CLOZAPINE

Farmasi-id.com > Sistem Saraf Pusat > Antipsikotik > CLOZAPINE

By | 14/01/2015

NAMA GENERIK

Klozapin

NAMA KIMIA
8-chloro-11-(4-methyl-1-piperazinyl)-5H-dibenzo[b,e][1,4]diazepine

GB STRUKTUR KIMIA
269

KETERANGAN
Tidak ada data

SIFAT FISIKOKIMIA
Klozapin berwujud serbuk kristal berwarna kuning, praktis tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, mudah larut dalam diklorometana.

SUB KELAS TERAPI
Anti psikosis

KELAS TERAPI
Psikofarmaka

Dosis PEMBERIAN OBAT
Dewasa : Schizophrenia : Dosis awal 12.5 mg sehari sekali atau sehari dua kali, ditingkatkan sesuai toleransi pasien, dengan kenaikan dosis 25-50 mg/hari sampai target dosis 300-450 mg/hari setelah 2-4 minggu, denghan kebutuhan dosis menkapsulai 600-900 mg/hari. Mengurangi risiko bunuh diri : dosis awal 12.5 mg sehari atau sehari dua kali, ditingkatkan sesuai toleransi dengan kenaikan dosis 25-50 mg/hari sampai target dosis 300-450 mg/hari setelah 2-4 minggu; dengan rata-rata dosis ≈ 300 mg/hari (rentang dosis 12.5-900 mg). Lansia : Schizophrenia : pemilihan dan titrasi dosis harus dilakukan dengan hati-hati. ;Penghentian terapi : bila pemberian dosis terganggu/terputus ≥ 48 jam, terapi harus diulang dengan dosis 12.5-25 mg/hari, dosis dapat ditingkatkan lebih cepat dari titrasi awal, kecuali pada kasus cardiopulmonary arrest pada saat titrasi awal. Untuk penghentian terapi yang direncanakan, dilakukan penurunan dosis secara bertahap selama 1-2 minggu. Bila terapi dihentikan secara tiba-tiba (leukopenia), monitor terjadinya psikosis dan rebound cholinergic (pusing, mual, muntah, diare) pada pasien. Terapi clozapine tidak boleh diulang pada pasien dengan penghentian terapi karena WBC<2000/mm3 atau ANC<1000/mm3. Penyesuaian dosis untuk toksisitas : leukopenia tingkat sedang atau granulocytopenia (WBC<3000/mm3 dan/atau ANC<1500/mm3): hentikan terapi. Terapi dapat diulangi bila WBC> 3500 /mm3 dan ANC >2000/mm3. Leukopenia berat atau granulocytopenia (WBC<2000/mm3 dan/atau ANC<1000/mm3): Hentikan terapi dan jangan diulangi.

FARMAKOLOGI
Ikatan protein : 97% Metabolisme : melalui hati Bioavailability : 12-81%, tidak terpengaruh makanan Waktu paro eliminasi : 2,5 jam Eksresi : Urin ( 50%), feses 30 %

STABILITAS PENYIMPANAN
Pada suhu ruangan.

Kontra Indikasi
hipersensitifitas clozapine atau komponen lain dalam formulasi, riwayat agranulositosis atau granulositopenia karena klozapine, epilepsi tidak terkontrol, depresi sitem saraf pusat berat atau status koma, ileus paralitik, gangguan myeloploriferatif, digunakan dengan obat lain yang mempunyai risiko menimbulkan agranulositosis atau penekanan sumsum tulang.

Efek Samping
takikardi, ngantuk, pusing, insomnia, konstipasi, penambahan berat badan, air liur berlebih, mual, muntah, angina, perubahan EKG, hipertensi, hipotensi, sinkope, kejang, gangguan penglihatan, sakit kepala, akathisia, bingung, anoreksia, tidak bisa tidur, ansietas, perasaan tidak enak pada perut, diare, sakit tenggorokan, abnormalitas urinary, eosionofila, leukopenia, tremor, hypokinesia

INTERAKSI MAKANAN
ethanol (meningkatkan depresi SSP, sint John’s worth menurunkan kadar klozapin.

