Haloperidol

By | Juni 26, 2020 | Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antipsikotik > Haloperidol

Kandungan dan Komposisi Haloperidol

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia. Kategori yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Haloperidol adalah:

Haloperidol

Cara Kerja Obat

Haloperidol merupakan derivat butirofenon yang bekerja sebagai antipsikosis kuat dan efektif untuk fase mania, penyakit maniak depresif, skizofrenia, sindroma paranoid dan Korea. Disamping itu haloperidol juga mempunyai daya antiemetik yaitu dapat menghambat sistem dopamin dan hipotalamus. Pada pemberian oral haloperidol diserap kurang lebih 60-70%, kadar puncak dalam plasma dikapsulai dalam waktu 2-6 jam dan menetap sampai 72 jam. Haloperidol ditimbun dalam hati dan ekskresi berlangsung lambat, sebagian besar bersama urin dan sebagian kecil melalui empedu.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Haloperidol

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Haloperidol adalah suatu produk kesehatan yang berguna untuk mengatasi:

  • Psikosis akut dan kronis
  • Halusinasi pada skizofrenia
  • Kelainan sikap dan tingkah laku pada anak
  • Penggunaan pada anak-anak hanya bila obat-obat psikoterapi non neuroleptik lainnya tidak memberi efek

Dosis dan Aturan Pakai Haloperidol

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Haloperidol:

  • Harus dengan resep dokter
  • Untuk psikosis :
    • Dewasa dan anak-anak > 12 tahun :
      Dosis awal : Gejala Sedang : 0.5 mg – 2 mg, 2-3 kali sehari.
      Gejala berat : 3 mg – 5 mg, 2-3 kali sehari. Selanjutnya dosis secara bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan toleransi tubuh
    • Anak-anak 3-12 tahun : 0.05 mg – 0.15 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2-3 dosis. Tidak dianjurkan untuk anak-anak dibawah 3 tahun
  • Untuk schizoprenia kronik :
    • Dewasa dan anak-anak > 12 tahun :
      Dosis awal : 6 – 15 mg dibagi dalam 2-3 dosis, selanjutnya dosis secara bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan toleransi tubuh
    • Usia lanjut : 0.5 – 1.5 mg/hari dibagi dalam 2-3 dosis

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Haloperidol

  • Penggunaan pada wanita hamil hanya jika telah dipertimbangkan bahwa manfaatnya lebih besar dibandingkan resiko terhadap janin
  • Haloperidol diekskresikan ke dalam ASI, sebaiknya berhenti menyusui selama menggunakan obat ini
  • Keamanan dan efektivitas pada anak-anak belum diketahui dengan pasti
  • Dosis harus dikurangi pada penderita gagal ginjal
  • Hati-hati pada gejala epilepsi, karena haloperidol tidak mempunya aksi antikonvulsi
  • Haloperidol pada dosis sedang dapat mengurangi ketelitian dan kesadaran yang tinggi seperti mengemudi dan menjalankan mesin
  • Hati-hati pada penderita kardiovaskuler, dapat terjadi transient hipotensi dan atau meninggalkan rasa sakit anginal
  • Jika muncul gejala neuroleptic malignant syndrome maka pengobatan dengan haloperidol dihentikan dan dilakukan pengobatan simtomatik dan pengobatan spesifik sesuai dengan gejala-gejala yang timbul
  • Hati-hati penggunaan pada penderita yang mendapat terapi antikoagulan
  • Penggunaan bersamaan dengan alkohol dapat menyebabkan efek aditif dan hipotensi

Efek Samping Haloperidol

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Haloperidol yang mungkin terjadi adalah:

  • Pemberian dosis tinggi terutama pada usia muda dapat terjadi reaksi ekstrapiramidal seperti hipertonia otot atau gemetar. Kadang-kadang terjadi gangguan pencernaan dan perubahan hematologik ringan
  • Akatisia dan dystonia

Kontraindikasi Haloperidol

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Haloperidol dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Parkinsonisme, depresi endogen tanpa agitasi, keadaan koma, penderita yang hipersensitif terhadap haloperidol.

Interaksi Obat Haloperidol

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Haloperidol antara lain:

  • Amfetamin dapat menurunkan efek haloperidol, epinefrina akan menimbulkan hipotensi berat
  • Haloperidol dapat memperkuat kerja obat depresan SSP (susunan saraf pusat) lain seperti barbiturat analgesik, alkohol
  • Haloperidol dengan litium kadang-kadang dapat menimbulkan sindroma ensefalitik akut, terutama bila konsentrasi litium dalam serum tinggi

Cara Penyimpanan Haloperidol

Simpan di bawah 30 derajat celcius dan tempat kering.

Kemasan dan Sediaan Haloperidol

Tersedia dalam kemasan : Haloperidol 5 mg tablet , 1 blister @ 10 tablet .

Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Aman Menggunakan Haloperidol Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Haloperidol, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Haloperidol?

Jika Anda lupa menggunakan Haloperidol, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Haloperidol Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini

Bagaimana Cara Penyimpanan Haloperidol?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Haloperidol yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.
Berikan Ulasan Produk Ini

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Tentang Obat Antipsikotik
Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.
Cara Mengutip Untuk Daftar Pustaka
Jika Anda ingin mengutip tulisan ini pada daftar pustaka, Anda bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai format berikut ini:

Format APA (American Psychological Association)

Farmasi-id.com. (2020, 26 Juni). Haloperidol. Diakses pada 10 Juli 2020, dari https://www.farmasi-id.com/haloperidol/


Format MLA (Modern Language Association)

"Haloperidol". Farmasi-id.com. 26 Juni 2020. 10 Juli 2020. https://www.farmasi-id.com/haloperidol/


Format MHRA (Modern Humanities Research Association)

Farmasi-id.com, "Haloperidol", 26 Juni 2020, <https://www.farmasi-id.com/haloperidol/> [Diakses pada 10 Juli 2020]


Bagikan ke Rekan Anda