Atinggola

By | Februari 10, 2021 |

Apa Kandungan dan Komposisi Atinggola?

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Atinggola adalah:

Tiap 1 gram mengandung:

  • Hydroquinone 40 mg
  • Tretinoin 0.5 mg
  • Fluocinolone acetonide 0.1 mg

Sekilas Tentang Tretinoin Pada Atinggola
Tretinoin atau yang dikenal juga dengan nama all-trans-retinoic acid (ATRA) adalah suatu produk turunan dari vitamin A (retinol). Tretinoin memiliki kemampuan mengatur reproduksi, proliferasi, dan diferensiasi sel. Obat ini digunakan dalam terapi pengobatan jerawat dan APL (acute promyelocytic leukemia) yakni suatu kanker pada sel darah putih. Untuk pengobatan jerawat, obat ini biasa diberikan dalam bentuk krim atau lotion, sedangkan untuk pengobatan kanker sel darah putih, ia bisa diberikan melalui oral hingga jangka waktu tiga bulan.

Cara kerja tretinoin dalam mengobati jerawat belum sepenuhnya dipahami, namun zat ini dapat menurunkan kemampuan sel spitel pada folikel rambut di kulit untuk melekat satu sama lain sehingga menyebabkan berkurangnya pembentukan komedo karena hal itu membuat suatu mekanisme yang menyebabkan komedo tertekan keluar. Komedo terbentuk di dalam folikel pada kulit wajah yang memiliki kelebihan sel epitel keratin berlebih. Tretinoin meningkatkan pelepasan korneosit dari folikel sehingga memicu aktivitas mitosis epitel folikular dan meningkatkan laju pergantian korneosit tipis yang tidak melekat. Akibatnya pembentukan komedo berkurang. Komedo merupakan salah satu penyebab munculnya jerawat.

Mekanisme tretinoin dalam melawan sel kanker darah putih juga belum diketahui sepenuhnya. Namun berdasarkan pengamatan di laboratorium, peneliti menemukan bahwa tretinoin memaksa sel APL untuk melakukan diferensiasi dan menghentikan sel tersebut untuk berkembang biak, sehingga menyebabkan promielosit kanker primer juga berdiferensiasi menjadi bentuk akhir. Pada akhirnya memungkinkan sel-sel normal untuk mengambil alih susunan sumsum tulang.

Efek samping yang mungkin dapat terjadi setelah penggunaan tretinoin meliputi kesulitan bernapas (napas pendek), sakit kepala, depresi, kulit kering, gatal, rambut rontok, muntah, nyeri otot, gangguan pengelihatan, dan mati rasa. Efek samping yang parah seperti tingginya jumlah sel darah putih, dan terjadinya bekuan darah. Jika digunakan secara topikal, maka pada kulit yang sensitif dapat terjadi kemerahan, kulit mengelupas, dan sensitif terhadap sinar matahari. Penggunaan pada wanita hamil tidak disarankan karena dapat menyebabkan risiko bayi lahir cacat dan oleh FDA tingkat keamanannya untuk digunakan oleh wanita hamil dimasukkan dalam kategori D.

Tretinoin pertama kali dikembangkan oleh James Fulton dan Albert Kligman di Universitas Pennsylvania pada akhir tahun 1960an.

Sekilas Tentang Hydroquinone Pada Atinggola
Banyak produk perawatan kulit yang mengandung hydroquinone namun apakah sebenarnya hydroquinone itu?

Hydroquinone adalah suatu zat yang bermanfaat untuk mencerahkan atau memutihkan kulit. Badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat, FDA, menyatakan bahwa hydroquinone aman untuk digunakan. Cara kerja hydroquinone adalah dengan mengurangi produksi melanosit dimana melanosit ini berperan dalam pembentukan melanin, zat yang mempengaruhi warna kulit. Zat ini akan berfungsi dengan penggunaan setidaknya selama empat minggu secara konsisten, setelah itu baru kemudian dapat dilihat hasilnya.

Hydroquinone bermanfaat untuk mengatasi berbagai macam kondisi hiperpigmentasi kulit seperti bekas luka jerawat, tanda-tanda penuaan, melasma, bekas paska peradangan (akibat eksim, psoriasis), bintik atau noda hitam pada kulit, dan sebagainya.

Umumnya hydroquinone aman untuk digunakan, namun terkadang ada beberapa orang yang hipersensitif pada zat ini atau memiliki kondisi kulit kering yang mungkin akan menyebabkan iritasi jika menggunakan zat ini. Hentikan penggunaan jika terjadi iritasi dan konsultasikan pada dokter.
Sekilas Tentang Fluocinolone Acetonide Pada Atinggola
Fluocinolone acetonide adalah suatu zat kortikosteroid yang biasa digunakan dalam dunia dermatologi untuk mengatasi inflamasi kulit dan meredakan rasa gatal. Obat ini adalah turunan dari hydrocortisone. Obat ini pertama kali disintesa pada 1959 oleh Syntex Laboratories, Amerika Serikat, dan dipasarkan pertama kali dengan merek Synalar.

Fluocinolone acetonide dapat tersedia dalam berbagai bentuk dan kemasan seperti pada produk shampo, lotion, cream, body oil, dan lain-lain. Efek samping yang mungkin dapat terjadi akibat penggunaan fluocinolone acetonide seperti hipersensitif, ruam, iritasi, muncul stretch mark, jerawat, dan kulit kering.

Apa Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Atinggola?

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Atinggola adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Obat ini diindikasikan untuk pengobatan jangka pendek pada melasma wajah sedang sampai parah. Penggunaanya sebaiknya disertai dengan menghindari paparan sinar matahari, dan sebaiknya juga menggunakan tabir surya selama pengobatan.

Cara Kerja Obat

  • Hydroquinone adalah obat yang digunakan untuk pengobatan jangka pendek kondisi hiperpigmentasi seperti chloasma, melasma, bintik-bintik, dan area hiperpigmentasi melanin lainnya. Aplikasi topikal obat Hydroquinone menghasilkan depigmentasi reversibel pada kulit dengan cara menghambat oksidasi enzimatik tirosin menjadi 3,4-dihidroksifenilalanin (dopa) dan menekan proses metabolisme melanosit lainnya
  • Tretinoin diklasifikasikan secara terapeutik sebagai keratolitik. Tretinoin paling sering digunakan untuk mengobati jerawat. Obat ini juga digunakan off-label untuk mengobati dan mengurangi munculnya stretch mark dengan meningkatkan produksi kolagen kulit
  • Fluocinolone acetonide adalah obat kortikosteroid sintetis derivat hidrokortison. Obat ini umumnya digunakan untuk mengurangi peradangan dan mengurangi rasa gatal pada kulit

Apa Saja Kontraindikasi Atinggola?

Kontraindikasi merupakan suatu petunjuk mengenai kondisi-kondisi dimana penggunaan obat tersebut tidak tepat atau tidak dikehendaki dan kemungkinan berpotensi membahayakan jika diberikan. Pemberian Atinggola dikontraindikasikan pada kondisi-kondisi berikut ini:

Jangan menggunakan Atinggola cream untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif/alergi obat Hydroquinone, Tretinoin, Fluocinolone acetonide.
Keamanan penggunaan obat ini untuk ibu hamil atau untuk anak-anak (12 tahun ke bawah) belum diketahui. Sebaiknya dihindari.

Obat-obat kortikosteroid sebaiknya tidak digunakan untuk penderita herpes simplex, varicella, TB kulit, dan dermatitis yang disebabkan oleh sifilis, karena obat-obat kortikosteroid bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Atinggola Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Atinggola?

Jika Anda lupa menggunakan Atinggola, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Atinggola Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Atinggola?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Atinggola yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Apa Efek Samping Atinggola?

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Atinggola yang mungkin terjadi adalah:

  • Efek samping yang umum adalah iritasi dan sensitisasi (misalnya kulit kemerahan, mengelupas, kulit terbakar, dermatitis alergi, atau tersengat)
  • Efek samping lainnya misalnya eritema transien, dan kulit kering
  • Penggunaan berlebihan dan jangka panjang bisa menyebabkan ochronosis dan koloid milium

Apa saja Peringatan Penggunaan Atinggola?

  • Sebelum digunakan, lakukan tes sensitivitas kulit. Oleskan cream tipis-tipis dan lihat efeknya selama 24 jam. Jika tidak terjadi reaksi hipersensitivitas, pengobatan bisa dilanjutkan. Jangan digunakan jika terjadi reaksi hipersensitivitas seperti gatal, pembentukan vesikel, dan reaksi radang
  • Atinggola cream adalah produk obat kombinasi yang mengandung kortikosteroid, retinoid dan depigmenting, yang tidak diindikasikan untuk penggunaan jangka panjang/pemeliharaan melasma. Setelah penggunaan obat ini memberikan hasil yang diinginkan, untuk pemeliharaan sebaiknya ditangani dengan pengobatan lain
  • Karena melasma biasanya berulang saat pengobatan dihentikan, hindari paparan sinar matahari, gunakan tabir surya SPF 30 atau lebih, pakai pakaian pelindung dan ganti produk kontrasepsi dengan produk non-hormonal
  • Obat ini tidak boleh digunakan di dekat area mata, mulut atau membran mukosa lainnya, luka terbuka atau untuk anak di bawah usia 12 tahun
  • Penggunaan pada area kulit yang luas dalam waktu lama bisa meningkatkan absorpsi obat ke dalam darah yang menyebabkan potensi terjadinya efek samping
  • Tidak dianjurkan menggunakan obat ini untuk ibu hamil.
    Sebaiknya tidak digunakan untuk ibu menyusui
  • Obat ini tidak ditujukan untuk mencegah kulit terbakar oleh sinar matahari
  • Keamanan penggunaan obat ini pada lansia belum diketahui
  • Gunakan obat ini hanya pada area hiperpigmentasi. Jangan berlebihan
  • Hentikan penggunaan obat jika terjadi iritasi
  • Keamanan dan khasiat obat ini dalam pengobatan kondisi hiperpigmentasi, selain melasma pada wajah belum diteliti
  • Atinggola cream bisa menyebabkan kulit kering, gunakan pelembab kulit pada pagi hari setelah kulit dibersihkan dari obat

Bagaimana Kategori Keamanan Penggunaan Atinggola Pada Wanita Hamil?

Kategori keamanan penggunaan obat untuk wanita hamil atau pregnancy category merupakan suatu kategori mengenai tingkat keamanan obat untuk digunakan selama periode kehamilan apakah memengaruhi janin atau tidak. Kategori ini tidak termasuk tingkat keamanan obat untuk digunakan oleh wanita menyusui.

FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan tingkat keamanan obat untuk wanita hamil menjadi 6 (enam) kategori yaitu A, B, C, D, X, dan N. Anda bisa membaca definisi dari setiap kategori tersebut di sini. Berikut ini kategori tingkat keamanan penggunaan Atinggola untuk digunakan oleh wanita hamil:

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) mengkategorikan Hydroquinone kedalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Atinggola cream mengandung obat tretinoin yang dikategorikan sebagai teratogen, yaitu berisiko tinggi menyebabkan kematian embrio-janin, mengganggu pertumbuhan janin, malformasi kongenital, dan defisit neurologis.

Karena belum ada penelitian yang memadai pada ibu hamil ditambah adanya risiko yang disebabkan oleh tretinoin, penggunaan Atinggola cream untuk ibu hamil hanya bisa dilakukan bila benar-benar dibutuhkan atau tidak ada pilihan lain.

Apa Saja Interaksi Obat Atinggola?

Interaksi obat merupakan suatu perubahan aksi atau efek obat sebagai akibat dari penggunaan atau pemberian bersamaan dengan obat lain, suplemen, makanan, minuman, atau zat lainnya. Interaksi obat Atinggola antara lain:

  • Penggunaan bersamaan dengan produk yang mengandung peroksida menyebabkan noda hitam yang tidak permanen pada area kulit yang diobati
  • Sebaiknya tidak menggunakan sabun/cleanser yang bersifat abrasive, krim atau lotion yang memiliki efek pengeringan yang kuat, mengandung alkohol, astringen, rempah-rempah, jeruk nipis, sulfur, resorsinol, atau aspirin, karena dapat berinteraksi dengan tretinoin atau memperparah efek sampingnya
  • Hati-hati menggunakan obat ini bersamaan dengan obat lain yang bersifat fotosensitisasi (membuat kulit lebih peka terhadap paparan cahaya)

Sekilas tentang kulit
Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang memiliki luasnya sekitar 2 m2 dengan ketebalan rata-rata 1-2 mm. Kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis dan hipodermis atau subkutis.

Sebagai organ yang sangat penting bagi kelangsungan hidup, kulit memiliki fungsi menutupi dan melindungi organ-organ dibawahnya, mencegah infeksi, mengatur suhu tubuh, mengekskresi zat buangan, mensintesis vitamin D, dan menjadi sensor peraba.

Berapa Dosis dan Bagaimana Aturan Pakai Atinggola?

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Atinggola:

  • Oleskan cream ini 1 x sehari pada malam hari (setidaknya 30 menit sebelum tidur)
  • Umumnya efek terapeutik dapat diamati setelah 4 minggu. Jika dalam 2 bulan tidak memberikan hasil sebaiknya pengobatan dihentikan

Cara Penggunaan

  • Bersihkan area kulit yang mengalami hiperpigmentasi sebelum menggunakan cream ini
  • Oleskan cream ini tipis-tipis, tidak berlebihan
  • Setelah cream digunakan, jangan ditutup rapat karena bisa menyebabkan penetrasi obat ke dalam kulit secara berlebihan yang mengakibatkan sensasi seperti terbakar, rasa gatal, iritasi, kulit kering dan infeksi sekunder
  • Untuk menghindari terjadinya repigmentasi, gunakan tabir surya SPF 30 atau lebih pada siang hari dan pakai pakaian pelindung misalnya topi

Bagaimana Kemasan dan Sediaan Atinggola?

Dus @ 1 tube @ 30 g, krim

Berapa Nomor Izin BPOM Atinggola?

Setiap produk obat, suplemen, makanan, dan minuman yang beredar di Indonesia harus mendapatkan izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yaitu suatu Badan Negara yang memiliki fungsi melakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana produksi, melakukan pengambilan contoh produk, melakukan pengujian produk, dan memberikan sertifikasi terhadap produk. BPOM juga melakukan pengawasan terhadap produk sebelum dan selama beredar, serta memberikan sanksi administratif seperti dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dicabut izin edar, disita untuk dimusnahkan, bagi pihak yang melakukan pelanggaran. Berikut adalah izin edar dari BPOM yang dikeluarkan untuk produk Atinggola:

DKL1209502329A1

Apa Nama Perusahaan Produsen Atinggola?

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Atinggola:

Molex Ayus

Pendaftar

Imedco Farma

Sekilas Tentang Molex Ayus
PT Molex Ayus adalah perusahaan farmasi yang berdiri pada 1985. Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1987, perusahaan ini mendapatkan izin produksi obat dari Menteri Kesehatan. Kala itu bentuk sediaan yang diproduksi adalah sediaan liquid dan proses produksi masih dilakukan bersama dengan PT Pharmac Apex. Pada tahun 1992, dewan komisaris dan pemegang saham dijabat oleh Ismet Djamal Tahir dan Drs. Tryana Syamun.

PT Molex Ayus telah mendapatkan sertifikat CPOB pada 1994 untuk beberapa bentuk sediaan dan jenis obat seperti tablet non antibiotik, cairan obat luar non antibiotik, salep/krim antibiotik non beta laktam, kapsul keras non antibiotik, dan lain-lain. Jenis obat yang diproduksi meliputi analgesik, antipiretik, antihistamin, antitusif, anti diare, obat batuk, anti rematik, obat luka, obat kumur, alkohol, suplemen, vitamin dan mineral, dan sebagainya. Selain memproduksi dan menjual produk obat, perusahaan ini juga menjual alat-alat kesehatan dan medis.

Untuk memasarkan distribusi produknya, PT Molex Ayus mempercayakan pada PT Kebayoran Pharma, PT Mensa Bina Sukses, dan PT Merapi Utama Pharma. Untuk produk peralatan kesehatan, proses distribusi dilakukan oleh PT Charisma Metco.

Pabrik PT Molex Ayus ada di Tangerang, Banten dengan kantor pusat di Jalan Ir. H. Juanda No. 5 C, Jakarta Pusat.
Komentar

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *