Seputar Hipertensi Pada Ibu Hamil

FARMASI-ID.COM > IBU & ANAK | FARMASI-ID.COM > Tips Kehamilan > Seputar Hipertensi Pada Ibu Hamil

hipertensi pada ibu hamil
Telah banyak dijumpai beberapa kasus hipertensi pada ibu hamil selama proses kehamilan. Terdapat beberapa implikasi berbahaya yang menjadi akibat dari kasus hipertensi selama masa kehamilan ini. Jurnal American Academy of Neurology belum lama ini memuat penelitian yang melihat adanya kaitan antara hipertensi yang dialami ibu hamil dengan tingkat kecerdasan anak yang dilahirkan. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti menguji kemampuluan kognitif 400 pria di usia 20 tahun. Lantas, mereka diuji lagi saat berusia rata-rata 69 tahun.

Responden yang ibunya mengalami hipertensi semasa hamil tampulak mencetak skor lebih rendah di tiap tahapan usia. Mereka juga mengalami penurunan nilai IQ yang lebih besar di usia lanjut. Fenomena itu kemungkinan besar terjadi karena hipertensi berdampulak negatif pada kondisi di dalam kandungan sehingga pertumbuhan janin pun terganggu.

Penulis laporan ilmiah tersebut, Katri Raikonen, menjelaskan, hipertensi dan kondisi terkait, seperti preeklampulsia, menimbulkan komplikasi pada 10 persen ibu hamil. Kondisi itu dapat memengaruhi kandungan. “Penelitian kami menunjukkan, penurunan kemampuluan berpikir di usia senja kemungkinan berasal dari peristiwa di masa janin, saat mayoritas perkembangan fungsi dan struktur otak berlangsung.”

Penelitian tersebut merupakan riset pertama yang menunjukkan kemungkinan efek jangka panjang terhadap kemampuluan kognitif. Penelitian lain telah mengungkapkan, anak yang lahir dari ibu yang mengalami tekanan darah tinggi semasa hamil kelak memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung dan stroke. “Penelitian terbaru ini sekaligus menjadi pengingat pen tingnya pemantauan tekanan darah dan terapi hipertensi di masa kehamilan,” komentar Prof Jeremy Pearson dari British Heart Foundation, seperti dikutip bbc.co.uk.

Sementara itu, peneliti dari Mayo Clinic belum lama ini mempresentasikan penelitiannya pada American Society of Nephrology. Mereka mengembangkan alat tes yang dapat memprediksikan kemungkinan terjadinya preeklampulsia pada ibu hamil. Pengujian dilakukan dengan melihat keberadaan sel spesifik yang ada di ginjal pada urine 300 responden.

Dari 15 ibu hamil yang mengalami preeklampulsia, semuanya positif memiliki sel tersebut pada urinenya. Preeklampulsia merupakan kelainan yang terjadi di ujung masa kehamilan dan ditandai dengan naiknya tekanan darah serta kelebihan protein pada urine. “Pengembangan alat tes yang akurat akan sangat bermanfaat,” komentar Ann Marie Barnard selaku ketua pelaksana Kelompok Aksi Preeklampulsia.

Berdasarkan pemantauan Kelompok Aksi Preeklampulsia, terlihat banyak perempuan yang takut hamil lagi setelah mengalami preeklampulsia. Jumlahnya cukup signifikan. Sebanyak 1.500 perempuan menghubungi nomor bantuan yang disediakan kelompok tersebut. Mereka menyatakan kekhawatirannya untuk kembali mengandung karena kandungannya berakhir tragis akibat preeklampulsia. “Tetapi, banyak juga yang memilih menjalani kehamilan berikutnya,” ungkap Barnard.

Pemeriksaan Rutin Pada Masa Kehamilan

 

Setiap kali melakukan pemeriksaan rutin kehamilan, ibu hamil pasti akan menjalani pengukuran tekanan darah. Hal ini untuk mengetahui apakah tekanan darah ibu hamil masih dalam batas normal atau tidak. Apalagi, proses kehamilan sering mengakibatkan naiknya tekanan darah pada wanita. Sebabnya, pada saat hamil, tubuh wanita memproduksi lebih banyak darah yang digunakan untuk menjadi media transportasi gizi dan oksigen untuk janin melalui plasenta dan ari-ari.

