Ambrisentan

Farmasi-id.com > Sistem Kardiovaskular & Hematopoietik > Antihipertensi Golongan Lain > Ambrisentan

By | 28/05/2019

Indikasi

Ambrisentan merupakan obat yang digunakan untuk terapi perawatan tekanan darah tinggi pada paru-paru (pulmonary arterial hypertension) yang disebabkan oleh peningkatan kadar substansi alami endothelin-1. Obat ini bekerja dengan memblok efek dari endothelin-1 yang pada akhirnya dapat menurunkan tekanan darah di paru-paru dan mengurangi atau menurunkan gejalanya.

Kontra Indikasi

Ambrisentan dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami fibrosis paru idiopatik, gangguan hati parah atau mengalami peningkatan aminotransferase secara signifikan lebih dari tiga kali di atas batas normal. Wanita hamil dan menyusui sebaiknya tidak menggunakan ambrisentan.

Peringatan dan Perhatian

  • Sebelum menggunakan ambrisentan beritahu dokter jika pasien memiliki riwayat alergi terhadapnya atau pada obat endothelin receptor blocker lainnya seperti bosentan. Beritahu dokter jika pasien memiliki riwayat alergi terhadap kandungan nonaktif lainnya yang ada dalam ambrisentan;
  • Sebelum menggunakan obat ini, beritahu dokter jika pasien memiliki riwayat penyakit hati dan kondisi paru tertentu seperti fibrosis.
  • Beritahu dokter bila pasien memiliki riwayat anemia;
  • Pada orang lanjut usia kemungkinan akan lebih tinggi mengalami risiko pembengkakan pergelangan kaki saat menggunakan obat ini;
  • Obat ini tidak boleh digunakan oleh wanita hamil sebab berisiko pada janinnya. Jika pasien sedang merencanakan kehamilan, maka sebelum hamil pastikan ia berkonsultasi dengan dokter. Sebelum memulai pengobatan dengan ambrisentan pastikan hasil tes kehamilan menunjukkan hasil negatif;
  • Tidak diketahui dengan pasti apakah ambrisentan dieksresikan dalam ASI, namun wanita menyusui sebaiknya tidak menggunakan obat ini;
  • Obat ini dapat menyebabkan pusing, asthenia, hipotensi, dan kelelahan. Hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin selama mengunakan ambrisentan.

Efek Samping

  • Efek samping yang dapat terjadi akibat penggunaan ambrisentan meliputi hidung tersumbat, gejala menyerupai pilek, dispnea, nasofaringitis, epistaksis, sinusitis, rinitis, detak jantung terasa cepat, kelelahan, bengkak pada pergelangan kaki, peningkatan berat badan secara tiba-tiba;
  • Gejala penyakit hati seperti mual atau muntah terus menerus, kehilangan nafsu makan, terasa sakit pada perut, warna urin menjadi gelap, mata atau kulit menguning dan sebagainya;
  • Penurunan produksi sperma dan gangguan kesuburan pada pria;
  • Reaksi alergi seperti ruam, gatal atau bengkak terutama pada wajah, lidah, dan tenggorokan;
  • Pusing dan kesulitan bernapas;
  • Diare, sembelit, sakit perut.

Interaksi Obat

  • Peningkatan paparan dengan ciclosporin;
  • Rifampicin dapat meningkatkan paparan ambrisentan;
  • 1-benzylimidazole dapat menurunkan keefektifan ambrisentan;
  • Penggunaan ambrisentan dapat menurunkan metabolisme warfarin.

Kategori Keamanan Penggunaan Pada Wanita Hamil (Menurut FDA)

Kategori X: Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin berdasarkan pengalaman pada manusia ataupun manusia dan binatang percobaan, dan risiko penggunaan obat pada wanita hamil jelas-jelas melebihi manfaat yang mungkin diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil.

Dosis

Dewasa:

Dosis awal 5 mg sehari, dapat ditingkatkan hingga 10 mg sekali sehari.

Pemberian Obat

Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Telan utuh tablet, jangan dibagi atau dihancurkan.

Penyimpanan

Simpan pada suhu 15°-30°C.

Sediaan

Tablet kekuatan 5 mg dan 10 mg.

Nama Brand

Letairis, Volibris, Pulmonext.

Sekilas tentang darah tinggi/hipertensi

Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih.

Hipertensi terbagi menjadi hipertensi primer (esensial) atau hipertensi sekunder. Sekitar 90–95% kasus tergolong "hipertensi primer", yang berarti tekanan darah tinggi tanpa penyebab medis yang jelas. Kondisi lain yang mempengaruhi ginjal, arteri, jantung, atau sistem endokrin menyebabkan 5-10% kasus lainnya (hipertensi sekunder).

Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk stroke, infark miokard (serangan jantung), gagal jantung, aneurisma arteri (misalnya aneurisma aorta), penyakit arteri perifer, dan penyebab penyakit ginjal kronik. Bahkan peningkatan sedang tekanan darah arteri terkait dengan harapan hidup yang lebih pendek. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki kontrol tekanan darah dan mengurangi risiko terkait komplikasi kesehatan. Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan pada sebagian orang bila perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup dan biasanya obat harus diminum seumur hidup sampai dokter memutuskan tidak perlu lagi minum obat.

Seseorang yang pernah mengalami tekanan darah tinggi, pada kondisi normal dapat saja mengalami tekanan darah kembali dan ini yang harus diwaspadai, banyak kasus stroke terjadi pada saat seseorang lepas obat. Dan banyak orang tidak menyangka bahwa seseorang yang biasanya mengalami tekanan darah rendah suatu kali dapat juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu pengontrolan tekanan darah secara rutin mutlak dilakukan.