INTERAKSI OBAT
Meningkatkan efek/toksisitas : potensiasi efek antikolinergik dan hipotensi obat lain. Kombinasi dgn benzodiazepin menyebabkan depresi pernafasan dan hipotensi, terutama minggu awal terapi. Meningkatkan efek risperidon. Konsentrasi serum clozapin dapat ditingkatkan oleh inhibitor CYP1A2 antara lain : ciprofloxasin, fluvoxamin, ketoconazole, norfloxacin, ofloxacin dan roficoxib. Clozapin meningkatkan efek ampulhetamine, beta bloker selektif, dextromethorphan, fluoxetin, lidocain, mirtazapin, nevazodon, paroxetin, risperidon, ritonavir, TCA,.Efek sedatif dapat ditingkatkan oleh depresan SSP (ethanol, barbiturat, benzodiazepi, analgetik opioid dan sedatif lain). ;Methoclopramid dapat meningkatkan efek risiko EPS ( Extrapyramidal Symptoms). Inhibitor asetilkolinesterasi meningkatkan risiko antisikotik berhubungan dgn EPS. sitalopram meningkatkan efek clozapine. Omeprazole mempengaruhi konsentrasi klozapin. Menurunkan efek : klozapin menurukan efeksubstrat CYP2D6/prodrug :kodein, hydrocodon, oxycodon, tramadaol. Efek clozapin berkurang oleh carbamazepin, fenobarbital, pirimidon, rifampulicin dan inducer CYP1A2. klozapin dapat mengembalikan efek epinefrin (hindari dalam terapi obat yang menyebabkan hipertensi). Omeprazole mempengaruhi konsentrasi klozapin.

PENGARUH ANAK
Tidak ada data

PENGARUH HASIL LAB
mempengaruhi fungsi hematologi, lekosit, profil kadar lemak puasa, kadar gula darah puasa, kadar HbA1c, tes fungsi hati

PENGARUH KEHAMILAN
Faktor risiko B. Efek teratogenik tidak muncul pada studi preklinik, namun tidak terdapat bukti ilmiah untuk penggunaan pada wanita hamil. Gunakan hanya jika diperlukan

PENGARUH MENYUSUI
ekskresi melalui asi. Penggunaan tidak dianjurkan

PARAMETER MONITORING
Tidak ada data

BENTUK SEDIAAN
tablet

PERINGATAN
risiko peningkatan kematian pada pasien dimensia terkait psikosis, peningkatan cedera cerebrovaskular. Hati-hati penggunaan bersama diuretik, meningkatkan efek dehidrasi

KASUS TEMUAN
Tidak ada data

INFORMASI PASIEN
Tidak ada data

MEKANISME AKSI
antagonis lemah reseptor dopamin subtipe d1, d2, d3, d5. memiliki afinitas tinggi pada subtipe d4. Menghalangi (blocking) serotonin alfa adrenergik, H1, kolinergik

MONITORING
elektrolit, hematologi, EKG, status mental, tanda vital, peningkatan Berat badan

Sekilas Tentang Obat Antipsikotik

Antipsikotik (neuroleptik atau obat penenang utama) adalah suatu kelas obat yang digunakan untuk terapi pengobatan psikosis (termasuk delusi, halusinasi, paranoia, atau gangguan jiwa), terutama dalam skizofrenia dan bipolar. Antipsikotik biasanya efektif dalam meredakan gejala psikosis dalam jangka pendek.

Antipsikotik pertama yang diluncurkan ke publik adalah Thorazine (chlorpromazine), obat medis yang sebenarnya semula digunakan untuk tujuan anestesi atau pembiusan sebelum proses bedah. Thorazine ditemukan dapat menimbulkan ketenangan pada orang yang dibiusnya, dan setelah diputuskan untuk dirilis ke ranah kesehatan dan diberikan pada orang dengan skizofrenia, terbukti bahwa obat medis ini menimbulkan pemulihan yang sangat berarti, sehingga sejak peluncurannya pada pertengahan tahun 1950-an sebagai obat resmi kejiwaan, ada banyak sekali pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa kemudian dipulangkan ke masyarakat karena gangguannya dianggap sudah membaik.

Di Indonesia pada masa sekarang ini, Thorazine masih banyak dipergunakan untuk mengobati skizofrenia dengan gangguan halusinasi dan waham yang kuat yang diiringi dengan gangguan sukar untuk terlelap tidur. Thorazine dikenal di Indonesia dengan nama CPZ (baca: cépézét) yang merupakan singkatan dari nama generiknya, chlorpromazine. Sebelum itu, reserpin merupakan obat medis yang bisa ditelusur riwayatnya dari tumbuhan Rauwolfia serpentina yang di India telah lama dipergunakan untuk mengobati gigitan ular, insomnia, tekanan darah tinggi, dan masalah kejiwaan. Mekanisme jamu dari tumbuhan ini yang berdampak terhadap depresi, memberikan inspirasi untuk membuat obat yang mirip untuk menangani gangguan psikotik.

Pada akhir tahun 1950-an, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi di Belgia, tiba pada kesimpulan akan sebuah penemuan haloperidol, yang pada proses pembuatannya meniru mekanisme Thorazine namun merupakan obat dengan struktur kimiawi yang benar-benar berbeda.

Jika obat-obatan di atas secara bio-kimiawi hanya menghambat neurotransmiter yang bernama dopamin, maka penemuan obat selanjutnya, clozapine, yang merupakan antipsikotik golongan baru yang pertama pada tahun 1970-an, menggunakan mekanisme yang berbeda dengan antipsikotik sebelumnya. Antipsikotik jenis yang terakhir ini punya mekanisme kerja yang lain dalam otak (yang membuatnya banyak disebut dengan antipsikotik atipikal, atau antipsikotik yang cara bekerjanya "tidak biasa"), yang tidak hanya menghambat penerimaan dopamin pada sel saraf, tapi juga bekerja pada serotonin, sehingga lebih mampu untuk mengembalikan keseimbangan neurotransmiter atau "zat penyampai pesan dari satu sel saraf ke sel saraf yang lainnya" yang berdampak pada tercapainya pemulihan dari skizofrenia.

Rangkaian penelitian jangka panjang telah melahirkan sejumlah antipsikotik yang bervariasi keefektifan dan efek sampingnya, termasuk penemuan aripiprazole, sebuah antipsikotik yang hingga kini dianggap sebagai paling minim efek samping. Dalam uji klinisnya dan dari penggunaan selama ini, diketahui bahwa beberapa di antaranya, misalnya olanzapin dan quetiapine, dapat digunakan untuk memulihkan gangguan alam perasaan (affective disorders) sehingga dapat diberikan untuk mengobati gangguan skizoafektif maupun gangguan bipolar.

Di Indonesia, risperidon, merupakan obat medis yang banyak sekali digunakan untuk mengobati gangguan psikotik yang ringan hingga tingkat menengah. Untuk gangguan yang berat dan sulit untuk ditangani, antipsikotik ini kalah efektif dibandingkan dengan antipsikotik hasil temuan setelahnya; atau dalam beberapa kasus dengan gangguan tidur dan halusinasi yang akut, clozapine terbukti lebih mampu menangani gejala.

Antipsikotik generasi pertama seperti chlorpromazine dan haloperidol, dikenal sebagai obat yang menimbulkan efek samping yang tidak membuat nyaman terhadap fisik orang yang menggunakannya. Namun antipsikotik generasi kedua dan setelahnya, seperti clozapine, risperidone, quetiapine, dan olanzapine, juga bukan obat yang bebas efek samping. Perbedaan dalam hal efek samping pada keduanya adalah pada waktu kemunculannya: efek samping antipsikotik generasi pertama dirasakan segera setelah obatnya diminum; sementara obat generasi kedua dan setelahnya, efek sampingnya, misalnya penambahan berat badan atau gangguan metabolisme, muncul setelah penggunaan yang terus-menerus dalam jangka waktu panjang. Walaupun demikian, efek samping tersebut dapat dikelola dengan baik; misalnya saja, kekakuan pada otot halus karena penggunaan antipsikotik generasi pertama dapat ditangani dengan penggunaan THP (trihexyphenidyl), dan penambahan berat badan dapat direduksi akibatnya dengan melakukan diet dan olahraga.

Antipsikotik generasi yang lebih baru dan yang diharapkan lebih efektif untuk menangani skizofrenia, yang semula diperkirakan kemunculannya pada dasawarsa kedua abad ke-21, hingga sekarang belum ada. Sejumlah obat yang telah menjalani uji klinis, misalnya Bifeprunox yang diproduksi oleh Solvay dan Lundbeck, dinyatakan telah gagal untuk memenuhi harapan akan antipsikotik yang lebih baik dan dihentikan proses penelitiannya setelah aplikasinya yang diajukan ke FDA (Food and Drugs Administration, yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Amerika Serikat) ditolak pada bulan Agustus 2007. Dengan demikian, diperlukan waktu yang lebih panjang untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih tinggi bagi gangguan psikosis ini, jika yang diharapkan adalah peran antipsikotik yang lebih besar.