Haloperidol Decanoate

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antipsikotik > Haloperidol Decanoate

By | 01/06/2018

Kandungan dan Komposisi

Haloperidol decanoate

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan

  • Terapi pemeliharaan bagi skizofrenia kronis & psikosis lainnya.
  • Psikosis akut dan kronis.
  • Halusinasi pada skizofrenia.
  • Kelainan sikap dan tingkah laku pada anak.
  • Penggunaan pada anak-anak hanya bila obat-obat psikoterapi non neuroleptik lainnya tidak memberi efek.

Kontra Indikasi

Hipersensitivitas. Kondisi tidak sadar, depresi SSP, penyakit Parkinson, lesi ganglia basal.

Perhatian 

Pasien dengan kondisi pemanjangan QT (misalnya sindrom QT, hipokalemia, ketidakseimbangan elektrolit, obat yang diketahui memperpanjang QT, penyakit KV, adanya riwayat keluarga dgn pemanjangan QT), epilepsi & kondisi yang menyebabkan kejang, penyakit hati, hipertiroidisme, kelainan KV berat, tirotoksikosis. Pasien yang menerima antikoagulan. Haldec tidak boleh digunakan sebagai monoterapi dimana depresi dominan. Alkohol. Dapat mempengaruhi kemampuan menyetir atau mengoperasikan mesin. Hamil & laktasi. Lansia.

Efek Samping

Gejala ekstrapiramidal, tardive dyskinesia / dystonia, sindrom ganas neuroleptik, depresi, sedasi, agitasi, kantuk, insomnia, sakit kepala, kebingungan, vertigo, kejang grand mal, eksaserbasi gejala psikotik yang nyata; Gangguan GI misalnya, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, perubahan berat; hiperprolaktinemia; takikardia, HTN & hipotensi; sementara penurunan jumlah sel darah; reaksi kulit maculopapular & acneiform; laringospasme, bronkospasme, peningkatan kedalaman respirasi; katarak, retinopati & gangguan penglihatan.

Interaksi Obat

Obat yang diketahui memperpanjang interval QT atau menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Konsentrasi ringan hingga sedang meningkat dengan substrat atau inhibitor isozim CYP3A4 atau CYP2D6 misalnya, itrakonazol, nefazodon, buspirone, venlafaksin, alprazolam, fluvoksamin, kinaidin, fluoxetin, sertralin, klorpromazin & prometazin. Peningkatan QTc dalam kombinasi dgn ketoconazole & paroxetine. Meningkatnya depresi SSP dengan obat-obat depresi SSP lainnya termasuk alkohol, hipnotik, obat penenang atau analgesik kuat. Meningkatkan efek SSP dengan metildopa. Mengurangi kadar plasma dengan pengobatan berkepanjangan dengan obat penginduksi enzim, misalnya karbamazepin, fenobarb, rifampisin. Bereaksi antagonis thd adrenalin & agen simpatomimetik lainnya & membalikkan efek penurun TD dari agen penghambat adrenergik misalnya, guanethidine. Dapat mengganggu efek antiparkinson dari levodopa. Menghambat metabolisasi TCA.

Kategori Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil (Menurut FDA)

Kategori C: Studi pada binatang percobaan telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embroisidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau studi pada wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Dosis dan Aturan Pakai

Awalnya 25-75 mg/ hari. Maks: 100 mg/hr. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 50 mg hingga memperoleh efek terapeutik optimal.

Pasien lanjut usia & kondisi lemah:

12.5-25 mg setiap 4 minggu.

Kemasan dan Sediaan

  • Tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg
  • Injeksi 50mg/ml, 100 mg/ml

Nama Brand

Benzydol-P, Brain-Rest, Cizoren, Cizoren, Plus, Combidol, Depidol, Dolcin, Gendol, Gendol-LA, Haldec, Haldol, Halidace, Halidol, Halobid, Haloday, Haloneo, Halopace, Halopidol, Halorise, Halotex, Haloton, Halzonic, Hexidol, Hexidol, Forte, Hexidol, Kit, Hexidol, Plus, Larenase, Lodol, Lopetric, Manodol, Mindol, Mindol, Forte, Mindol, Plus, Norma, Oprex, Philidol, Relinase, Relinase, LA, Senorm, Senorm-LA, Seradol, Serenace, Serenace, Trancodol, Trihol, Trinace, Trinorm, Zoridol

Sekilas Tentang Obat Antipsikotik
Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.