DIABETES MELITUS (PENYAKIT GULA)

By | February 8, 2015 | FARMASI-ID.COM > Blog | Farmasi-id.com > DIABETES MELITUS (PENYAKIT GULA)


Istilah diabetes melitus mengacu pada kelompok penyakit yang memengaruhi tubuh dalam menggunakan glukosa darah, yang umum disebut sebagai gula darah. Glukosa sangat vital bagi kesehatan, sebab ini sebagai sumber energi utama bagi sel-sel tubuh dalam membentuk otot dan jaringan. Jadi glukosa ini seperti bahan bakar di kendaraan.

Jika Anda mengidap diabetes, apapun tipenya, itu artinya ada begitu banyak glukosa dalam darah Anda, meski penyebabnya berbeda untuk masing-masing penderita. Kelebihan glukosa ini dapat memicu masalah kesehatan serius jika tak segera ditangani.

Diabetes kronis terbagi dalam dalam dua tipe, yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Dan kondisi ini berpotensi berbalik seperti pradiabetes, yakni bila kadar gula darah melebihi normal tapi belum dapat dikategorikan sebagai diabetes, dan gestational diabetes, yakni diabetes yang terjadi saat kehamilan.

Gejala

Gejala-gejala diabetes berbeda-beda tergantung pada jenis diabetesnya. Jika mengalami pradiabetes atau gestational diabetes, belum tentu muncul gejalanya. Terkadang seorang penderita diabetes mengalami gejala sebagian atau seluruhnya untuk diabetes tipe 1 dan tipe 2, meliputi:

• Rasa haus berlebihan

• Sering buang air kecil

• Rasa lapar yang sangat

• Berat badan turun

• Kelelahan

• PAndangan kabur

• Bila luka, sembuhnya lama

• Sering mengalami infeksi, seperti infeksi kulit, vagin4 atau kandung kemih Untuk diabetes tipe 1 bisa muncul pada usia berapapun, bahkan di usia anak-anak. Demikian juga dengan diabetes tipe 2, yang merupakan jenis diabetes umum, meski dapat terjadi pada segala usia tapi tipe ini dapat dicegah.

Penyebab & Faktor Risiko

Untuk lebih mengetahui tentang diabetes, pahami dulu bagaimana glukosa diproses secara normal di dalam tubuh.

Bagaimana glukosa bekerja secara normal

Glukosa adalah sumber energi utama bagi sel tubuh yang dapat membentuk otot dan jaringan lain. Glukosa berasal dari dua sumber utama, yakni makanan yang dikonsumsi dan dari hati. Selama hamil, gula diserap ke dalam aliran darah. Normalnya, gula itu kemudian memasuki sel tubuh dengan bantuan insulin. Hormon insulin berasal dari pankreas. Saat makan, pankreas melakukan sekresi insulin ke dalam aliran darah. Ketika insulin bersirkulasi, hormon ini bertindak seperti kunci yang akan memblokir pintu mikroskopik di dalam aliran darah.. Insulin akan mengurangi kadar darah dalam aliran darah. Dan ketika kadar gula darah menurun, terjadi sekresi insulin dari pankreas. Hati bertindak sebagai tempat penyimpanan glukosa dan pusat produksinya. Kalau Anda tak makan beberapa waktu misalnya, liver atau hati akan mengeluarkan glukosa simpanan untuk menjaga kadar glukosa normal.

Penyebab diabetes tipe 1

Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan  tubuh yang biasanya melawan bakteri atau virus berbahaya, justru menyerang sel penghasil insulin di dalam pankreas. Ini menyebabkan jumlah insulin berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. Akibatnya, gula yang seharusnya dibawa ke dalam sel tubuh, justru menumpuk dalam aliran darah.    

Penyebab pradiabetes dan diabetes tipe 2

Pada pradiabetes— yang memicu terjadinya diabetes tipe 2 — dan pada diabetes tipe 2, sel tubuh melawan insulin, dan pankreas tak dapat menghasilkan insulin yang cukup untuk mengatasi sikap melawan dari sel tubuh terhadap insulin ini. Alih-alih bergerak masuk ke dalam sel, gula malah menumpuk di aliran darah.   

Penyebab diabetes gestational (kehamilan)

Selama kehamilan plasenta menghasilkan hormon untuk mempertahankan kehamilan. Hormon-hormon ini membuat sel tubuh lebih resisten terhadap insulin. Ketika plasenta tumbuh lebih besar pada trisemester kedua dan ketiga, plasenta ini menghasilkan lebih banyak hormon, yang membuat tugas insulin menjadi lebih berat. Normalnya, pankreas merespons dengan memproduksi insulin lebih banyak untuk mengatasi resistensi ini. Tapi kadang-kadang pankreas tak mampulu mengatasi kondisi ini. Jika ini terjadi, hanya sedikit glukosa yang masuk ke sel tubuh dan lebih banyak berada di darah. Kondisi inilah yang disebut diabetes gestational.

Komplikasi diabetes berbeda-beda tergantung pada tipe diabetes.

Komplikasi untuk diabetes tipe 1 dan tipe 2

Komplikasi jangka pendek dari diabetes tipe 1 dan tipe 2 butuh penanganan segera. Jika tak dirawat segera, kondisi ini dapat menyebabkan kejang dan tak sadar (koma).

• Gula darah tinggi (hyperglycemia). Kadar gula darah dapat meningkat karena berbagai alasan, termasuk terlalu banyak makan, sakit atau tak mengkonsumsi obat penurun kadar glukosa.

• Peningkatan ketone dalam air seni (diabetic ketoacidosis). Jika sel tubuh kekurangan energi, tubuh Anda mulai membakar lemak. Akibatnya tubuh berpotensi menghasilkan asam beracun yang disebut ketone.

• Gula darah rendah (hypoglycemia). Jika kadar gula darah turun di bawah normal, ini dikenal dengan gula darah rendah. Kadar gula darah dapat turun karena beberapa penyebab, termasuk sering lupa makan dan melakukan aktivitas fisik melebihi normal. Tapi gula darah rendah sering terjadi jika Anda mengkonsumsi obat penurun kadar glukosa yang memicu sekresi atau pengeluaran insulin dan bisa juga karena menjalani terapi insulin. Komplikasi jangka panjang diabetes terjadi secara bertahap. Saat Anda mengetahui mulai terkena diabetes dan kadar gula darah kurang terkendali, maka risiko komplikasinya semakin tinggi. Padahal, komplikasi diabetes ini berpotensi membuat lumpuh atau bahkan dapat mengancam jiwa.

• Penyakit kardiovaskuler. Diabetes dapat meningkatkan secara dramatis risiko beragam masalah kardiovaskuler, seperti penyakit arteri koroner yang diwarnai dengan rasa sakit pada dada (angina), serangan jantung, stroke dan penyempitan arteri (atherosclerosis). Jika Anda terkena diabetes, maka potensi terserang jantung atau stroke menjadi dua kali lipat.

• Kerusakan saraf (neuropathy). Berlebihnya kadar gula dapat merusak pembuluh darah yang menjadi penunjang gerak saraf, terutama di kaki. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, rasa panas atau sakit yang biasanya dimulai dari ujung jari kaki atau tangan dan lama kelamaan akan menjalar ke atas. Jika tak ditangani, Anda akan mengalami mati rasa pada anggota badan yang mengalami kerusakan saraf. Pada pria, masalah ini dapat memicu terjadinya disfungsi ereksi.

• Kerusakan ginjal (nephropathy). Ginjal mengandung jutaan pembuluh darah (glomeruli) yang tugasnya menyaring kotoran di dalam darah. Diabetes dapat merusak sistem penyaringan ini. Kerusakan lebih parah dapat memicu gagal ginjal atau kerusakan ginjal yang nantinya harus dilakukan dialysis atau dengan cangkok ginjal.

• Kerusakan mata. Diabetes dapat merusak pembuluh darah pada retina (diabetic retinopathy), yang berpotensi menyebabkan kebutaan.

• Kerusakan kaki. Kerusakan saraf pada kaki atau tersendatnya aliran darah ke kaki akan meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. Jika tak segera ditangani, kaki yang terluka atau melepuh dapat menimbulkan infeksi serius. Jika sudah demikian, tak ada jalan lain kecuali dilakukan ampulutasi pada jari kaki atau kaki.

• Infeksi kulit dan mulut. Diabetes membuat penderitanya mudah terkena masalah pada kulit, termasuk infeksi akibat bakteri, infeksi jamur dan gatal-gatal. Infeksi gusi juga berpotensi terjadi, apalagi jika penderitanya tak memperhatikan kesehatan dan kebersihan gigi.    

• Masalah tulang dan persendian. Diabetes membuat penderitanya berisiko mengalami masalah pada tulang dan persendian, misalnya osteoporosis.

Komplikasi diabetes gestational

Kebanyakan wanita yang mengidap diabetes gestational melahirkan bayi yang sehat. Namun, jika kelebihan kadar gula ini tak ditangani dapat memicu masalah pada si ibu dan bayinya.

Komplikasi pada bayi dapat terjadi sebagai akibat dari diabetes gestational, seperti misalnya:

• Pertumbuhan berlebih. Kelebihan glukosa dapat masuk ke plasenta, yang akan membuat pankreas bayi menghasilkan lebih banyak insulin. Hal ini dapat memicu bayi tumbuh terlalu besar (macrosomia). Bayi berukuran ekstra besar berpotensi sulit keluar melalui jalur lahir, memicu cedera saat persalinan, dan langkah berikutnya adalah melakukan bedah caesar.

• Gula darah rendah. Kadang-kadang bayi yang ibunya mengidap diabetes gestational cenderung mengalami gula darah rendah (hypoglycemia) tak lama setelah dilahirkan. Ini disebabkan produksi insulin si bayi cukup tinggi. Segera memberi ASI dan pemberian glukosa dapat mengembalikan kadar gula darah normal.

Respiratory distress syndrome. Kondisi sulit bernapas pada bayi ini mungkin terjadi jika si bayi dilahirkan sebelum waktunya. Bayi yang mengalami respiratory distress syndrome memerlukan bantuan pernapasan sampai paru-parunya kuat.

• Sakit kuning. Warna kuning pada kulit bayi dan mata agak putih bisa terjadi jika liver si bayi belum cukup matang untuk menghancurkan zat bernama bilirubin, yang normalnya terbentuk ketika tubuh mendaur ulang sel darah merah lama atau yang rusak. Namun, sakit kuning ini tak terlalu mengkhawatirkan, hanya perlu memantau kondisi bayi secara hati-hati.

• Berpotensi mengidap diabetes tipe 2. Bayi yang ibunya mengidap diabetes gestational memiliki risiko tinggi mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 saat dia dewasa.

• Kematian. Jarang sekali diabetes gestational yang tak tertangani dapat menyebabkan pada bayi baik sebelum lahir atau tak lama setelah dilahirkan. Komplikasi pada si ibu juga dapat terjadi sebagai dampulak dari diabetes gestational, antara lain:

Preeclampulsia. Kondisi ini tergambar dari tingginya tekanan darah dan melimpahnya protein dalam urine. Jika tak segera ditangani, preeclampulsia dapat memicu terjadinya komplikasi serius yang dapat mengancam jiwa baik bagi si ibu maupun bayinya.

• Diabetes gestational lanjutan. Sekali Anda mengidap diabetes gestational dalam satu kehamilan, besar kemungkinan itu terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. Anda juga kemungkinan besar terkena diabetes, yaitu diabetes tipe 2, ketika Anda semakin tua.

Komplikasi pradiabetes

Pradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Tes terhadap diabetes tipe 1 dan tipe 2

Pada Juni 2009, sebuah komisi internasional yang melibatkan sejumlah ahli dari  American Diabetes Association, European Association for the Study of Diabetes dan International Diabetes Federation merekomendasikan dilakukan tes untuk diabetes tipe 1 dan tipe 2, yang meliputi:

• Glycated hemoglobin (A1C) test. Tes darah ini untuk mengetahui kadar gula darah rata-rata dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Tes dilakukan dengan mengukur persentase gula darah yang melekat pada hemoglobin, yaitu protein pembawa oksigen di sel darah merah. Semakin tinggi kadar gula darah, akan lebih banyak hemoglobin pada darah Anda. Angka 6,5% atau lebih dalam dua kali tes A1C secara terpisah mengindikasikan Anda mengidap diabetes. Tapi jika tak memungkinkan dilakukan tes A1C, atau Anda kondisi Anda membuat tes A1C tak akurat, misalnya karena hamil atau bentuk hemoglobin tak biasa, mungkin dokter Anda akan melakukan tes lain untuk mendiagnosis diabetes, misalnya:     

– Tes acak gula darah. Sampulel darah akan dites dalam waktu acak. Tes ini tak memperhatikan kapan terakhir Anda makan, kadar gula darah yang menunjukkan angka 200 miligram per deciliter (mg/dL)— 11,1 millimoles per liter (mmol/L) — atau lebih, kemungkinan besar Anda mengidap diabetes.     

– Tes gula darah setelah puasa. Sampulel darah akan dites setelah semalam berpuasa. Jika kadar gula darah tercatat pada kisaran 70 dan 99 mg/dL (3,9 dan 5,5 mmol/L) adalah normal. Tapi jika tercatat angka 126 mg/dL (7 mmol/L) atau lebih dalam dua tes terpisah, Anda akan terdiagnosis terkena diabetes.     

Tes untuk diabetes gestational. Pemantauan terhadap diabetes gestational harus dilakukan secara rutin menjelang melahirkan. Tes glukosa sering direkomendasikan saat usia kehamilan memasuki pekan ke-24 dan 28, atau bahkan lebih awal jika Anda memiliki risiko tinggi terkena diabetes gestational.  

Tes glukosa dilakukan dengan cara meminum cairan glukosa berbentuk sirup. Satu jam kemudian, Anda akan menjalani tes darah untuk mengetahui kadar gula darah Anda. Kadar gula darah di atas 140 mg/dL (7,8 mmol/L) biasanya mengindikasikan terkena diabetes gestational, tapi sepertinya Anda butuh menjalani tes kedua untuk memastikan diagnosis itu. Untuk tes berikutnya, Anda diminta puasa semalam dan kemudian meminum cairan pemanis lainnya yang memiliki konsentrasi glukosa lebih tinggi. Setelah itu, kadar gula darah Anda akan dicek setiap jam selama tiga jam.

Tes untuk pradiabetes Adalah American College of Endocrinology yang menyarankan untuk dilakukan tes bagi siapapun yang memiliki riwayat keluarga terkena diabetes tipe 2 dan bagi mereka yang kegemukan atau mengalami sindrom metabolis. Demikian juga bagi wanita yang memiliki riwayat diabetes gestational, mereka juga harus menjalani tes. Tes utama untuk memantau pradiabetes adalah:

• Glycated hemoglobin (A1C) test. Tes darah ini untuk mengetahui kadar gula darah rata-rata selama dua hingga tiga bulan terakhir. Tes dilakukan dengan mengukur persentase gula darah yang melekat ke hemoglobin, yaitu protein pembawa oksigen dalam sel darah merah. Kadar gula darah yang tinggi, berarti kadar hemoglobin lebih banyak. Angka antara 6% hingga 6,5% dalam tes A1C mengindikasikan Anda terkena pradiabetes. Jika tak dilakukan tes A1C, atau jika Anda dalam kondisi yang membuat hasil tes A1C tak akurat, seperti saat hamil atau bentuk hemoglobin tak biasa, tes yang dibutuhkan untuk mendiagnosis diabetes antara lain:

• Tes gula darah setelah puasa. Sampulel darah akan diuji setelah puasa semalam. Kadar gula darah di kisaran 100 hingga 125 mg/dL (5,6 hingga 6,9 mmol/L) dianggap pradiabetes.

• Oral glucose tolerance test. Sampulel darah akan diuji setelah Anda puasa sedikitnya selama delapan jam atau semalaman. Setelah itu Anda akan minum cairan gula dan kadar gula darah Anda akan dites lagi setelah dua jam. Kadar gula darah kurang dari 140 mg/dL (7,8 mmol/L) dianggap normal. Sementara kadar gula darah di kisaran 140 hingga 199 mg/dL (7,8 hingga 11 mmol/L) dinilai terkena pradiabetes. Untuk kadar gula darah 200 mg/dL (11,1 mmol/L) atau lebih bisa diindikasikan diabetes.

Kapan Harus ke Dokter ?

Jika curiga mengidap diabetes. Jika merasa mengalami gejala-gejala diabetes, hubungi dokter. Jika diabetes data didiagnosis lebih dini, perawatan dapat segera dilakukan. Jika sudah terdiagnosis mengidap diabetes. Jika sudah diketahui mengidap diabetes, butuh penanganan lebih lanjut sampai kadar gula darah stabil.


Pencegahan

Diabetes tipe 1 sebenarnya tidak dapat dicegah. Tapi gaya hidup sehat yang biasa untuk membantu mengatasi pradiabetes, diabetes tipe 2 dan diabetes gestational juga dapat membantu mencegahnya.

• Makan makanan sehat. Pilih makanan rendah lemak dan kalori. Fokuskan pada buah, sayuran dan biji-bijian. Untuk menghindari rasa bosan, pilih beragam buah, sayur dan makanan rendah lemak dan kalori.  

• Aktif berolahraga. Sisihkan waktu selama 30 menit untuk melakukan olahraga ringan dan sedang dalam sehari. Biasakan berjalan sehat setiap hari atau bersepeda dan berenang.  

• Buang lemak berlebih. Jika Anda kelebihan berat badan, hilangkan sekitar 5% lemak dari berat badan Anda, contohnya buang 4,5 kilogram jika bobot Anda 90,7 kilogram. Hal ini dapat mengurangi risiko terkena diabetes. Untuk menjaga agara berat badan berada di kisaran sehat, segera lakukan perubahan permanent To keep your weight paa pola makan dan kebiasaa berolahraga. Motivasi diri sendiri tentang manfaat dari menurunkan berat badan, seperti jantung lebih sehat, energi lebih banyak dan rasa percaya diri meningkat.  

Terkadang pengobatan dapat menjadi pilihan juga. Obat diabetes oral seperti metformin (Glucophage) dan rosiglitazone (Avandia) dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2, tapi yang paling penting adalah pilihan gaya hidup yang sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *