Kalium Diklofenak

By | Maret 25, 2021 | Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) > Kalium Diklofenak

Kandungan dan Komposisi Kalium Diklofenak

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Kalium Diklofenak adalah:

Per tablet mengandung:

Kalium Diklofenak 50 mg

Farmakologi Kalium Diklofenak

Kalium diklofenak mempunyai sifat analgesik dan anti-inflamasi kuat. Mekanisme kerja yang utama adalah melalui penghambatan pada biosintesis prostaglandin.  Pada keadaan inflamasi  seperti trauma setelah operasi, kalium diklofenak meringankan nyeri spontan dan nyeri pada pergerakan, serta menghilangkan pembengkakan dan luka dengan edema. Kalium diklofenak diserap secara lengkap dan kadarnya dalam plasma menunjukkan hubungan yang linear dengan besarnya dosis. Kira-kira setengah dari senyawa aktifnya dimetabolisme pada lintasan pertama melalui hati. Sebanyak 99% diklofenak terikat pada protein serum. Waktu paruh akhir dalam plasma adalah 1-2 jam. Obat ini dimetabolisme hampulir lengkap di hati dan kurang dari 1% diekskresi melalui urin sebagai senyawa asal.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Kalium Diklofenak

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Kalium Diklofenak adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Pengobatan jangka pendek pada keadaan :

  • Rasa sakit pada peradangan pasca traumatik, misalnya akibat keseleo
  • Peradangan dan nyeri setelah operasi, misalnya setelah bedah mulut atau ortopedik
  • Sebagai obat tambahan pada nyeri akibat peradangan telinga, hidung, tenggorokan, misalnya pada faringotonsilitis, otitis
  • Sesuai dengan prinsip pengobatan umum, penyakitnya sendiri harus diobati dengan terapi dasar. Demam sendiri bukan suatu indikasi

Kontraindikasi Kalium Diklofenak

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Kalium Diklofenak dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Penderita tukak lambung, penderita yang mempunyai hipersensitivitas terhadap bahan aktif dari obat. Penderita yang terkena serangan  asma, urtikaria atau rhinitis akut yang disebabkan oleh asam asetilsalisilat atau oleh obat lain yang mempunyai aktivitas penghambatan terhadap pembentukan prostaglandin.

sekilas tentang Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) adalah kelas obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, mengurangi demam, mencegah pembekuan darah dan, dalam dosis yang lebih tinggi, mengurangi peradangan. Istilah nonsteroid membedakan obat ini dari steroid, walaupun memiliki efek antiinflamasi eicosanoid yang serupa dan memiliki berbagai efek lainnya. OAINS pertama kali digunakan pada tahun 1960, istilah ini digunakan untuk menjauhkan obat-obatan ini dari steroid, yang pada saat steroid distigma negatif akibat penyalahgunaan steroid anabolik. OAINS bekerja dengan menghambat aktivitas enzim siklooksigenase (COX-1 dan / atau COX-2). Dalam sel, enzim-enzim ini terlibat dalam sintesis mediator biologis utama, yaitu prostaglandin yang terlibat dalam peradangan, dan tromboksan yang terlibat dalam pembekuan darah.

Ada dua jenis OAINS yang tersedia yaitu non-selektif dan COX-2 selektif. Sebagian besar OAINS bersifat non-selektif, dan menghambat aktivitas COX-1 dan COX-2. OAINS ini selain mengurangi peradangan, juga menghambat agregasi trombosit (terutama aspirin) dan meningkatkan risiko ulkus/perdarahan gastrointestinal. Inhibitor selektif COX-2 memiliki lebih sedikit efek samping gastrointestinal, tetapi meningkatkan trombosis dan secara substansial meningkatkan risiko serangan jantung. Akibatnya, inhibitor selektif COX-2 umumnya dikontraindikasikan karena risiko tinggi penyakit vaskular yang tidak terdiagnosis. Efek diferensial ini disebabkan oleh peran dan lokalisasi jaringan yang berbeda dari masing-masing isoenzim COX. Dengan menghambat aktivitas COX fisiologis, semua OAINS meningkatkan risiko penyakit ginjal dan serangan jantung.

OAINS yang paling dikenal adalah aspirin, ibuprofen, dan naproxen, semuanya tersedia secara bebas di sebagian besar negara. Paracetamol (acetaminophen) umumnya tidak dianggap sebagai OAINS karena hanya memiliki aktivitas anti-inflamasi kecil. Paracetamol mengobati rasa sakit terutama dengan memblokir COX-2, sebagian besar di sistem saraf pusat, tetapi tidak banyak di seluruh tubuh. Efek samping OAINS tergantung pada spesifik obat, tetapi sebagian besar mencakup peningkatan risiko ulkus dan perdarahan gastrointestinal, serangan jantung dan penyakit ginjal.

Dosis dan Aturan Pakai Kalium Diklofenak

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Kalium Diklofenak:

Pada kasus ringan, dosis dewasa dan anak-anak diatas 14 tahun adalah 75-100 mg/hari, dibagi dalam 2-3 dosis.
Untuk kasus yang lebih berat, dosis harus dinaikkan sampai 100-150 mg/hari.     Kalium diklofenak tablet tidak direkomendasikan penggunaannya pada anak-anak.  Sebaiknya digunakan bersama dengan minuman, terutama sebelum makan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Kalium Diklofenak Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Kalium Diklofenak?

Jika Anda lupa menggunakan Kalium Diklofenak, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Kalium Diklofenak Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Kalium Diklofenak?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Kalium Diklofenak yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Efek Samping Kalium Diklofenak

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Kalium Diklofenak yang mungkin terjadi adalah:

Saluran cerna:

  • Kadang-kadang : nyeri epigastrik, gangguan saluran cerna lain seperti mual, muntah, diare, kram perut, dispepsia, flatulen, anoreksia
  • Jarang: perdarahan saluran cerna, hematemesis, melena, tukak peptik dengan atau tanpa perdarahan atau perforasi, diare berdarah
  • Kasus khusus: gangguan saluran cerna bagian bawah seperti kolitis hemoragik non-spesifik dan eksaserbasi  kolitis ulseratif atau proktokolitis Crohn’s, stomatitis aftosa, glositis, lesi esofagus, konstipasi

Sistem saraf pusat dan perifer:

  • Kadang-kadang :  sakit kepala, pusing atau vertigo
  • Jarang : mengantuk
  • Kasus khusus : gangguan perasaan (sensation), termasuk parestesia, disorientasi, gangguan memori, gangguan penglihatan (penglihatan kabur, diplopia), kurang pendengaran, tinitus, insomnia, iritabilitas, konvulsi, depresi, cemas, mimpi buruk, tremor, reaksi psikotik, gangguan pengekapsulan

Kulit:

  • Kadang-kadang : ruam atau erupsi kulit
  • Jarang: urtikaria
  • Kasus khusus : erupsi bulosa, eksim, eritema multiforme, sindroma Stevens – Johnson, sindroma Lyell (epidermalisis toksik akut), eritoderma (eksfoliatif dermalitis), rambut rontok, reaksi fotosensitivitas, purpura, termasuk purpura alergik

Sistem urogenital:

  • Kasus khusus : gagal ginjal akut, abnormalitas urin seperti hematuria, proteinuria, nefritis interstisial, sindroma nefrotik, nekrosis papiler

Hati:

  • Kadang-kadang : peningkatan enzim serum aminotransferase (SGOT, SGPT)
  • Jarang : hepatitis dengan atau tanpa ikterus
  • Kasus khusus : hepatitis fulminan

Darah:

  • Kasus khusus : trombositopenia, leukopenia, anemia (anemia hemolitik, anemia aplastik), agranulositosis.
    Hipersensitivitas
  • Jarang : reaksi hipersensitivitas seperti asma, reaksi anafilaktif/reaksi anafilaktoid sistemik termasuk hipotensi.
    Lain-lain
  • Jarang : edema.
    Kasus khusus : palpitasi, nyeri dada, hipertensi

Overdosis

  • Penanganan keracunan akut karena obat anti-inflamasi nonsteroid terdiri terutama dari tindakan suportif dan simptomatik. Tindakan yang harus diambil bila terjadi  overdosis adalah sebagai berikut : cegah penyerapan sesegera mungkin dengan bilas lambung dan pemberian zat arang aktif. Pengobatan supportif dan simptomatik harus dilakukan untuk komplikasi seperti hipotensi, gagal ginjal, konvulsi, iritasi saluran pencernaan dan depresi pernafasan
  • Pengobatan spesifik seperti diuresis paksa, dialisis atau hemoperfusi kemungkinan dapat menolong dalam menghilangkan obat anti-inflamasi nonsteroid, karena tingkat pengikatannya dengan protein yang tinggi dan metabolismenya yang ekstensif

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Kalium Diklofenak

  • Diagnosa pasti dan pengawasan medis ketat merupakan suatu keharusan pada penderita dengan gejala yang menunjukan gangguan saluran cerna dengan riwayat ulserasi saluran cerna, kolitis ulseratif atau penyakit Crohn’s, juga pada penderita gangguan fungsi hati yang berat
  • Penggunaan pada wanita hamil dan menyusui
    Pada kehamilan, kalium diklofenak diberikan hanya dengan alasan yang jelas dan hanya dengan dosis efektif terendah, khususnya pada 3 bulan terakhir kehamilan, seperti halnya inhibitor sintetsis-prostaglandin lain (karena kemungkinan terjadi inersia uteri dan/atau penutupan premature duktus arteriosus).
    Pada pemberian dosis oral 50 mg setiap 8 jam, bahan aktif diklofenak masuk  ke dalam air susu. Seperti halnya obat lain yang diekskresi melalui air susu, penggunaan kalium diklofenak tidak direkomendasikan pada wanita menyusui
  • Efek terhadap kemampuan menjalankan atau menggunakan mesin.
    Penderita yang pusing atau mengalami gangguan saraf pusat lain tidak boleh menjalankan kendaraan atau mengoperasikan mesin

Interaksi Obat Kalium Diklofenak

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Kalium Diklofenak antara lain:

  • Bila diberikan bersama dengan sediaan yang mengandung litium atau digoksin, diklofenak dapat meningkatkan konsentrasi obat-obat tersebut dalam plasma tetapi belum pernah dilaporkan terjadi tanda-tanda klinis overdosis. Berbagai obat anti-inflamasi nonsteroid dapat menghambat aktivitas diuretik
  • Pemberian bersama diuretik hemat kalium kemungkinan berhubungan dengan peningkatan kadar kalium serum, sehingga perlu dimonitor
  • Pemberian bersama dengan senyawa anti-inflamasi nonsteroid sistemik dapat meningkatkan  terjadinya efek sampuling
  • Walaupun penelitian klinis tidak menunjukkan diklofenak mempunyai pengaruh terhadap efek anti-koagulan, terdapat laporan khusus mengenai peningkatan resiko perdarahan dengan terapi kombinasi penggunaan diklofenak dan anti-koagulan. Karena itu pada penderita yang demikian, disarankan dilakukan monitoring ketat. Seperti anti-inflamasi nonsteroid lainnya, diklofenak dosis tinggi (200 mg) dapat menghambat agregasi trombosit untuk sementara. Penelitian klinis menunjukkan bahwa diklofenak dapat diberikan bersama dengan obat anti-diabetik oral tanpa mempengaruhi efek klinisnya. Namun terdapat laporan bahwa efek hipoglikemik dan hiperglikemik  diklofenak mengharuskan penyesuaian dosis obat-obat hipoglikemik
  • Perlu diperhatikan bila obat anti-inflamasi nonsteroid diberikan kurang dari 24 jam sebelum atau sesudah pengobatan dengan metotreksat, karena kadar dan toksisitas metotreksat dapat meningkat
  • Peningkatan nefrotoksisitas siklosporin terhadap prostaglandin ginjal mungkin terjadi melalui efek obat anti-inflamasi nonsteroid

Kemasan dan Sediaan Kalium Diklofenak

, Sediaan, Izin BPOM

1 box berisi 5 strip @ 10 tablet, GKL0408511015A1

Cara Penyimpanan Kalium Diklofenak

Simpan pada suhu kamar (dibawah 30°C), terlindung dari cahaya.

Produsen Kalium Diklofenak

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Kalium Diklofenak:

Hexpharm Jaya

Sekilas Tentang Hexpharm Jaya Laboratories
PT Hexpharm Jaya Laboratories atau dikenal juga dengan sebutan HJ adalah perusahaan farmasi yang berdiri pada 1971. Pada November 1993 perusahaan ini diakuisisi oleh PT Dankos Laboratories Tbk sekaligus masuk dalam perusahaan Kalbe Group. Pada 2006, PT Dankos Laboratories Tbk bergabung dengan PT Kalbe Farma Tbk, sehingga otomatis membuat PT Hexpharm Jaya Laboratories menjadi anak perusahaan PT Kalbe Farma Tbk.

PT Hexpharm Jaya Laboratories telah lama dikenal sebagai perusahaan produsen obat-obatan farmasi baik generik maupun branded yang berkualitas dan telah mendapatkan sertifikat pengakuan berupa CPOB, ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001. Produk yang dihasilkan seperti obat alergi dan sistem imun, endokrin dan sistem metabolik, sistem gastrointestinal dan hepatobilier, obat sistem muskuloskeletal, antibiotik, obat dermatologi, dan sebagainya. Produk branded yang diproduksi perusahaan ini antara lain Girabloc, Alodan, Diabit, Cetrin, Hexalgin, Elanos, dan sebagainya. Kegiatan produksi produk farmasi dilakukan di pabriknya yang ada di Cikarang. Produk PT Hexpharm Jaya Laboratories didistribusikan oleh PT Enseval Putra Megatrading dan PT Tri sapta Jaya. PT Hexpharm Jaya Laboratories memiliki kantor pusat di KEM Tower Lt. 12, kemayoran, Jakarta Pusat.

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *