Depresi Pasca Persalinan (Post Partum Depression/Baby Blues Syndrome)

By | February 8, 2015 | FARMASI-ID.COM > Blog | Farmasi-id.com > Depresi Pasca Persalinan (Post Partum Depression/Baby Blues Syndrome)


Kelahiran bayi dapat memicu emosi yang kuat dan campulur aduk, mulai dari kegembiraan dan sukacita, hingga rasa takut dan kecemasan. Tetapi melahirkan bayi juga bisa mengakibatkan sesuatu yang mungkin tidak Anda harapkan, yakni depresi.

Banyak ibu baru yang mengalami “baby blues” setelah melahirkan, yang biasanya berupa perubahan suasana hati dan menangis yang cepat memudar. Tetapi beberapa ibu baru mungkin mengalami bentuk depresi yang lebih parah, yang dikenal dengan depresi pasca-persalinan. Dalam kasus yang jarang, bentuk esktrim dari depresi postpartum yang dikenal dengan psikosis postpartum dapat muncul setelah proses melahirkan.

Depresi pasca-persalinan bukanlah sebuah cacat karakter atau kelemahan. Kadang-kadang hal itu terjadi sebagai akibat dari komplikasi melahirkan. Jika Anda mengalami depresi pasca melahirkan, pengobatan yang tepat akan membantu Anda mengelola gejalanya.

Gejala

TAnda dan gejala depresi setelah melahirkan dapat bervariasi, tergantung pada jenis depresi.

Gejala baby blues

TAnda dan gejala dari baby blues – yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari hingga satu atau dua minggu – mungkin berupa perubahan suasana hati, kecemasan, kesedihan, mudah tersinggung, menangis, penurunan konsentrasi, sulit tidur.

Gejala depresi pasca-persalinan

Depresi pasca-persalinan mungkin tampulak seperti gejala baby blues pada awalnya – tetapi tAnda-tAnda dan gejala postpartum cenderung lebih intens dan lebih tahan lama, hingga akhirnya dapat mengganggu kemampuluan Anda untuk merawat bayi dan menangani tugas sehari-hari lainnya.

Gejala depresi pasca-persalinan mungkin termasuk kehilangan nafsu makan, insomnia, lekas marah atau kemarahan yang intens, kehilangan minat pada 5eks, kurangnya suka cita dalam hidup, perasaan malu, bersalah, atau ketidakmampuluan, perubahan suasana hati yang parah, kesulitan menjalin ikatan dengan bayi, menarik diri dari keluarga dan teman-teman, pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayi Anda.

Jika tidak diobati, depresi pasca-persalinan mungkin akan berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih.

Psikosis pasca-persalinan

Psikosis pasca-persalinan adalah sebuah kondisi langka yang biasa muncul dalam dua minggu pertama setelah melahirkan. TAnda dan gejalanya bisa lebih parah, di antaranya kebingungan dan disorientasi, halusinasi dan delusi, paranoia, upaya untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.

Penyebab & Faktor Risiko

Tidak ada penyebab utama dari depresi pasca-persalinan. Faktor fisik, emosional, dan gaya hidup semuanya ikut berperan:

– Perubahan fisik. Setelah melahirkan, penurunan hormone (estrogen dan progesterone) secara dramatis dalam tubuh Anda dapat menimbulkan depresi postpartum. Hormone lainnya yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid Anda juga mungkin turun secara tajam, sehingga membuat Anda merasa lelah, lesu, dan depresi. Perubahan volume darah, tekanan darah, sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme dapat berkontribusi terhadap kondisi mudah lelah dan suasana hati.

– Faktor emosional. Bila Anda kurang tidur dan kewalahan, Anda mungkin mengalami kesulitan menangani bahkan masalah-masalah yang kecil. Anda mungkin cemas tentang kemampuluan Anda untuk merawat bayi yang baru lahir. Anda mungkin merasa kurang menarik lagi atau berjuang dengan masalah identitas Anda. Anda mungkin merasa kehilangan kendali atas hidup Anda. setiap faktor ini dapat berkontribusi terhadap depresi pasca-persalinan.

– Pengaruh gaya hidup. Banyak faktor gaya hidup yang menyebabkan depresi pasca-persalinan, termasuk tuntutan bayi atau kakak dari si bayi (anak yang lebih tua), kesulitan menyusui, masalah keuangan, dan kurangnya dukungan dari pasangan atau orang terdekat lainnya.

Faktor risiko

Depresi paskapsulersalinan dapat terjadi setelah kelahiran anak yang ke-berapapun, bukan hanya yang pertama. Risiko akan meningkat jika:

– Anda memiliki riwayat depresi, baik selama kehamilan atau pada waktu yang lain.

– Mengalami depresi pasca-persalinan setelah kehamilan sebelumnya.

– Anda sudah mengalami peristiwa stres selama setahun terakhir, seperti komplikasi kehaminal, sakit, atau kehilangan pekerjaan.

– Mengalami masalah dalam hubungan Anda dengan pasangan atau keluarga.

– Memiliki sistem dukungan yang lemah.

– Anda memiliki masalah keuangan.

– Kehamilan tidak direncanakan atau tidak diinginkan.

Risiko psikosis pasca-persalinan lebih tinggi pada wanita yang memiliki gangguan bipolar.

Komplikasi

Jika tidak segera diobati, depresi postpartum dapat mengganggu ikatan ibu-anak dan menyebabkan masalah keluarga. Anak-anak dari ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan yang tidak diobati rentan mengalami masalah perilaku seperti kesulitan tidur, makan, marah, dan hiperaktif. Keterlambatan dalam perkembangan berbicara juga umum terjadi.

Depresi pasca melahirkan yang tidak diobati dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau lebih, dan kadang-kadang berubah menjadi gangguan depresi kronis. Bahkan jika diobati, depresi postpartum dapat meningkatkan risiko wanita mengalami depresi berat di masa mendatang.

Kapan Harus ke Dokter ?

Jika Anda merasa tertekan setelah kelahiran bayi Anda, Anda mungkin enggan atau malu untuk mengakuinya, maka Anda harus menemui dokter. Penting pula untuk menemui dokter jika Anda gejala atau tAnda-tAnda depresi yang Anda alami mengalami fitur sebagai berikut:

  • Tidak hilang setelah dua minggu
  • Semakin parah
  • Semakin membuat Anda kesulitan merawat bayi Anda
  • Membuat Anda kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari
  • Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda

Jika menduga bahwa Anda sedang mengalami psikosis paskapsulersalinan, segera cari bantuan medis. Jangan menunggu dan berharap kondisi Anda akan membaik dengan sendirinya. Psikosis pasca-persalinan dapat mengancam jiwa, pikiran, dan perilaku seseorang.

Gaya Hidup & Perawatan di Rumah

Depresi pasca-persalinan bukanlah suatu kondisi yang dapat Anda obati sendiri. Namun Anda dapat melakukan beberapa hal untuk diri sendiri dalam merencanakan perawatan dan membantu mempercepat pemulihan.

– Buatlah pilihan gaya hidup sehat. Sertakan aktivitas fisik (seperti berjalan dengan bayi Anda) dalam rutinitas harian Anda. Makan makanan sehat dan hindari alkohol.

– Tetapkan harapan yang realistis. Jangan memaksakan diri untuk melakukan segala hal. Ukur ulang harapan Anda untuk rumah tangga yang sempurna. Lakukan apa yang Anda bisa dan tinggalkan sisanya. Mintalah bantuan ketika Anda membutuhkannya.

– Luangkan waktu untuk diri sendiri. Jika Anda merasa seperti dunia ini sempit dan sulit, luangkanlah waktu untuk diri Anda sendiri. Anda dapat keluar rumah, mengunjungi teman, atau melakukan hal-hal yang Anda sukai. Anda juga dapat mengatur waktu berdua dengan pasangan.

– Tanggapi secara positif. Ketika dihadapkan dengan situasi negative, fokus untuk menjaga pikiran Anda agar tetap positif. Bahkan jika situasi yang tidak diinginkan tak kunjung berubah, Anda dapat mengubah cara Anda berpikir dan bertindak dalam menanggapi hal tersebut – kursus singkat terapi kognitif dapat membantu Anda belajar bagaimana melakukan hal ini.

– Hindari mengisolasi diri. Bicaralah dengan keluarga, pasangan, teman-teman Anda tentang perasaan Anda. Tanyakan ibu-ibu lain tentang pengalaman mereka. Tanyakan kepada dokter Anda tentang kelompok dukungan lokal untuk ibu baru atau wanita yang mengalami depresi postpartum. Ingat, cara terbaik untuk dapat mengurus bayi Anda adalah dengan mengurus diri Anda terlebih dahulu.

Dukungan

Depresi pasca melahirkan dapat memiliki efek yang menyebabkan ketegangan emosional bagi setiap orang yang dekat dengan bayi Anda yang baru lahir. Ketika seorang ibu baru mengalami depresi, risiko depresi pada ayah si bayi juga dapat meningkat. Ayah baru juga sudah berada pada peningkatan risiko depresi, apakah pasangan mereka terpengaruh ataupun tidak.

Periode stres dan melelahkan setelah kelahiran bayi jauh lebih sulit dilewati dengan depresi. Anda bisa mulai membenci pasangan Anda yang berjuang dengan depresi, terutama ketika Anda memiliki banyak pekerjaan dan kurang istirahat. Tetapi ingat, depresi bukan kesalahan siapa-siapa, dan tidak bisa diperbaiki dengan diam atau sikap positif. Depresi adalah penyakit medis yang juga memerlukan perawatan.

Jika Anda mengalami kesulitan mengatasi depresi paskapsulersalinan dalam keluarga, berbicaralah dengan terapis. Depresi adalah suatu kondisi yang dapat diobati. Semakin cepat Anda mendapat bantuan, semakin cepat Anda akan pulih dan kembali membantu pasangan merawat bayi Anda yang baru lahir.

Pencegahan

Jika memiliki riwayat depresi (khususnya depresi paskapsulersalinan) beritahu dokter segera setelah Anda mengetahui bahwa Anda sedang hamil. Dokter akan memantau dengan ketat setiap tAnda dan gejala depresi yang mungkin muncul. Kadang-kadang, depresi ringan dapat dikelola bersama-sama dengan kelompok dukungan, konseling, atau terapi lainnya.

Dalam kasus lain, antidepresan mungkin dianjurkan – bahkan selama masa kehamilan. Setelah bayi lahir, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan pasca-persalinan dini untuk melihat tAnda dan gejala depresi paskapsulersalinan. Semakin awal terdeteksi, semakin dini pengobatan dapat diberikan. Jika Anda memiliki riwayat depresi paskapsulersalinan, dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan antidepresan segera setelah Anda melahirkan.

[table “880” not found /]
[the_ad_placement id="konten-perusahaan"] [table “872” not found /]
[the_ad_placement id="referensi-pm"] [the_ad_placement id="referensi"] Berikan Ulasan Produk Ini [ratemypost]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *