Chloramfecort-H


Deskripsi Chloramfecort-H

Chloramfecort-H adalah sediaan krim yang mengandung Kloramfenikol dan Prednisolon. Sediaan topikal (untuk penggunaan luar) ini digunakan untuk mengobati infeksi kulit seperti eksim. Chloramfecort-H juga dapat digunakan untuk membantu meredakan alergi pada kulit yang menimbulkan rasa gatal, kemerahan bahkan menimbulkan inflamasi (peradangan) pada kulit.

Detail Chloramfecort-H


  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Anti Infeksi Topikal dengan Kortikosteroid

  • Apa Kandungan dan Komposisi Chloramfecort-H?

    Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

    Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Chloramfecort-H adalah:

    Prednisolone 2.5 mg, chloramphenicol 20 mg

  • Bagaimana Kemasan dan Sediaan Chloramfecort-H?


    Krim
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Tube @ 10 gram

  • Apa Nama Perusahaan Produsen Chloramfecort-H?

    Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

    Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Chloramfecort-H:

    Coronet Crown/ Kimia Farma
Sekilas Tentang Coronet
PT Coronet Crown adalah suatu perusahaan farmasi yang berdiri pada tahun 1960 di Surabaya. Perusahaan ini awalnya bernama PT.Coronet Syndicate namun karena alasan tertentu, perusahaan merubah namanya menjadi PT Coronet Crown di tahun 1985. Untuk memperluas cakupan produk dan fasilitas perusaaan, maka pada 1971 perusahaan ini mengakuisisi PT Haluan Farma Indonesia, yang kemudian PT Coronet memindakan lokasi produksinya ke lokasi pabrik di Jalan Mustika, Surabaya, tempat dimana perusahaan akuisisi ini berada.

Beberapa produk yang diproduksi oleh PT Coronet Crown diantaranya Ulpraz, Ulcron, Epatin, Corocyd, Voxatic, Herocyn, dan lain-lain. Produk yang paling terkenal dari perusahaan ini adalah Herocyn, yakni suatu produk bedak yang digunakan untuk mengobati gatal pada kulit.

Kantor pusat PT Coronet Crown ada di Jl. Raya Taman No.Km No.15, Kali Bodokan, Sepanjang, Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Sekilas Tentang Prednisolone Pada Chloramfecort-H
Prednisolone adalah metabolit aktif dari prednison. Prednisolon memiliki rasa yang sangat pahit sehingga sulit diberikan kepada anak-anak.

Penggunaan

Ini adalah obat kortikosteroid dengan aktivitas dominan glukokortikoid dan mineralokortikoid rendah, sehingga berguna untuk pengobatan berbagai kondisi inflamasi dan autoimun seperti asma, rheumatoid arthritis, kolitis ulserativa dan penyakit Crohn, multiple sclerosis, sakit kepala cluster dan penyakit sistemik. Lupus Eritematosus. Ini juga dapat digunakan sebagai obat imunosupresif untuk transplantasi organ dan dalam kasus insufisiensi adrenal (Addison).

Suspensi mata prednisolon asetat adalah produk steroid adrenokortikal yang dibuat sebagai suspensi mata steril, digunakan untuk mengurangi pembengkakan, kemerahan, gatal, dan reaksi alergi yang mempengaruhi mata. Kortikosteroid menghambat respon inflamasi terhadap berbagai agen pemicu dan mungkin menunda atau memperlambat penyembuhan. Mereka menghambat edema, deposisi fibrin, dilatasi kapiler, migrasi leukosit, proliferasi kapiler, proliferasi fibroblas, deposisi kolagen, dan pembentukan bekas luka yang terkait dengan peradangan. Tidak ada penjelasan yang diterima secara umum untuk mekanisme kerja kortikosteroid okular. Namun, kortikosteroid diperkirakan bekerja dengan menginduksi protein penghambat fosfolipase A2, yang secara kolektif disebut lipokortin. Dipostulasikan bahwa protein ini mengontrol biosintesis mediator inflamasi yang poten seperti prostaglandin dan leukotrien dengan menghambat pelepasan asam arakidonat prekursor umum mereka. Asam arakidonat dilepaskan dari fosfolipid membran oleh fosfolipase A2. Kortikosteroid mampu menghasilkan peningkatan tekanan intraokular.

Kemungkinan efek Samping

Kemungkinan efek samping termasuk retensi cairan pada wajah (wajah bulan, sindrom Cushing), jerawat, sembelit, dan perubahan suasana hati. Pemberian prednisolon yang lama dapat menyebabkan tinja berdarah atau hitam; mengisi atau membulatkan wajah; kram otot atau nyeri; kelemahan otot; mual; nyeri di punggung, pinggul, tulang rusuk, lengan, bahu, atau kaki; garis ungu kemerahan di lengan, wajah, kaki, batang tubuh atau selangkangan; kulit tipis dan berkilau; memar yang tidak biasa; buang air kecil di malam hari; penambahan berat badan yang cepat; dan luka yang tak kunjung sembuh. Pembengkakan pankreas juga telah dilaporkan. Efek lain termasuk penurunan atau penglihatan kabur, peningkatan rasa haus, kebingungan, dan gugup. Hal ini juga dilaporkan menyebabkan insomnia ketika kekuatan besar, atau dosis besar diambil.

Secara sistemik: Katarak subkapsular posterior & edema papil

Topikal: PSC & glaukoma

Kontraindikasi dengan herpes

Status dilarang di atletik

Sebagai glukokortikosteroid, prednisolon dilarang di bawah aturan anti-doping WADA.
Sekilas Tentang Chloramphenicol Pada Chloramfecort-H
Chloramphenicol merupakan suatu antibiotik yang digunakan dalam berbagai jenis infeksi bakteri seperti konjungtivitis, meningitis, kolera, demam tipus, dan lain-lain. Sediaan dan penggunaannya juga berbagai bentuk mulai dari tetes mata hingga injeksi. Chloramphenicol pertama kali ditemukan dalam bakteri Streptomyces venezuelae yang kemudian dipisahkan komposisi kimianya di dalam laboratorium pada sekira tahun 1947. Kemudian versi artifisialnya dibuat pada tahun 1949 sekaligus menjadi antibiotik pertama yang diekstrak dari mikroorganisme.

Dulu obat ini digunakan untuk penyakit tipus, tapi semakin lama Salmonella typhi yang dianalisa menunjukkan resistensi terhadap chloramphenicol sehingga obat ini sudah jarang digunakan lagi untuk mengobati tipus. Chloramphenicol digunakan dalam pengobatan infeksi okuler seperti konjungtivitis dan blefaritis yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, dan Escherichia coli. Namun obat ini tidak efektif untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa. Cara kerja chloramphenicol yaitu dengan menghambat aktivitas peptidil transferase dari ribosom bakteri yang pada akhirnya mencegah bakteri untuk menggandakan diri.

Chloramfecort-H Obat Apa?


Apa Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Chloramfecort-H?

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Chloramfecort-H adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Chloramfecort-H digunakan untuk mengobati peradangan kulit yang di sertai dengan infeksi, seperti: eksim, infeksi kulit, peradangan kulit.

Sekilas tentang obat kortikosteroid topikal
Kortikosteroid topikal dipakai untuk mengobati radang kulit yang bukan disebabkan oleh infeksi, khususnya penyakit eksim, dermatitis kontak, gigitan serangga dan eksim skabies bersama-sama dengan obat skabies. Kortikosteroid menekan berbagai komponen reaksi pada saat digunakan saja; kortikosteroid sama sekali tidak menyembuhkan, dan bila pengobatan dihentikan kondisi semula mungkin muncul kembali. Obat-obat ini diindikasikan untuk menghilangkan gejala dan penekanan tanda-tanda penyakit bila cara lain seperti pemberian emolien tidak efektif.

Kortikosteroid topikal tidak berguna dalam pengobatan urtikaria dan dikontraindikasikan untuk rosasea dan kondisi ulseratif, karena kortikosteroid memperburuk keadaan. Kortikosteroid tidak boleh digunakan untuk sembarang gatal dan tidak direkomendasikan untuk akne vulgaris.

Kortikosteroid sistemik atau topikal yang kuat sebaiknya dihindari atau diberikan pada psoriasis hanya di bawah pengawasan dokter spesialis karena walaupun obat ini dapat menekan psoriasis dalam jangka pendek, bisa timbul kekambuhan karena penghentian obat bahkan kadang memicu psoriasis pustuler yang hebat. Pemakaian topikal kortikosteroid yang kuat pada psoriasis yang luas dapat menimbulkan efek samping sistemik dan lokal. Cukup meresepkan kortikosteroid yang lebih lemah untuk jangka waktu singkat (2-4 minggu) untuk psoriasis fleksural dan wajah (penting: pada wajah jangan gunakan yang lebih kuat dari hidrokortison 1%). Pada kasus psoriasis kulit kepala boleh menggunakan kortikosteroid yang lebih kuat seperti betametason atau fluosinonid.

Secara umum kortikosteroid topikal yang paling kuat hanya dicadangkan untuk dermatosis yang sukar diatasi seperti diskoid kronis lupus eritematosus, lichen simplex chronicus, hypertrophic lichen planus dan palmoplantar pustulosis. Kortikosteroid yang kuat tidak boleh digunakan pada wajah dan fleksur kulit, tetapi kadang-kadang pada keadaan tertentu dokter spesialis meresepkannya untuk daerah tersebut dengan pengawasan khusus. Bila pengobatan topikal gagal, injeksi kortikosteroid intralesi khusus digunakan hanya pada kasus-kasus tertentu saja dengan lesi setempat (seperti parut keloid, lichen planus hypertrofik atau alopecia localised areata).

PEMAKAIAN PADA ANAK

Anak-anak khususnya bayi sangat rentan terhadap efek samping. Namun, jangan karena profil keamanan kortikosteroid topikal, maka anak-anak menjadi tidak diobati. Tujuannya adalah untuk mengatasi kondisi sebaik mungkin; pengobatan yang tidak memadai akan memperparah kondisi. Kortikosteroid lemah seperti salep atau krim hidrokortison 1% bermanfaat untuk mengobati ruam popok dan untuk eksim atopik pada masa kanak-kanak. Kortikosteroid sedang sampai kuat cocok untuk eksim atopik parah pada anggota badan, digunakan hanya 1-2 minggu, bila kondisi membaik ganti ke sediaan yang kurang kuat. Pada keadaan kambuhan akut eksim atopik cocok menggunakan sediaan kortikosteroid kuat dalam jangka pendek untuk mengendalikan kondisi penyakit. Penggunaan harian terus menerus tidak dianjurkan meskipun kortikosteroid ringan seperti hidrokortison 1% sebanding dengan betametason 0,1% yang digunakan sesekali. Untuk bayi di bawah 1 tahun, hidrokortison merupakan satu-satunya kortikosteroid yang direkomendasikan penggunaannya. Kortikosteroid lain dengan potensi lebih kuat dikontraindikasikan. Untuk anak usia di atas 1 tahun, kortikosteroid topikal dengan potensi kuat dan kuat-sedang sebaiknya digunakan dengan sangat hati-hati dan hanya digunakan dalam jangka pendek (1-2 minggu). Kortikosteroid yang sangat poten hanya dapat digunakan berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis kulit. Kortikosteroid topikal untuk anak dapat digunakan pada kondisi berikut:

  • Gigitan dan sengatan serangga: kortikosteroid dengan potensi ringan seperti krim hidrokortison 1 %

  • Ruam kulit yang disertai inflamasi berat akibat penggunaan popok pada bayi di atas 1 bulan: kortikosteroid dengan potensi ringan seperti hidrokortison 0,5 atau 1% selama 5-7 hari (dikombinasikan dengan antimikroba jika terjadi infeksi)

  • Eksim ringan hingga sedang, flexural dan eksim wajah atau psoriasis: kortikosteroid ringan seperti hidrokortison 1%

  • Eksim berat di sekitar badan dan lengan pada anak usia di atas 1 tahun: kortikosteroid dengan potensi kuat atau kuat; sedang selama hanya 1-2 minggu; segera ganti ke sediaan dengan potensi lebih ringan pada saat kondisi membaik

  • Eksim di sekitar area kulit yang mengeras (misal: telapak kaki): kortikosteroid topikal dengan potensi kuat dalam kombinasi dengan urea atau asama salisilat (untuk meningkatkan penetrasi kortikosteroid)

PILIHAN FORMULASI

Krim larut air untuk lesi yang lembab atau eksudatif dan salep umumnya dipilih untuk lesi yang kering, lichenified atau bersisik atau bila efek oklusif diperlukan. Losion mungkin berguna bila aplikasi minimal dibutuhkan untuk daerah yang luas atau untuk pengobatan luka eksudatif. Perban oklusif polythene meningkatkan absorpsi, tetapi juga meningkatkan efek samping. Oleh karena itu dipakai hanya di bawah pengawasan dalam jangka waktu pendek untuk daerah kulit yang sangat tebal (seperti telapak tangan dan kaki). Penambahan urea atau asam salisilat meningkatkan penetrasi dari kortikosteroid.

KEKUATAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL
PotensiContoh
Ringan Hidrokortison 1%
Kuat-sedang Klobetason butirat 0.05%
Kuat Betametason 0,1% (sebagai valerat), Hidrokortison butirat
Sangat Kuat Klobetasol propionat 0,05%

Sediaan yang mengandung kortikosteroid paling ringan dengan dosis efektif terendah merupakan salah satu pilihan. Sedapat mungkin pengenceran harus dihindari.

PERINGATAN

Hindari penggunaan jangka panjang kortikosteroid topikal pada wajah karena dapat meninggalkan bekas yang tidak hilang (dan hindarkan dari mata). Pada anak-anak hindari penggunaan jangka panjang dan penggunaan kortikosteroid kuat atau sangat kuat harus di bawah pengawasan dokter spesialis. Peringatan keras juga ditujukan pada dermatosis pada bayi termasuk ruam popok, pengobatan sebaiknya dibatasi 5-7 hari. PSORIASIS. Penggunaan kortikosteroid kuat dan sangat kuat pada psoriasis dapat menyebabkan penyakit muncul lagi, timbulnya psoriasis pustular yang merata dan toksisitas lokal dan sistemik.

KONTRA INDIKASI

Lesi kulit akibat bakteri, jamur atau virus yang tidak diobati; rosasea (jerawat rosasea) dan perioral dermatitis; kortikosteroid kuat dikontraindikasikan untuk plak psoriasis dengan sebaran yang luas.

EFEK SAMPING

Berbeda dengan golongan yang kuat dan sangat kuat, kelompok kortikosteroid sedang dan lemah jarang menyebabkan efek samping. Semakin kuat sediaannya, semakin perlu untuk berhati-hati, karena absorpsi dari kulit dapat menyebabkan penekanan adrenal dan Cushing syndrome (lihat 8.3.2) tergantung dari daerah tubuh yang diobati dan lamanya pengobatan. Perlu diingat bahwa absorpsi terbanyak terjadi dari kulit yang tipis, permukaan kasar serta daerah lipatan kulit dan absorpsi ditingkatkan oleh adanya oklusi.

Efek samping lokal meliputi:

  • Penyebaran dan perburukan infeksi yang tidak diobati

  • Penipisan kulit yang belum tentu pulih setelah pengobatan dihentikan karena struktur asli mungkin tak akan kembali

  • Striae atrofis yang menetap

  • Dermatitis kontak

  • Dermatitis perioral

  • Jerawat, perburukan jerawat atau rosasea

  • Depigmentasi ringan; yang mungkin hanya sementara tetapi bisa menetap sebagai bercak-bercak putih

  • Hipertrikosis

Untuk meminimalkan efek samping kortikosteroid topikal, pemakaian sediaan ini hendaknya dioleskan secara tipis saja pada daerah yang akan diobati dan gunakan kortikosteroid yang paling kecil kekuatannya tapi efektif.

FREKUENSI APLIKASI

Sediaan kortikosteroid sebaiknya diberikan sekali atau dua kali sehari saja. Tidak perlu mengoleskan obat ini lebih sering. Kortikosteroid topikal diratakan secara tipis pada kulit. Panjang/banyaknya salep/krim yang dikeluarkan dari tube dapat digunakan untuk menentukan banyaknya obat yang dioleskan pada kulit. Berikut ini adalah besar kemasan sediaan kortikosteroid yang tepat untuk peresepan bagi daerah tubuh tertentu.
Bagian tubuh Krim dan Salep
Wajah dan leher 15 hingga 30 g
Tangan15 hingga 30 g
Kulit kepala15 hingga 30 g
Lengan 30 hingga 60 g
Kaki 100 g
Badan100 g
Selangkangan dan alat kelamin15 hingga 30 g

Jumlah ini biasanya cocok untuk dewasa dengan penggunaan dua kali sehari selama seminggu. Mencampur sediaan topikal pada kulit se-dapat mungkin sebaiknya dihindari, sekurang-kurangnya sebaiknya berselang 30 menit antara pemakaian sediaan yang berbeda. Penggunaan emolien sesaat sebelum pemakaian kortikosteroid adalah tidak tepat.
Sekilas Tentang Infeksi
Infeksi atau jangkitan adalah kolonalisasi (mengacu pada mikroorganisme yang tidak bereplikasi pada jaringan yang ditempatinya. Sedangkan "infeksi" mengacu pada keadaan di mana mikroorganisme bereplikasi dan jaringan menjadi terganggu) yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat paling membahayakan inang.

Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.

Simbiosis antara parasit dan inang, di mana satu pihak diuntungkan dan satu pihak dirugikan, digolongkan sebagai parasitisme. Cabang kedokteran yang menitikberatkan infeksi dan patogen adalah cabang penyakit infeksi.

Berapa Dosis dan Aturan Pakai Chloramfecort-H?

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Chloramfecort-H:

Chloramfecort-H termasuk dalam golongan Obat Keras, sehingga penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan resep Dokter.

  • Aturan penggunaan: Oleskan 2-3 kali sehari pada bagian kulit yang mengalami peradangan

Bagaimana Cara Penyimpanan Chloramfecort-H?


Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.


Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Chloramfecort-H Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan Chloramfecort-H, yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Chloramfecort-H?

Jika Anda lupa menggunakan Chloramfecort-H, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Chloramfecort-H Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Chloramfecort-H?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Chloramfecort-H yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Apa Efek Samping Chloramfecort-H?

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Chloramfecort-H yang mungkin terjadi adalah:

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Chloramfecort-H, antara lain:

  • Ruam
  • Gatal
  • Iritasi
  • Kulit kering dan kemerahan

Apa Saja Kontraindikasi Chloramfecort-H?

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Chloramfecort-H dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:


Tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap kandungan dalam Chloramfecort-H.

Perhatian Khusus

  • Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui
  • Hindari penggunaan jangka panjang pada anak-anak
  • Hindari penggunaan disekitar mulut dan mata
Sekilas Tentang Kimia Farma
PT. Kimia Farma merupakan suatu perusahaan farmasi Indonesia yang menurut sejarahnya sudah ada sejak jaman Hindia-Belanda. Perusahaan ini berdiri pada 1817 yang pada awalnya perusahaan ini bernama NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co yang kemudian oleh Pemerintah Indonesia dimasa awal kemerdekaan dinasionalisasi dan dilakukan peleburan dengan beberapa perusahaan farmasi lainnya pada 1958 yang kemudian namanya berubah menjadi PNF (Perusahaan Negara farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Pada 16 Agustus 1971, status PNF berubah menjadi PT dan namanya kembali mengalami perubahan menjadi PT. Kimia Farma (persero). Pada 4 Juli 2001, status PT. Kimia Farma berubah menjadi perusahaan publik seiring dengan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Jakarta (Saat ini menjadi Bursa Efek Indonesia) sehingga berubah namanya menjadi PT. Kimia Farma Tbk. Jumlah karyawan perusahaan ini diperkirakan mencapai 5.758 orang.

Perusahaan ini telah mengantongi berbagai sertifikat mutu seperti CPOB, ISO 9001, ISO 9002, ISO 14001, dan juga telah mendapatkan persetujuan dari US-FDA sehingga produk perusahaan ini bisa dipasarkan di Amerika Serikat.

PT. Kimia Farma memiliki beberapa fasilitas produksi yang terletak di berbagai daerah yang berbeda yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Sarolangun, Watukadon, dan Tanjung Morawa. Setiap fasilitas produksi memproduksi produk yang berbeda-beda.

Untuk pemasaran produk, PT. Kimia Farma melakukannya melalui anak perusahaannya bernama PT. Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) yang memang dibentuk untuk pemasaran dan penjulan produk induk perusahaannya. Perusahaan ini memiliki 46 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.

Selain bergerak di bidang produksi produk obat dan farmasi, PT. Kimia Farma juga merambah bisnis apotek, laboratorium, dan klinik kesehatan. PT. Kimia Farma Apotek merupakan anak perusahaan yang didirikan untuk menjalankan dan mengelola bisnis apotek dan PT Kimia Farma Diagnostik untuk usaha laboratorium dan diagnostik. Baru-baru ini PT. Kimia Farma megakuisisi PT. Phapros, salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia.

Produk PT. Kimia Farma selain dijual di Indonesia juga diekspor ke berbagai negara di dunia. Beberapa produk yang dijual selain obat jadi dan sediaan farmasi, juga menjual bahan baku pembuatan obat seperti iodine dan quinine. Produk-produk tersebut diekpor ke beberapa negara seperti India, Jepang, Taiwan, New Zealand, dan negara-negara Eropa. Untuk produk kosmetik, produk PT. Kimia Farma telah berhasil menembus pasar Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Arab Saudi, dan Vietnam.