Dengan meningkatnya volume darah, maka kerja jantung akan meningkat untuk memompakan darah ke seluruh tubuh ibu hamil, termasuk sirkulasi darah pada janin. Dalam keadaan tertentu dimana terjadi penyempitan pembuluh darah, maka kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan darah ibu hamil secara sistemik. Inilah yang menyebabkan terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Untuk itu diperlukan pemantauan tekanan darah pada ibu hamil secara teratur dan berkala.

Dua Jenis Tekanan Darah

 

Tekanan darah tinggi, yang dikenal pula sebagai hipertensi, terjadi ketika terdapat peningkatan tekanan pada darah yang dipompakan oleh jantung. Adanya peningkatan tekanan darah ini dapat merusak dinding arteri di pembuluh darah. Akibat selanjutnya, tentu akan mempengaruhi sistem metabolisme tubuh.

Tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHG. Ini berarti, 120mmHG adalah tekanan sistolik dan 80mmHG adalah tekanan diastolik. Sistolik adalah saat jantung berkontraksi dan memompakan darah. Sedangkan pada saat jantung relaksasi dan terjadi pengisian darah ke dalam bilik kiri jantung, disebut tekanan diastolik.

Dua jenis tekanan ini memiliki arti yang sangat penting untuk mengukur tekanan darah. Ibu hamil dinyatakan memiliki tekanan darah tinggi bila tekanan diastolik ≥ 110mmHG pada satu kali pengukuran atau ≥ 90 mmHG pada 2 kali pengukuran setiap 4 jam.

Angka kejadian tekanan darah tinggi atau hipertensi pada kehamilan menkapsulai 5% dan banyak terjadi pada kehamilan dengan usia ibu dibawah 20 tahun atau kehamilan di atas usia 40 tahun, kehamilan dengan bayi kembar, dan ibu dengan kehamilan pertama.

Berdasarkan pada pendapat American Committee On maternal welfare, hipertensi dalam masa hamil dibatasi sebagai berikut :
  1. Kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang angkanya di atas 30.20 mmHg jika dihitung dari nilai sebelum wanita hamil atau dikenal dengan istilah nilai transver pertama.
  2. Kondisi dimana nilai tekanan darah absolute pada ibu melebihi angka 140/90 mmHg dalam setiap tingkatan atau stadium kehamilan.

 

    Klasifikasi Hipertensi Dalam Kehamilan

     

    Pada dasarnya terdapat 4 jenis hipertensi yang umumnya terdapat pada saat kehamilan, yaitu :
    1. Hipertensi Kronik, yaitu kondisi yang muncul sebelum hamil atau ada di saat umur kehamilan belum masuk ke dalam minggu ke-20.
    2. Hipertensi Gestasional. Merupakan jenis hipertensi yang muncul setelah umur kehamilan menkapsulai usia minggu ke 20 atau juga pada awal masa nifas namun tidak disertai dengan preeklamsia. Kondisi tersebut tak lain adalah hipertensi kronis yang tak terlihat dan berpotensi muncul lagi pada kehamilan wanita yang berikutnya.
    3. Hipertensi Pre-eklampulsi adalah jenis hipertensi yang muncul di usia lebih dari 20 minggu dan kehadirannya disertai dengan edema juga protenuria.
    4. Hipertensi Preeklamsia Superimpose yaitu gejala yang diderita ibu hamil dengan hipertensi kronik namun disertai dengan penyakit ginjal.

    Pertanda Preeklamsia

     

    hipertensi pada ibu hamil
    Ada dua penyebab hipertensi atau tekanan darah tinggi, yaitu hipertensi esensial (primer) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, stress, mengkonsumsi garam dan makanan berpengawet secara berlebihan, merokok, kebiasaan minum minuman yang mengandung alkohol dan kafein, serta pola makan tidak sehat yang mengakibatkan timbunan lemak dan kelebihan berat badan. Sedangkan hipertensi sekunder disebabkan adanya gangguan ginjal atau jantung.

    Tekanan darah tinggi pada kehamilan bisa jadi merupakan pertanda preeklamsia bila usia kehamilan menginjak 20 minggu ke atas. Disampuling hipertensi, ada beberapa tanda lain yang dapat dijadikan indikasi ibu hamil menderita preeklamsia, yakni : kenaikan berat badan serta pembengkakan pada kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat badan yang dimaksud yaitu jika menkapsulai 1 kg dalam seminggu dan berlangsung beberapa kali.

    Sebagai indikator adanya preeklamsia atau tidak, umumnya dilakukan pemeriksaan urine untuk melihat adanya protein atau tidak di air seni. Konsentrasi protein dalam urine yang melebihi 0,3 g/liter tergolong preeklamsia.

    Terdapat dua jenis preeklampulsia yaitu :

    1. Preeklampulsia Ringan, bila tidak ditemukan adanya tanda preeklampulsia berat.
    2. Preeklampulsia Berat, bila satu atau lebih kriteria di bawah ini terpenuhi : 
    • Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau diastolik > 110 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 6 jam.
    • Proteinuri sebesar 5 g/24 jam atau +3 atau lebih pada pengukuran semikuantitatif.
    • Olguria, produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam.
    • Gangguan serebral atau penglihatan, gangguan kesadaran, nyeri kepala, skotoma.
    • Edema paru.
    • Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas.
    • Gangguan fungsi hati tanpa adanya etiologi lain.
    • Trombositopenia.
    • Pertumbuhan janin terhambat.

    Tetap Aman Meski Hipertensi

    hipertensi pada ibu hamil
    Tekanan darah tinggi pada ibu hamil dapat menyebabkan janin memiliki berat badan yang rendah dan berpeluang dilahirkan premature alias sebelum waktunya. Bila tidak, nyawa ibu hamil ataupun si bayi bisa menjadi korban. Di sisi lain, persalinan prematur juga memiliki resiko sangat tinggi pada kesehatan bayi karena paru-parunya belum matang serta perkembangan organ-organ lain dan otaknya pun belum sempurna.

    Namun demikian, ibu hamil yang mengalami hipertensi tidak perlu khawatir karena hipertensi saat hamil dapat diatasi. Penanganan hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penanganan terhadap tekanan darah tinggi ibu itu sendiri, dan penanganan terhadap janin yang akan dilahirkan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mereduksi hipertensi pada ibu hamil :
    1. Mengkonsumsi obat penurun tekanan darah tinggi, yang sudah diberikan oleh dokter, secara teratur.
    2. Mengurangi aktivitas fisik yang melelahkan, seperti melakukan perjalanan jauh, pekerjaan rumah tangga yang berat, dan yang rawan stress.
    3. Mencermati makanan yang dikonsumsi. Batasi pemakaian natrium atau garam dalam makanan untuk ibu hamil.
    4. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur ke tenaga kesehatan (dokter atau bidan). Lakukan pemeriksaan sekali sebulan sampai dengan usia kehamilan menkapsulai 7 bulan. Kemudian, 2 minggu sekali ketika usia kehamilan menkapsulai 28 – 36 minggu dan seminggu sekali setelah usia kehamilan menkapsulai 36 minggu.

    Cara Mencegah Hipertensi Pada Ibu Hamil

    Sebenarnya, tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat dihindari. Caranya, terapkan pola hidup sehat. Mulailah dengan mencermati makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Hindari makanan yang menjadi pencetus darah tinggi, seperti : banyak mengandung natrium atau garam. Ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dengan panduan gizi yang seimbang. Ada beberapa bahan makanan yang dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi, seperti cokelat (minimal mengandung 72% dark chocolate), buah jeruk danpisang, serta ikan.

    Ibu hamil juga harus mendapatkan cukup istirahat dan berolah raga demi menjaga kebugaran tubuh. Olah raga yang disarankan adalah berenang dan jalan sehat karena tidak terlalu melelahkan. Selain itu, hindari minuman beralkohol dan merokok. Alkohol berpotensi menyebabkan tekanan darah meningkat. Begitu pula nikotine yang terdapat pada rokok dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Nikotine dapat menjadi pemicu kerusakan arteri endotel yang menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah. Penyumbatan inilah yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, stroke, dan serangan jantung.

    Stress juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Saat stress, produksi andrenalin oleh tubuh meningkat sehingga menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi.

    Dan yang paling penting ialah, lakukan kontrol yang rutin terhadap kehamilan pada ibu. Dengan melakukan pemeriksaan rutin, ibu hamil dapat segera mengetahui bila terjadi perubahan negatif pada kehamilannya.

    Powered by Farmasi-id.com

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *