AUTISME

By | February 7, 2015 |


Autisme merupakan salah satu dari sejumlah gangguan perkembangan yang dikenal sebagai gangguan spektrum autism (autism spectrum disorder) yang gejalanya sudah timbul dari usia anak yang terhitung dini, biasanya sebelum anak menkapsulai usia tiga tahun.

Meskipun gejala yang diderita dan tingkat kepelikan gangguan perkembangan dapat berbeda di antara orang yang divonis autis, gangguan autisme akan berpengaruh terhadap kemampuluan anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Jumlah anak yang mengidap autis semakin meningkat dari waktu ke waktu. Tidak jelas penyebabnya, bisa jadi hal ini dikarenakan sudah ada kemajuan pada dunia medis untuk mendeteksi dan mengetahui autisme, bisa juga hal ini murni dikarenakan jumlah pengidapnya memang bertambah, atau bisa keduanya.

Sejauh ini belum terdapat penyembuhan bagi autisme, namun begitu perawatan secara intensif yang dilakukan secara dini dapat membuahkan perubahan signifikan dalam kelangsungan hidup anak-anak yang mengidap autisme.

Gejala

Anak yang mengidap autisme biasanya mempunyai tiga masalah perkembangan yang cukup krusial, yaitu interaksi sosial, penguasaan bahasa, serta tingkah laku. Namun begitu gejala autisme dapat berbeda di antara anak-anak yang mengidap autisme, misalnya saja dua anak yang didiagnosis mengidap autisme dapat bertingkah laku dalam cara yang berbeda dan mempunyai jenjang kemampuluan yang berbeda pula.

Umumnya, tingkat kepelikan autisme ditAndai oleh ketidakmampuluan secara total untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Terdapat pula sejumlah anak yang menunjukkan tAnda/gejala autisme dari usia yang terhitung sangat dini. Ada juga anak-anak yang mengidap autisme yang beberapa bulan atau tahun pertama berkembang tumbuh secara normal, lalu sama sekali tidak menunjukkan adanya perkembangan, bersikap agresif, atau tidak mampulu untuk kembali menggunakan kemampuluan bahasanya untuk bercakap.

Meskipun anak-anak yang mengidap autis seringkali memiliki perilaku yang berbeda satu sama lain, mereka memiliki sejumlah gejala yang sama antara lain:

Kemampuluan sosial

·       Tidak mampulu memberikan respon ketika nama anak dipanggil

·       Jarang berkontak mata

·       Seringkali tidak mendengar apa yang orang lain katakan kepada sang anak

·       Menolak untuk menerima bentuk kasih sayang seperti disentuh, dipeluk, atau dimanjakan

·       Tidak mengenal, memahami, atau mempedulikan perasaan dari orang lain

·       Lebih memilih untuk bermain sendiri, terlibat dalam “dunia sendiri”

Bahasa

·       Mulai mampulu berbicara setelah melewati umur dua tahun, dan menunjukkan adanya penundaan perkembangan dari 30 bulan semenjak kelahiran.

·       Kehilangan kemampuluan untuk kembali mengukapsulkan kata atau kalimat.

·       Ketika anak melakukan permintaan, anak tidak melakukan kontak mata.

·       Berbicara dalam ritme atau nada yang tidak sewajarnya, seperti bernyanyi atau suara robot.

·       Tidak mampulu memulai percakapan atau tidak mampulu untuk terlibat secara maksimal dalam percakapan.

·       Mengukapsulkan kata atau kalimat berulang-ulang tanpa mengetahui bagaimana atau kapan menggunakan suatu kata dan kalimat.

Tingkah Laku

·       Melakukan gerakan secara repetitif seperti berputar-putar atau bertepuk tangan.

·       Memiliki rutinitas yang spesifik dari anak-anak lain.

·       Merasa terganggu apabila terjadi sedikit perubahan pada rutinitas yang dimiliki oleh anak.

·       Hiperaktif.

·       Terpesona dengan suatu objek, seperti roda yang berputar dari mobil-mobilan.

·       Sensitif terhadap cahaya, suara, atau sentuhan namun seringkali tidak merasakan atau mengabaikan rasa sakit.

Anak yang mengidap autis juga seringkali kesulitan untuk berbagi dengan orang lain. Misalnya ketika anak membaca, mereka tidak suka untuk menunjukkan gambar yang ada pada buku.

Kemampuluan sosial semacam ini yang terjadi pada usia dini nantinya akan berperan penting terhadap perkembangan sosial dan kemampuluan berbahasa. 

Seiring dengan bertambahnya umur, anak yang mengidap autisme dapat bersosialisasi dengan orang lain dan lebih jarang untuk berperilaku mengganggu. Ada juga sejumlah anak-anak yang mengidap autisme, namun tingkat kepelikan autisme tidak terlalu signifikan, berkesempatan untuk memiliki kehidupan yang normal atau mendekati normal. Ada pun anak-anak yang mengidap autisme secara berkelanjutan memiliki kesulitan dalam mengusai bahasa atau bersosialisasi, dan juga umur pada tahap remaja yang dilalui oleh seseorang dapat memperburuk masalah autisme yang dideritanya.

Kebanyakan anak dengan autisme cenderung lambat untuk memahami pengetahuan yang baru atau mendapatkan suatu kemampuluan, dan dalam beberapa kasus anak dengan autisme juga menunjukkan kemampuluan inteligensi yang lebih rendah.

Lainnya, ada juga anak-anak yang mengidap autisme namun memiliki kecerdasan yang normal hingga terhitung tinggi/di atas rata-rata. Anak-anak autisme yang memiliki kecerdasan yang signifikan dapat mempelajari sesuatu secara cepat namun kesulitan untuk berkomunikasi, mengimplemetasikan apa yang mereka ketahui ke dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan diri dalam situasi sosial.

Dalam beberapa kasus, terdapat juga anak – anak dengan autistic savants (autisme yang dianugerahi) yang menunjukan kemampuluan yang luar biasa dalam suatu bidang spesifik seperti musik, seni, atau matematika.

Penyebab & Faktor Risiko

Sejauh ini belum diketahui penyebab dari autisme disebabkan oleh kompleksitas penyakit autisme itu sendiri, jumlah orang yang menderita autisme, dan fakta bahwa diantara pengidap autisme tidak memiliki kesamaan. Namun ada beberapa gejala yang dapat ditelaah antara lain : 

  • Genetika yang bermasalah. Ada sejumlah gen yang dikaitkan dengan autisme. Ada gen yang mengkondisikan anak lebih mudah untuk mengidap autis, ada juga sejumlah gen yang mempengaruhi perkembangan pada otak atau komunikasi yang terjadi di antara sel – sel otak. Faktor gen juga mempengaruhi tingkat kepelikan dari tAnda atau gejala autisme. Setiap gen yang bermasalah dapat dinilai sebagai suatu masalah yang cukup substantif mengingat problema genetika dapat diwariskan atau dalam beberapa kasus juga dapat terjadi secara tiba – tiba.
  • Faktor lingkungan. Banyak masalah kesehatan, salah satunya autisme, yang terjadi dikarenakan faktor genetic dan juga lingkungan. Para peneliti saat ini berusaha untuk mengkaji apakah infeksi virus dan polusi udara, misalnya, berpengaruh untuk memicu autisme.

 Tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme Salah satu kontroversi pada autisme terletak pada usaha untuk menyimpulkan apakah terdapat hubungan antara autisme dan vaksin yang diberikan kepada anak, terutamanya vaksin MMR (mumps/gondongan-measles/campulak-rubella). Sejauh ini tidak ada studi yang menyatakan adanya hubungan antara autisme dan vaksinasi MMR. Satu penelitian dilakukan pada tahun 1998 menyatakan bahwa teori yang menjelaskan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme telah ditarik dan dihilangkan dikarenakan tidak adanya bukti yang cukup untuk mendukung kebenaran dari teori tersebut. 

Tentunya menghindari pemberian aksi kepada anak dapat mengkondisikan Anda untuk mengidap sejumlah penyakit yang serius seperti batuk rejan (pertusis), campulak, atau gondongan (mumps)

 Faktor Risiko

Autisme diderita oleh anak-anak dari seluruh ras dan kebangsaan, namun ada beberapa faktor yang mampulu meningkatkan resiko anak untuk mengidap autisme. Faktor tersebut antara lain :

  • Jenis Kelamin anak. Laki-laki memiliki kemungkinan tiga sampai empat kali lebih tinggi untuk mengidap autisme dibandingkan perempuan.
  • Sejarah keseatan keluarga. Keluarga yang memiliki satu anak yang mengidap autisme, memiliki risiko yang lebih tinggi untuk memilki anak yang lain yang mengidap penyakit yang sama. Seringkali orang tua atau sanak saudara dari anak yang mengidap autisme juga memiliki kesulitan minor dalam bersosialisasi dan berkomunikasi.
  • Penyakit lain. Anak dengan kondisi medis tertentu mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengidap autisme. Kondisi ini menyertakan sindrom fragile X dimana penyakit yang diwariskan menyebabkan masalah pada intelektualitas; tuberous sclerosis, kondisi dimana tumor jinak berkembang di otak; penyakit neourologis seperti sindrom tourette; dan epilepsi yang menyebabkan kejang-kejang.
  • Umur dari orang tua. Memiliki ayah yang lebih tua (≥40 tahun) dapat meningkatkan risiko bagi anak untuk mengidap autisme. Mungkin juga terdapat hubungan antara anak yang dilahirkan oleh ibu yang berusia tua dengan autisme, tentunya teori ini membutuhkan verifikasi dari penelitian yang dilakukan lebih sering dan mendalam. 

Kapan Harus ke Dokter ?

Bayi tumbuh dan berkembang dalam fasenya tersendiri, dan banyak kasus dimana bayi tidak tumbuh berkembang yang tidak mengikuti jenjang waktu yang dijelaskan dalam kebanyakan buku pengasuhan. Namun anak dengan autisme menunjukkan adanya penundaan perkembangan dari 18 bulan semenjak kelahiran.

Jika Anda berpikir bahwa anak mengidap autisme, diskusikan kekhawatiran tersebut dengan dokter. Semakin dini memulai perawatan, maka semakin efektif hasil yang diciptakan dari proses perawatan.

Dokter dapat merekomendasikan tes medis yang berkelanjutan apabila Anda:

·       Anak tidak berceloteh atau bergumam dari 12 bulan sejak kelahiran.

·       Tidak menunjukan gerakan – seperti menujuk – dari 12 bulan semenjak kelahiran.

·       Tidak mengukapsulkan satu kata pun dari 16 bulan semenjak kelahiran.

·       Tidak mengukapsulkan kata yang memiliki dua frase dari 24 bulan semenjak kelahiran.

·       Kehilangan kemampuluan berbicara atau bersosialisasi pada umur berapa pun.

Gaya Hidup & Perawatan di Rumah

Pengobatan Alternatif

Mengingat autisme merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, banyak orang tua yang mencari solusi melalui terapi alternatif. Meskipun telah terdapat sejumlah keluarga yang menyatakan bahwa terapi alternatif – layaknya diet khusus untuk anak atau pendekatan lainya – memberikan hasil yang baik dan efektif, para peneliti belum mampulu menyimpulkan seberapa signifikan manfaat yang diberikan oleh terapi alternatif terhadap perbaikan kondisi pengidap autisme. Terapi alternatif yang paling umum dilakukan antara lain:

  • Terapi kreatif. Ada orang tua yang memilih untuk menambahkan terapi – diluar medis dan edukasi – dengan melibatkan anaknya untuk mengikuti terapi yang diaktualisasikan melalui seni, musik, atau sensory integration theraphy yang bertujuan untuk mengurangi sensitivitas anak terhadap suara dan sentuhan.  
  • Diet khusus. Ada beberapa strategi diet yang direkomendasikan untuk anak yang mengidap autisme, seperti dengan larangan anak untuk mengkonsumsi sejumlah makanan anak yang dapat menyebabkan alergi. Orang tua yang memiliki anak dengan autisme direkomendasikan untuk memberikan makanan tertentu kepada anaknya seperti makanan yang mengandung probiotik atau makanan yang tidak mengandung ragi/gluten/kasein. Ada pun sejumlah suplemen yang direkomendasikan seperti suplemen yang mengandung vitamin A, vitamin C, Vitamin B-6, magnesium, asam folat, vitamin B-12, dan asam lemak omega 3. Salah satu diet yang popular ialah mengeliminasi makanan yang mengandung gluten – protein yang paling sering ditemukan pada biji – bijian, termasuk gandum – dan juga kasein (protein pada susu), tetapi dibutuhkan lebih banyak penelitian yang mendalam untuk menyimpulkan apakah memang diet mampulu memberikan efek yang konstruktif didalam mencegah atau meredam gejala dan tAnda autisme. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai diet khusus, Anda dapat menghubungi ahli diet/ahli gizi yang memiliki keahlian yang mendalam mengenai autisme.
  • Terapi khelasi. Perawatan ini ditujukan untuk menghilangkan merkuri dan elemen metal yang terdapat dalam tubuh. Namun begitu, sejauh ini tidak diketahui apakah terdapat hubungan antara kandungan merkuri dengan autisme, dan perlu disadari bahwa terapi khelasi sangatlah berbahaya. Terapi khelasi dapat menyebabkan gagal ginjal dan dilaporkan bahwa sejumlah orang yang mengikut terapi khelasi meninggal.

 Menanggulangi Autisme

Membesarkan anak yang mengidap autisme dapat sangat melelahkan dan menantang, baik secara jasmani maupun rohani. Ada beberapa inisiatif yang dapat membantu Anda antara lain:

  • Berhubungan dengan pihak yang ahli. Anda perlu untuk membuat keputusan yang krusial dan tidak sembarangan mengenai pendidikan dan perawatan untuk anak. Hubungilah sejumlah pihak atau kelompok dari guru dan terapis yang dapat membantu untuk menemukan sejumlah pilihan, solusi, atau alternatif yang dapat diimplementasikan untuk anak yang berkebutuhan khusus. Pastikan anggota dari tim ahli salah satunya ialah koordinator jasa, yang dapat membantu untuk mengakses kemudahan finansial dan terlibat dalam progam pemerintah yang mengusung tentang autisme.
  • Luangkan waktu untuk diri sendiri dan anggota keluarga yang lain. Merawat dan membesarkan anak yang mengidap autisme dapat menjadi pekerjaan yang lelah dan menantang, dan dapat membuat Anda dan seluruh keluarga stres atas kondisi yang harus dihadapi setiap harinya. Untuk menghindari kelelahan dan stres yang berlebihan, sediakanlah waktu untuk santai, berolah raga, atau menikmati aktivitas favorit. Coba jadwalkan waktu personal antara Anda dengan anak yang lain dan juga jadwalkan waktu kencan bersama suami – meskipun hanya sekadar menonton film ke bioskop setelah menidurkan anak – anak.
  • Carilah keluarga lain yang juga memiliki anak dengan autisme.  Keluarga yang menghadapi situasi dan kondisi yang sama biasanya mampulu memberikan nasihat atau informasi yang berguna.  Banyak komunitas yang mendukung dan bersedia membantu orang tua atau sanak saudara dari anak yang mengidap autisme.
  • Pelajari tentang penyakit autisme. Begitu banyak mitos dan kesalahpahaman mengenai autisme. Penting bagi Anda untuk mempelejari informasi yang akurat guna memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai autisme dan memperoleh kemampuluan untuk berkomunikasi dengan anak. Seiring berjalanya waktu, Anda akan menyadari bahwa usaha itu tidak sia-sia, Anda akan melihat adanya kemajuan pada.

Pencegahan

Tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah autisme. Namun begitu autisme dapat ditanggulangi, dan melalui perawatan anak  mengidap autisme dapat mengalami kemajuan dengan kemampuluan bahasa dan sosialnya. Jika anak Anda didiagnosa autis, maka konsultasikanlah kondisi tersebut kepada dokter anak dan ciptakanlah strategi – strategi perawatan untuk anak. Perlu Anda camkan kepada diri sendiri perlunya mencoba berbagai perawatan yang berbeda untuk mampulu menemukan kombinasi terapi yang terbaik untuk anak.

Komentar