Bahaya Infeksi Malaria Pada Wanita Hamil


Malaria pada kehamilan, khususnya yang disebabkan oleh P. falciparum meningkatkan risiko kematian janin karena restriksi pertumbuhan fetus (RPF), prematuritas, berat badan lahir rendah (BBLR), dan anemia maternal.

Mekanisme RPF terkait malaria belum jelas, mungkin akibat insufisiensi plasenta. Prevalensi puncak infeksi P. falciparum ialah kehamilan minggu ke-13-18 saat terjadi perkembangan sirkulasi plasenta. Perkembangan ini meliputi pertumbuhan sel plasenta, trofoblas ekstravilus yang menginvasi dan bermigrasi melalui desidua dan arteri spiralis maternal untuk meningkatkan persediaan darah plasenta. Invasi trofoblas melibatkan kompleks sitokin, kemokin, hormon, dan interaksi seluler antara jaringan plasenta dan sel imun maternal dalam desidua serta arteri spiralis endotelium.

Kadar angiopoetin terganggu pada parasitemia perifer terutama pada wanita yang melahirkan bayi BBLR. Selain itu, terjadi peningkatan sVEGFR1 sirkulasi dan VEGF plasenta yang berkaitan dengan risiko abortus, BBLR, dan inflamasi plasenta. Disregulasi sVEGFR1 dan ANG-1 serta 2 selama awal kehamilan menjadi tanda bahwa malaria mengganggu perkembangan plasenta dan vaskularisasi, sehingga menyebabkan RPF. Aktivasi berlebihan sistem komplemen dan C5a akan menyebabkan RPF pada model binatang melalui mekanisme gangguan angiogenesis.

Malaria diperkirakan berkaitan dengan hipertensi hingga preeklampsia yang berujung pada RPF. Selama kehamilan, hormon plasenta berperan penting mengatur pertumbuhan fetus dan kehamilan; disintesis sebagian besar oleh sinsitiotrofoblas berupa faktor pertumbuhan menyerupai insulin (IGF), leptin, hormon pertumbuhan plasenta, laktogen plasenta, serta gonadotropin korionik. Pada malaria dan inflamasi plasenta, terjadi penurunan nilai IGF- 1 yang berkorelasi dengan berat lahir.

Malaria plasenta menyebabkan sekuestrasi parasit di ruang intervilus, merangsang produksi kemokin sehingga terjadi penambahan monosit. Sitokin inflamasi ini menyebabkan pembentukan deposit fibrin. Sekuestrasi monosit plasenta dan pigmen malaria berkaitan dengan penurunan berat badan lahir. Selain itu, malaria plasenta berkaitan dengan penebalan membran basal dari sinsitiotrofoblas dan peningkatan knotting sinsitial serta nekrosis. Perubahan ini menurunkan integritas sinsitiotrofoblas, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan terutama pada trimester ketiga saat kebutuhan transportasi nutrisi paling tinggi.

Sekitar 25% populasi daerah endemik malaria menderita anemia berat (hemoglobin <7 g/L),5 sedangkan anemia merupakan faktor risiko bebas untuk BBLR dan RPF. Malaria menyebabkan anemia dan inflamasi plasenta berkaitan dengan anemia. Mekanisme anemia sedang hingga berat menyebabkan RPF masih belum diketahui. Beberapa faktor penyebab meliputi faktor hematinik, seperti besi, asam folat dan mikronutrien, komorbid lain (infeksi HIV atau kekurangan nutrisi maternal), serta mungkin terjadi gangguan penghantaran oksigen ke fetus.

Source: CDK-247/ vol. 43 no. 12 th. 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *