Aluvia

By | Desember 1, 2020 | Farmasi-id.com > Antiinfeksi (Sistemik) > Antivirus > Aluvia

Kandungan dan Komposisi Aluvia

Kandungan dan komposisi produk obat maupun suplemen dibedakan menjadi dua jenis yaitu kandungan aktif dan kandungan tidak aktif. Kandungan aktif adalah zat yang dapat menimbulkan aktivitas farmakologis atau efek langsung dalam diagnosis, pengobatan, terapi, pencegahan penyakit atau untuk memengaruhi struktur atau fungsi dari tubuh manusia.

Jenis yang kedua adalah kandungan tidak aktif atau disebut juga sebagai eksipien. Kandungan tidak aktif ini fungsinya sebagai media atau agen transportasi untuk mengantar atau mempermudah kandungan aktif untuk bekerja. Kandungan tidak aktif tidak akan menambah atau meningkatkan efek terapeutik dari kandungan aktif. Beberapa contoh dari kandungan tidak aktif ini antara lain zat pengikat, zat penstabil, zat pengawet, zat pemberi warna, dan zat pemberi rasa. Kandungan dan komposisi Aluvia adalah:

Per 200 mg/50 mg Lopinavir 200 mg, ritonavir 50 mg. Per 100 mg/25 mg Lopinavir 100 mg, ritonavir 25 mg.

Indikasi, Manfaat, dan Kegunaan Aluvia

Indikasi merupakan petunjuk mengenai kondisi medis yang memerlukan efek terapi dari suatu produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) atau kegunaan dari suatu produk kesehatan untuk suatu kondisi medis tertentu. Aluvia adalah suatu produk kesehatan yang diindikasikan untuk:

Terapi lini ke-2 untuk infeksi HIV, dikombinasi dengan obat antiretroviral lain.

Sekilas Tentang Obat Antivirus
Antivirus merupakan zat yang digunakan untuk membasmi, menghambat pertumbuhan virus. Virus adalah parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat, hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.

Istilah virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), sementara istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).

Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas jika tidak berada dalam sel inang. Karena karakteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau/TMV).

Dosis dan Aturan Pakai Aluvia

Dosis adalah takaran yang dinyatakan dalam satuan bobot maupun volume (contoh: mg, gr) produk kesehatan (obat, suplemen, dan lain-lain) yang harus digunakan untuk suatu kondisi medis tertentu serta frekuensi pemberiannya. Biasanya kekuatan dosis ini tergantung pada kondisi medis, usia, dan berat badan seseorang. Aturan pakai mengacu pada bagaimana produk kesehatan tersebut digunakan atau dikonsumsi. Berikut ini dosis dan aturan pakai Aluvia:

Dws: Pasien yang blm pernah diterapi sebelumnya Lopinavir 400 mg/ritonavir 100 mg (2 tablet 200/50 mg) 2 x/hari atau lopinavir 800 mg/ritonavir 200 mg (4 tablet 200/50 mg) 1 x/hari. Pasien yang sdh pernah diterapi Lopinavir 400 mg/ritonavir 100 mg 2 x/hari. Penggunaan bersama dengan efavirenz, nevirapine, ampulrenavir atau nelfinavir Dosis dapat ditingkatkan hingga lopinavir 500 mg/ritonavir 125 mg (2 tablet 200/50 mg & 1 tablet 100/25 mg) 2 x/hari. 100/25 mg Anak Luas permukaan badan ≥1.4 m2 4 tab, 0.9 to 35 kg 4 tablet (dpt digunakan 2 tab, 200/50 mg tab); >25 to 35 kg 3 tab; 15-25 kg 2 tab. Penggunaan bersama dengan efavirenz, nevirapine, nelfinavir, atau ampulrenavir Berdasarkan Luas permukaan badan ≥1.7 m2 5 tab, ≥1.2 to 45 kg 5 tab, >30 kg-45 kg 4 tablet (may use 2 tab, 200/50 mg tab), >20-30 kg 3 tab, 15-20 kg 2 tab. Semua dosis diberikan 2 x/hari.

Kontra Indikasi

Hipersensitif; insufisiensi hati berat. Pemberian bersama dengan midazolam, triazolam, ergotamin, dihidroergotamin, ergonovin, metilergonovin, pimozid, sisaprid, astemizol, terfenadin; St. John’s wort; rifampisin.

Perhatian

DM/hiperglikemia. Pankreatitis. Gangguan hati. Resistensi/resistensi silang. Hemofilia. Redistribusi lemak; peningkatan lipid. Sindrom rekonstitusi imun; penyakit hati. Osteonekrosis. Laktasi. Anak, lanjut usia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Aman Menggunakan Aluvia Saat Mengemudi atau Mengoperasikan Mesin?

Jika Anda mengalami gejala efek samping seperti mengantuk, pusing, gangguan penglihatan, gangguan pernapasan, jantung berdebar, dan lain-lain setelah menggunakan , yang dapat mempengaruhi kesadaran atau kemampuan dalam mengemudi maupun mengoperasikan mesin, maka sebaiknya Anda menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas tersebut selama penggunaan dan konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana Jika Saya Lupa Menggunakan Aluvia?

Jika Anda lupa menggunakan Aluvia, segera gunakan jika waktunya belum lama terlewat, namun jika sudah lama terlewat dan mendekati waktu penggunaan berikutnya, maka gunakan seperti dosis biasa dan lewati dosis yang sudah terlewat, jangan menggandakan dosis untuk mengganti dosis yang terlewat. Pastikan Anda mencatat atau menyalakan pengingat untuk mengingatkan Anda mengenai waktu penggunaan obat agar tidak terlewat kembali.

Apakah Saya Dapat Menghentikan Penggunaan Aluvia Sewaktu-waktu?

Beberapa obat harus digunakan sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Jangan melebih atau mengurangi dosis obat yang diberikan oleh dokter secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat seperti antibiotik, antivirus, antijamur, dan sebagainya harus digunakan sesuai petunjuk dokter untuk mencegah resistensi dari bakteri, virus, maupun jamur terhadap obat tersebut. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter, karena beberapa obat memiliki efek penarikan jika penghentian dilakukan secara mendadak. Konsultasikan dengan dokter mengenai hal ini.

Bagaimana Cara Penyimpanan Aluvia?

Setiap obat memiliki cara penyimpanan yang berbeda-beda, cara penyimpanan dapat Anda ketahui melalui kemasan obat. Pastikan Anda menyimpan obat pada tempat tertutup, jauhkan dari panas maupun kelembapan. Jauhkan juga dari paparan sinar Matahari, jangkauan anak-anak, dan jangkauan hewan.

Bagaimana Penanganan Aluvia yang Sudah Kedaluwarsa?

Jangan membuang obat kedaluwarsa ke saluran air, tempat penampungan air, maupun toilet, sebab dapat berpotensi mencemari lingkungan. Juga jangan membuangnya langsung ke tempat pembuangan sampah umum, hal tersebut untuk menghindari penyalahgunaan obat. Hubungi Dinas Kesehatan setempat mengenai cara penangangan obat kedaluwarsa.


Efek Samping Aluvia

Efek Samping merupakan suatu efek yang tidak diinginkan dari suatu obat. Efek samping ini dapat bervariasi pada setiap individu tergantung pada pada kondisi penyakit, usia, berat badan, jenis kelamin, etnis, maupun kondisi kesehatan seseorang. Efek samping Aluvia yang mungkin terjadi adalah:

Perut membesar, nyeri abdomen, buang air besar tidak normal, diare, dispepsia, disfagia, kembung, mual, muntah; astenia, nyeri; sakit kepala, insomnia, parestesia; penurunan libido, depresi, gangguan vaskuler; lipodistrofi, ruam kulit; mialgia; bronkitis; hipogonadisme (pada pria); anoreksia, penurunan BB; amenore.

Interaksi Obat

Peningkatan kadar obat yang dimetabolisme oleh CYP3A di dalam plasma. Peningkatan kadar obat yang menghambat CYP3A. Penurunan kadar obat ini jika diberikan bersama dengan obat yang menginduksi CYP3A & rifapisin. Dpt meningatkan secara signifikan kadar flutikason propionat dalam plasma & menurunkan kadar kortisol serum. Meningkatkan hipotensi & memperlama ereksi jika diberikan dengan sildenafil, tadalafil, atau vardenafil. Menurunkan kadar protease inhibitor dalam plasma jika diberikan bersama dengan obat yang mgd St. John’s wort. Dpt meningkatkan potensi terjadinya reaksi serius dr HMG-CoA reductase inhibitor, seperti miopati, termasuk rabdomiolisis. Menurunkan kadar kontrasepsi oral & kontrasepsi tempel (patch contraceptive) .

Kategori Keamanan Penggunaan Aluvia Pada Wanita Hamil

Kategori keamanan penggunaan obat untuk wanita hamil atau pregnancy category merupakan suatu kategori mengenai tingkat keamanan obat untuk digunakan selama periode kehamilan apakah memengaruhi janin atau tidak. Kategori ini tidak termasuk tingkat keamanan obat untuk digunakan oleh wanita menyusui.

FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan tingkat keamanan obat untuk wanita hamil menjadi 6 (enam) kategori yaitu A, B, C, D, X, dan N. Anda bisa membaca definisi dari setiap kategori tersebut di sini. Berikut ini kategori tingkat keamanan penggunaan Aluvia untuk digunakan oleh wanita hamil:

C: Studi pada binatang percobaan telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embroisidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau studi pada wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Kemasan, Sediaan, dan Harga Aluvia

Aluvia FC tablet 200 mg/50 mg
120’s

Produsen Aluvia

Produsen obat (perusahaan farmasi) adalah suatu perusahaan atau badan usaha yang melakukan kegiatan produksi, penelitian, pengembangan produk obat maupun produk farmasi lainnya. Obat yang diproduksi bisa merupakan obat generik maupun obat bermerek. Perusahaan jamu adalah suatu perusahaan yang memproduksi produk jamu yakni suatu bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sari, atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Baik perusahaan farmasi maupun perusahaan jamu harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Setiap perusahaan farmasi harus memenuhi syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), sedangkan perusahaan jamu harus memenuhi syarat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk dapat melakukan kegiatan produksinya agar produk yang dihasilkan dapat terjamin khasiat, keamanan, dan mutunya. Berikut ini nama perusahaan pembuat produk Aluvia:

Abbott


Abbott Laboratories adalah suatu perusahaan farmasi besar yang memiliki kantor pusat di Abbott Park, Illinois, Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan oleh ahli fisika asal Chicago, Dr. Wallace Calvin Abbott. Perusahaan ini selain bergerak dalam bidang farmasi juga bergerak dalam bidang lainnya seperti peralatan medis dan diagnostik, produk nutrisi, alat laboratorium, dan sebagainya. Produk-produk perusahaan ini telah beredar di 130 negara termasuk Indonesia dan jumlah karyawan perusahaan ini diseluruh dunia diperkirakan mencapai 103 ribu orang (per Desember 2018). Saat ini pimpinan Abbott pusat dipimpin oleh Miles D. White yang bertindak sebagai Chairman dan CEO. Ia telah lama bekerja di Abbot sejak tahun 1984.

Abbot diketahui telah banyak melakukan akuisisi terhadap berbagai perusahaan farmasi dan perusahaan lain yang bergerak dibidang kesehatan. Diantaranya adalah Knoll, Kos Pharmaceuticals, TheraSense, STARLIMS, Piramal Healthcare, dan masih banyak lagi.

Seberapa Baik Produk Ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata: 0 / 5. Jumlah pemberi peringkat: 0

Belum ada pemeringkatan, jadilah yang pertama.

Leave a Reply

Email address will not be published. Required fields are marked *