Goforan

By | November 30, 2020 | Farmasi-id.com > Antibiotik > Goforan

GOFORAN®
CEFOTAXIME

Kandungan dan Komposisi Goforan

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Goforan adalah::
Tiap vial GOFORAN® mengandung Cefotaxime sodium 1.048 g setara dengan Cefotaxime 1.0 g

Farmakologi Goforan

:
GOFORAN® dengan kandungan zat aktif Cefotaxime tergolong dalam antibiotika sefalosporin generasi ketiga yang mempunyai aktivitas antibakteri dengan jalan menghambat sintesa mukopeptida pada dinding sel bakteri dan mempunyai aktivitas yang luas terhadap organisme gram positif dan gram negatif. Cefotaxime memiliki stabilitas yang tinggi terhadap beta-laktamase, baik penicillinase maupun sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram negatif dan gram positif. Juga menunjukkan kemampuan penghambatan produksi beta-laktamase pada bakteri gram negatif

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Goforan

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Goforan adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

:
GOFORAN® efektif untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti pada:
  • Infeksi saluran pernafasan bagian bawah, termasuk pneumonia yang disebabkan S. pneumoniae, S. aureus (penghasil dan bukan penghasil penicillinase), E. coli, Klebsiella spp, H. influenzae (termasuk strain yang tahan terhadap ampulisilin), P. mirabilis, S. marcescens dan Enterobacter spp
  • Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan Enterococcus spp, S. epidermidis, Citrobacter spp, Enterobacter spp., E. coli, Klebsiella spp, P. mirabilis, S. marcescens, juga gonore tidak terkomplikasi yang disebabkan oleh N. gonorrhoeae (termasuk strain penghasil penicillinase)
  • Infeksi ginekologikal termasuk inflamasi pelvis, endometritis yang disebabkan S. epidermidis, Streptococcus spp, Enterococcus spp, E. coli, P. mirabilis, Bacteroides spp, Clostridium spp, dan kokus anaerob (termasuk Peptostreptococcus spp dan Peptococcus spp)
  • Septikemia yang disebabkan oleh E. coli, Kiebsiella spp dan S. marcescens
  • Infeksi sistem saraf pusat, seperti meningitis dan ventrikulitis yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis, H: influenzae S. pneumoniae, Klebsiella pneumoniae dan E. coli
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak yang disebabkan S. aureus, S. epidermidis, S. pyogenes, Enterococcus spp, E. coli, Enterobacter spp, Klebsiella spp, P. mirabilis, Pseudomonas spp, S. marcescens, Bacteroides spp dan kokus anaerob
  • Infeksi intra – abdominal, termasuk peritonitis yang disebabkan E. coli, Klebsiella spp, Bacteroides spp dan kokus anaerob
  • Infeksi tulang dan atau sendi yang disebabkan S. aureus ( penghasil dan bukan penghasil penicillinase), Streptococcus spp, Pseudomonas spp dan P. mirabilis
  • Pencegahan infeksi pasca pembedahan

Sekilas Tentang Obat Antibiotik
Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri molekul. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Antibiotika oral (diberikan lewat mulut) mudah digunakan dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadang kala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.
Sekilas Tentang Infeksi
Infeksi atau jangkitan adalah kolonalisasi (mengacu pada mikroorganisme yang tidak bereplikasi pada jaringan yang ditempatinya. Sedangkan "infeksi" mengacu pada keadaan di mana mikroorganisme bereplikasi dan jaringan menjadi terganggu) yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat paling membahayakan inang.

Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.

Simbiosis antara parasit dan inang, di mana satu pihak diuntungkan dan satu pihak dirugikan, digolongkan sebagai parasitisme. Cabang kedokteran yang menitikberatkan infeksi dan patogen adalah cabang penyakit infeksi.

Dosis dan Aturan Pakai Goforan

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Goforan:

:
Dewasa
  • Dosis umum: 1 g setiap 6 – 8 jam, dosis maksimum 12 g sehari
  • Infeksi ringan: 1 g setiap 12 jam
  • Infeksi sedang sampai berat: 1 – 2 g setiap 6 – 8 jam ( i.m atau i.v )
  • Infeksi yang mengancam kehidupan: 2 g setiap 4 jam ( i. v )
  • Gonorrhoe : 0.5 – 1 g setiap 8 jam atau dosis tunggal
  • Rectal gonorrhoe pada wanita.: 0.5 g i.m (dosis tunggal), pada pria 1 g i.m (dosis tunggal)
  • Infeksi yang memerlukan antibiotika dosis tinggi (septikemia ): 2 g tiap 6 – 8 jam ( i.v )
  • Gonococcal urethritis/ cervicitis pada wanita atau pria: 0.5 gram i.m (dosis tunggal)
  • Pencegahan infeksi pasca pembedahan: dosis tunggal 1 g ( i.m atau i.v ) diberikan 30 – 90 menit sebelum dimulai pembedahan

Anak-anak

  • Bayi berusia kurang dari 1 minggu: 50 mg/kg BB setiap 12 jam ( i.v )
  • Bayi usia 1 – 4 minggu: 50 mg/kg BB setiap 8 jam ( i.v )
  • Anak-anak usia 1 bulan – 12 tahun: 50 – 180 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 4 – 6 kali (i.m atau i.v )
  • Anak – anak dengan berat badan lebih dari 50 kg sama dengan dosis dewasa (maksimal 12 g/hari)

Pada penderita dengan gangguan ginjal:
Penderita dengan ‘creatinine clearance’ kurang dari 20 ml/menit/1.73 m2: dosis dikurangi setengahnya

Infeksi yang disebabkan oleh Streptococcus haemoliticus:
Pengobatan minimal diberikan selama 10 hari untuk mencegah resiko timbulnya reumatik atau glomerulonefritis

Pembuatan Larutan Injeksi:

>

   Ukuran kemasan   

    Cara pemakaian    

    Penambahan aqua p.i. untuk injeksi   

Vial 1.0 g

I.M

  3 ml

Vial 1.0 g

I.V

10 ml

Pemberian I.V

>

I.V intermitten

Untuk larutan 1.0 g dalam 10 mi dapat diinjeksikan selama 3 – 5 menit

I. V infus

Rekonstitusi dengan 50 ml atau 100 ml injeksi NaCl 0.9% atau injeksi dekstrosa
5%, kemudian diinfuskan selama 20 – 60 menit

Pemberian I.M
Diinjeksikan dalam gluteus maximus, sebaiknya tidak lebih dari 4 ml pada tiap sisi. Rasa sakit dapat dihindarkan dengan melarutkan dalam larutan lidokain 1 %

Kontraindikasi Goforan

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Goforan dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

:
Penderita yang hipersensitif terhadap sefalosporin

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Goforan Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Goforan?

Jika Anda lupa menggunakan Goforan, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Goforan Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Goforan?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Goforan yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Efek Samping Goforan

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Goforan yang mungkin terjadi adalah:

:
Jarang terjadi, biasanya ringan dan singkat. Reaksi hipersensitif seperti rash, pruritus, demam, eosinofilia dan efek pada gastrointestinal seperti mual, muntah, diare dan kolitis. Efek Samping seperti trombositopenia, agranulositosis, vaginitis, pusing dan terjadinya peningkatan SGOT dan SGPT.

Peringatan dan Perhatian Penggunaan Goforan

:
Hati-hati penggunaan pada penderita yang mempunyai riwayat gangguan gastrointestinal, terutama kolitis. Penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan tumbuhnya mikroorganisme yang tidak sensitif. Penggunaan obat ini selama kehamilan hanya bila benar-benar diperlukan. Hati-hati penggunaan jika diberikan pada wanita yang sedang menyusui.

Interaksi Obat Goforan

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Goforan antara lain:

:
Pencampuran dengan aminoglikosida dapat mengakibatkan inaktivasi mutual.

Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk (15 – 25° C) dan kering, terlindung dari cahaya
Setelah rekonstitusi larutan stabil selama 24 jam pada suhu di bawah 22°C. Jangan dicairkan dengan pemanasan, tetapi biarkan pada suhu kamar sampai mencair dan jangan dibekukan lagi. Bila Cefotaxime dilarutkan dalam larutan lidokain 1 % untuk injeksi i.m, penyediaan larutan injeksi harus dibuat baru.

Izin, Kemasan & Sediaan Goforan

:
GOFORAN® Box 1 vial @ 1.0 g dan 1 ampul aqua p.i 10 ml
No. Reg.: DKL0408013744Al

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Diproduksi oleh:
PT MEPROFARM
Bandung – Indonesia.

Untuk:
PT GUARDIAN PHARMATAMA
TANGERANG – INDONESIA

Meprofarm adalah suatu perusahaan farmasi Indonesia yang didirikan pada 1973 oleh Wanne Mardiwidyo. Awalnya perusahaan ini memasarkan obat generik yang pada waktu itu masih diproduksi secara maklon atau dikerjakan oleh pihak lain di ITB (Institut Teknologi Bandung).

Tahun 1993 Meprofarm mulai membangun fasilitas produksi yang dinamakan Mepro-1 di Bandung dengan tujuan untuk memperbesar skala produksi dan mendapatkan sertifikat CPOB dari Kementrian Kesehatan. Fasilitas Mepro-1 digunakan untuk produksi, riset and development, gudang, marketing, dan keuangan perusahaan. Di lokasi tersebut diproduksi produk sefalosporin steril dan non-steril. Tahun 1996 meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat CPOB untuk produk farmasi dengan sediaan tablet, kapsul, sirup cair dan kering, dan krim, dua tahun kemudian berhasil memperoleh sertifikat CPOB untuk produk sefalosporin dengan sediaan serbuk steril, tablet, dan sirup kering.

Pada tahun 2006, perusahaan ini mulai membangun fasilitas produksi Mepro-2 yang lokasinya persis dibelakang Mepro-1. Fasilitas baru ini ditujukan untuk memproduksi produk farmasi dengan sediaan cairan steril meliputi cairan injeksi, sirup cair, supositoria, krim, dan sirup kering. Selain itu fasilitas ini juga digunakan untuk riset and development. Oleh karenanya pada 2008, Meprofarm berhasil mendapatkan sertifikat ISO 9001 dan ISO 14001 dan pada 2011 seiring dengan telah diperolehnya sertifikat CPOB pada fasilitas Mepro-2, maka dimulailah produksi perdana di fasilitas ini.

Beberapa perusahaan farmasi lainnya yang telah menjalin kerjasama dengan Meprofarm antara lain PT Tanabe Indonesia, PT Astellas, PT Dexa Medica, PT Holi Pharma, PT Otto Pharmaceutical, dan sebagainya.

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *