Doxorubicin Actavis

Farmasi-id.com > Onkologi > Kemoterapi Sitotoksik > Doxorubicin Actavis

By | 07/06/2015

Komposisi

Doxorubicin HCl.

Indikasi

Karsinoma payudar4, ovarium, tiroid, & lambung; limfoma maligna (penyakit Hodgkin), leukemia limfoblastik akut, karsinoma kandung kemih dengan karsinoma sel transisional, neuroblastoma, tumor Wilm, sarkoma tulang & jaringan lunak, leukemia mieloblastik akut, & karsinoma bronkogenik.

Dosis

IV Dws & anak Monoterapi Dosis anjuran: 2 mg/m2 tiap minggu. Berdasarkan luas permukaan tubuh: 60-75 mg/m2 tiap 3 minggu, dapat diturunkan hingga 30-40 mg/m2 tiap 3 minggu. Berdasarkan BKategori B: 1.2-2.4 mg/kg BB sebagai dosis tunggal tiap 3 minggu. Intravesikal Dws, lanjut usia, & anak 50 mg dalam 50 mL dipertahankan dalam waktu 1 jam.

Kontra Indikasi

Mielosupresi (penekanan sumsum tulang) yang diinduksi oleh terapi sebelumnya dengan obat anti tumor lain atau radioterapi; terapi sebelumnya dengan dosis kumulatif maksimal doksorubisin atau daunorubisin. Riwayat gangguan jantung sebelumnya, tumor vesika urinaria, striktura uretra, ISK resisten & gangguan hati yang jelas. Hamil & laktasi.

Perhatian

Periksa jumlah eritrosit, leukosit, & trombosit, serta fungsi hati sblm & selama terapi. Terapi sblmnya atau bersama obat yang berpotensi kardiotoksik seperti siklofosfamid, iradiasi mediastinum, atau komponen antrasiklin yang berhubungan; gangguan fungsi jantung. Hindari kontak dengan kulit atau mata.

Efek Samping yang Mungkin Timbul

Trombositopenia, anemia, penekanan sumsum tulang; takikardi, takikardi supraventrikuler & perubahan EKG; alopesia, mual, muntah, & diare, reaksi pada tempat injeksi & reaksi hipersensitivitas.

Interaksi Obat

Dosis tinggi siklosporin, propranolol, radioterapi.

Kategori Keamanan Kehamilan

D: Ada bukti positif mengenai risiko pada janin manusia, tetapi manfaat dari penggunaan obat ini pada wanita hamil dapat diterima meskipun berisiko pada janin (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Bentuk Sediaan Kemasan/Harga

  • POM DKI0931700544A1: Doxorubicin Actavis powd for injeksi 10 mg
    1’s (Rp130,000/vial)
  • POM DKI0931700544B1: Doxorubicin Actavis powd for injeksi 50 mg
    1’s (Rp570,000/vial)

Produsen

Actavis 

Sekilas tentang kanker dan tumor

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh ketidakteraturan perjalanan hormon yang mengakibatkan tumbuhnya daging pada jaringan tubuh yang normal atau sering dikenal sebagai tumor ganas. Selain itu gejala ini juga dikenal sebagai neoplasma ganas dan seringkali ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:

  1. Tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal)

  2. Menyerang jaringan biologis di dekatnya.

  3. Bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.


Tiga karakter ganas inilah yang membedakan kanker dari tumor jinak. Sebagian besar kanker membentuk tumor, tetapi beberapa tidak, seperti leukemia. Cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan studi, diagnosis, perawatan, dan pencegahan kanker disebut onkologi.

Tumor atau barah (bahasa Inggris: tumor, tumour) adalah sebutan untuk neoplasma atau lesi padat yang terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang tidak semestinya, yang mirip dengan simtoma bengkak. Tumor berasal dari kata tumere dalam bahasa latin yang berarti "bengkak". Pertumbuhannya dapat digolongkan sebagai ganas (malignan) atau jinak (benign).

Tumor ganas disebut kanker. Kanker memiliki potensi untuk menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan dan menciptakan metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak menyebarkan benih (metastasis), tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah penyingkiran melalui operasi.
Sekilas Tentang Kemoterapi Sitotoksik

Kemoterapi sitotoksik adalah kemoterapi menggunakan agen sitotoksik untuk membunuh atau merusak sel-sel kanker yang bereproduksi. Terapi ini secara spesifik menargetkan sel kanker yang membelah dengan cepat.

Kemoterapi dapat dianggap sebagai cara untuk merusak atau menekan sel, yang kemudian dapat menyebabkan kematian sel jika apoptosis dimulai. Efek samping dari kemoterapi seperti dapat merusak sel-sel normal yang membelah dengan cepat dan karenanya sensitif terhadap obat-obatan anti-mitosis: sel-sel di sumsum tulang, saluran pencernaan dan folikel rambut. Hal ini menghasilkan efek samping kemoterapi yang paling umum seperti: myelosuppression (penurunan produksi sel darah, karenanya juga imunosupresi), mukositis (peradangan pada lapisan saluran pencernaan), dan alopesia (kerontokan rambut). Karena efeknya pada sel-sel kekebalan tubuh (terutama limfosit), obat-obat kemoterapi sering digunakan dalam sejumlah penyakit yang diakibatkan oleh aktivitas berlebih yang berbahaya dari sistem kekebalan terhadap diri sendiri (disebut autoimunitas). Ini termasuk rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, vasculitis dan lain-lain.