FORTECORTIN

Farmasi-id.com > Hormon Kortikosteroid > FORTECORTIN

Komposisi

Dektametason Na fosfat

Indikasi

Pemakaian sistemik: edema otak akibat tumor otak, trauma kranioserebral, apopleksia, syok anafilaktik, status asmatikus, dermatosis berat akut, penyakit darah, penyakit infeksi akut, kegagalan andrenokortikal akut. Pemakaian lokal: terapi periartikuler dan inifiltrasi periartritis humeros kapuler, epikondilitis, bursitis

Dosis

Pencegahan dan pengobatan edema otak akut akibat trauma kranioserebral dan apopleksia awal 140- 100 mg IV kmd 4-8 mg 1 M dengan interval 2-4 jam selama 8 hari . Tumor otak awal 8-12 mg IV kmd 4 mg I M dengan interval 6 jam , Indikasi lain dengan penggunaan sistemik awal 20-40 mg IV dapat di ulang bila perlu. Penggunaan lokal 4-8 mg, injeksi intraartikuler pada sendi kecil dan pemakaian sub konjungtiva 2 mg

Kontra Indikasi

Ulkus lambung dan usus, osteoporosis berat, anamnesis psikiartrik, herper simpleks, herpes zoster, cacar air, sebelum dan setelah vaksinasi pencegahan, poliomielitis kecuali ensefalitis bullbar, limfoma setelah vaksinasi BCG, glaukoma sudut sempit dan sudut lebar, menyusui, infeksi jamur sistemik, TBC

Perhatian

Gagal jantung kongestif, hipertensi, DM, penyakit infeksi, gagal ginjal kronik, uremia, lansia, anak, hamil, menyusui. Penghentian tiba-tiba pada penggunaan yang lama tidak di anjurkan

Efek Samping

Pendarahan usus, penurunan toleransi glukosa, penurunan daya tahan terhadap infeksi, retensi cairan dan elektrolit, penghambatan dalam pertumbuhan, amenore, keringat berlebihan, gangguan mental, pankreatitis akut, nekrosis tulang aseptik, kegagalan adrenocortical, osteoporosis, ulkus peptikum, hambatan penyembuhan luka, hipertensi, peningkatan TD, katarak subkapar, gangguan GI

Interaksi Obat

Glikosida jantung: meningkatkan efek glikosida, saluretik : meningkatkan efek hipoglikemik. Derivat kurnarin, menurunkan efek antikoagulan. Rifampisin: menurunkan efek kortikoid. Salisilat : meningkatkan resiko pendarahan GI.

Kemasan dan Sediaan

Injeksi 1 ml x 1

Produsen

Merck

Sekilas tentang hormon kortikosteroid

Kortikosteroid adalah nama jenis hormon yang merupakan senyawa regulator seluruh sistem homeostasis tubuh organisme agar dapat bertahan menghadapi perubahan lingkungan dan infeksi.

Hormon kortikosteroid terdiri dari 2 sub-jenis yaitu hormon jenis glukokortikoid dan hormon jenis mineralokortikoid. Keduanya memiliki pengaruh yang sangat luas, seperti berpengaruh pada perubahan lintasan metabolisme karbohidrat, protein dan lipid, serta modulasi keseimbangan antara air dan cairan elektrolit tubuh; serta berdampak pada seluruh sistem tubuh seperti sistem kardiovaskular, muskuloskeletal, saraf, kekebalan, dan fetal termasuk mempengaruhi perkembangan dan kematangan paru pada masa janin.

Pada sistem endokrin, kortikosteroid mempengaruhi aktivitas beberapa hormon yang lain. Misalnya mengaktivasi hormon jenis katekolamin dan menstimulasi sintesis hormon adrenalin dari hormon noradrenalin, atau pada kelenjar tiroid, kortikosteroid menghambat sekresi hormon TSH dan menurunkan daya fisiologis tiroksin. Aktivitas hormon GH juga terhambat meskipun pada simtoma akromegali, kortikosteroid justru meningkatkan sekresi hormon GH dengan keberadaan hormon ACTH. Pada masa tumbuh kembang, terapi hormon kortikosteroid atau simtoma hiperkortisisme dapat menyebabkan pertumbuhan seorang anak terhenti sama sekali, sebagai akibat dari penurunan kematangan epiphyseal plates dan pertumbuhan tulang panjang. Dengan konsentrasi yang lebih tinggi, kortikosteroid akan menghambat sekresi hormon LH pada kelenjar gonad yang seharusnya dilepaskan sel gonadotrop sebagai respon atas stimulasi hormonal.

Pada sistem kardiovaskular, kortikosteroid memberikan efek pada respon miokardial, permeabilitas pembuluh darah kapiler dan pola denyut pembuluh darah arteriol.

Pada jaringan otot, kortikosteroid dengan konsentrasi yang setimbang, diperlukan bagi metabolisme pemeliharaan. Berubahnya kesetimbangan tersebut dapat menyebabkan berbagai kelainan, misalnya peningkatan aldosteron akan menyebabkan simtoma hipokalemia yang membuat otot menjadi tidak bertenaga, sedangkan kadar glukokortikoid yang tinggi akan menyebabkan degradasi otot melalui lintasan katabolisme protein.

Kortikosteroid juga berdampak pada sistem saraf secara tidak langsung dalam banyak hal. Adanya peningkatan eksitabilitas otak pada simtoma hiperkortisisme dan setelah terapi mineralokortikoid, lebih disebabkan oleh ketidaksetimbangan elektrolit daripada perubahan konsentrasi sodium. Kortikosteroid juga meningkatkan hemoglobin dan sel darah merah, mungkin disebabkan oleh melemahnya mekanisme eritrofagositosis. Efek ini terlihat sebagai simtoma polisitemia pada sindrom Cushing dan, anemia normokromik ringan pada penyakit Addison.