disarankan untuk tidak melakukan aktivitas seperti mengemudi dan menjalankan mesin selama menggunakan obat ini.

Efek Samping

Berikut beberapa efek samping yang dapat terjadi akibat penggunaan Natdac:

Sakit kepala, kelelahan yang tidak biasa, mual dan muntah, diare, anemia, ruam dan gatal pada kulit, pusing, gangguan tidur, sesak napas, nyeri dada, kebingungan, masalah memori ingatan.

Perhatian

Beberapa pasien dengan kondisi berikut ini harus diberi perhatian khusus, seperti:

  • Pasien dengan penyakit hepatitis B (infeksi HBV);
  • Pasien dengan gangguan kardiovaskular;
  • Pasien dengan gangguan hati;
  • Wanita hamil.

Interaksi Obat

  • Dapat menyebabkan bradikardia parah saat digunakan bersamaan dengan amiodarone dan sofosbuvir;
  • Penurunan konsentrasi plasma dan efek etrapi dengan inducer enzim CYP3A4 moderat;
  • Peningkatan konsentrasi plasma dengan inhibitor enzim CYP3A4 kuat seperti clarithromycin, itraconazole, ketoconazole, ritonavir;
  • Kemungkinan meningkatkan paparan sistemik pada obat dengan substrat P-gp transporter seperti digoxin, OATP 1B1/1B3, dan BCRP;
  • Penurunan konsentrasi plasma jika digunakan bersamaan dengan St. John’s wort;
  • Berpotensi fatal: penurunan konsentrasi plasma dan efek terapi dengan inducer enzim CYP3A4 seperti carbamazepine, phenytoin, rifampicin.

Parameter Pemantauan

Lakukan pemantauan dan tes CBC, INR, LFT (seperti albumin, ALT, AST, alkaline phosphatase), hitung GFR, HCV genotype dan subtype, dan kuantitatif virus HCV sebelum memulai terapi.

Dosis

Hepatitis C kronis

Dewasa: PO: dalam kombinasi dengan agen antivirus lainnya: 60 mg sekali sehari. Pasien yang menggunakan inducer enzim CYP3A4: 90 mg sekali sehari. Pasien yang menggunakan inhibitor enzim CYP3A4 kuat: 30 mg sekali sehari.

Penyimpanan

Simpan dibawah suhu 30°C.

Kemasan dan Sediaan

  • DKI1949500217A1, Natdac 30, dus, 1 botol plastik @ 28 tablet salut selaput 32,96 mg;
  • DKI1949500217B1, Natdac 60, dus, 1 botol plastik @ 28 tablet salut selaput 65.919 mg.

Produsen

Natco Pharma Limited – India

Pendaftar

Pratapa Nirmala

Sekilas Tentang Antivirus
Antivirus merupakan zat yang digunakan untuk membasmi, menghambat pertumbuhan virus. Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).

Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV).